Nur Putri Lianda Semester 5 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Iskanda Mruda 

TamiangNews.com -+ Di era digital ini tekonologi gadget telah menguasai dunia. Gadget membuat orang terus berkembang atau bahkan membuat orang terus dimanjakan oleh teknologi tersebut. Salah satu tekonologi gadget yang sangat digemari oleh manusia zaman now adalah tak lain kalau bukan "smartphone". Kementerian Komunikasi dan Informatika Ahmad M Ramli menyatakan bahwa pada pertengahan tahun 2021, jumlah pengguna smartphone di Indonesia mencapai 167 juta orang atau 89% dari total penduduk Indonesia, jumlah pengguna tersebut pasti akan terus meningkat.


Gadget/Smartphone dapat disebut juga sebagai komputer mini ini di rancang dalam bentuk telepon genggam dan isinya pun serba ada, orang-orang dapat mengakses berbagai macam aplikasi berupa pendidikan dan sosial dengan hanya menggunakan gadget ini tanpa susah membuka komputer. 


Tentu saja tak sedikit dari kalangan para siswa sekolah banyak yang menggunakan gadget sebagai media belajar. Namun menurut sudut pandang, kebanyakan dari siswa salah dalam penggunaanya, apalagi ketika wabah covid-19 sudah mulai meredup. 


Pemerintah sudah membuka pembelajaran tatap muka menggunakan sistem shift sejak Senin, 12 Juli 2021, siswa pun sampai saat ini sudah ketergantungan dengan gadget. Terdapat beberapa dampak negative dari siswa yang menggunakan ponsel pintar ini, yaitu mereka mengabaikan guru dan buku, melakukan tindakan kecurangan, kecanduan dengan hal yang tidak bermanfaat dan berpengaruh buruk bagi kesehatan.


Kondisi yang terjadi pada saat ini  sangat berbeda dengan pada era manual, yang mana dulu siswa terpaku pada guru, buku cetak, koran dan semua yang berbau manual. Saat terjadi pandemi virus covid-19, Ahmad M Ramli selalu guru besar cyber law, hukum kekayaan intelektual dan hukum perdata internasional mengatakan bahwa “Efek sekolah daring menyebabkan usia minimal pengguna medsos di Indonesia turun hingga usia 6 tahun,” . Adanya daring yang mengharuskan mereka untuk belajar online, banyak siswa yang memanfaatkan gadget sebagai media belajar instan dan kecanduan mengandalkannya ketika sudah mulai belajar luring (tatap muka)

 

Tak heran jika dulu perpustakaan selalu penuh dengan siswa yang sangat aktif dalam membaca dan selalu berfikir kreatif dalam berkarya. Siswa lebih percaya ke pada gadget yang mereka miliki, sehingga sudah jarang sekali siswa berinteraksi dengan guru dan malas membaca buku, padahal bertanya kepada guru dan membaca Itu gratis tanpa harus membeli kuota internet. Prestasi akademik mereka menurun yang disebakan oleh mereka tidak mengingat dan sulit menangkap informasi yang diberikan oleh guru pada saat belajar mengajar karena pikiran mereka dialihkan oleh gadget, mereka juga berharap adanya gadget hanya sebatas mencari  dan mengerjakan tugas tanpa mempelajarinya, tidak mengerti bahan pelajaran yang sudah dicari.


Siswa yang tak lepas dari gadget berkesempatan untuk melakukan tindakan kecurangan pada saat proses mengikuti ujian, dengan cara menyontek di sebuah aplikasi pencarian dan bertanya atau membagikan jawaban kepada teman melalui media komunikasi, hal ini lah yang menyebabkan hilangnya rasa percaya diri dan siswa hanya membutuhkan nilai yang tidak sesuai dengan kemampuannya daripada pengetahuan yang didapatkan oleh guru. Jadi, apa yang terjadi di masa depan mereka yang hanya membutuhkan uang daripada skill yang dimiliki.


Kebanyakan siswa yang memiliki benda kecil ini pasti ketagihan karena gadget lah yang mengisi waktu mereka semasa belajar online, ketagihan tersebut bisa berupa hal baik atau buruk. Siswa di izinkan menggunakan gadget hanya untuk mencari informasi yang berhubungan dengan materi pembelajaran tetapi dengan pengawasan orang tua dirumah. Akan tetapi, siswa yang sudah terjerumus ke dalam lubang keburukan akan menghalalkan segala cara supaya melakukan apa saja yang mereka mau.


Hal buruk bermula pada media social yaitu adanya bullying dan kejahatan, games, dan iklan berupa gambar atau video tak seonoh yang lewat sepintas di smartphone, lalu mereka membuka situs pornografi tersebut dan lebih buruknya lagi sampai ketagihan menontonnya karena dipicu oleh hormon dopamin pada otak anak. Gadget ini bisa digunakan sebagai tempat untuk membagikan gambar yang tidak pantas untuk dilihat, jadi bagi yang tidak pernah masuk ke dalam jurang ini akan terlibat melalui ajakan teman-teman.


Keseringan bermain gadget juga berpengaruh bagi kesehatan fisik, sering manatap layar smartphone terlalu lama akan mengakibatkan miopia (rabun jauh),  kurang nya tidur dan radiasi. Tidak ada hanya pada kesehatan fisik, terlalu lengket dengan gadget pun berpengaruh juga pada kesehatan mental, yaitu depresi, adanya rasa kecemasan jika tak memakainya, gampang emosi, kepribadian bipolar dan lain-lain.


Kita tau bahwa tidak sepenuhnya gadget berdampak negative, tekonologi tersebut banyak terdapat aplikasi yang bermanfaat untuk belajar, tetapi menggunakan gadget juga ada batasnya. Peran orang tua dan guru harus mengawasi dan membatasi siswa menggunakan benda tersebut. Solusi yang harus diberikan untuk siswa yang terlanjur ditelan gadget adalah memberi arahan untuk lebih berinteraksi dengan guru, bersosialisasi dengan teman, menghapus aplikasi yang candu dan alangkah baiknya juga melakukan meditasi supaya merelaksasi  pikiran mereka dan Pemerintah harus membatasi penggunaan gadget pada saat belajar tatap muka. Semua Itu dilakukan demi masa depan siswa untuk menjadi insan yang berkualitas bagi bangsa indonesia.

*** 

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.