Carolus Christadi Cahyono, Prodi Teknik Elektro, Semester I, Universitas Kristen Krida Wacana

TamiangNews.com -- Sekolah bertugas untuk menumbuhkan karakter dan moral bagi murid-muridnya. Pendidikan karakter dan moral meliputi pendidikan agama. Namun, bagaimana jika pendidikan agama yang diajarkan sekolah tidak sesuai dengan agama yang dianut ?.


Sekolah swasta menjadi semakin populer. Banyak orang tua yang memasukan anaknya ke sekolah-sekolah swasta terlepas dari perbedaan agama anaknya dan sekolahnya. Hal ini disebabkan karena beberapa sekolah swasta memiliki keunggulan seperti akademik berbasis bahasa asing, fasilitas yang lebih memadai, dan lain lain.Umumnya, sekolah swasta berbasis suatu agama. 

Mata pelajaran agama di sekolah tersebut disesuaikan dengan basis agama sekolah. Sekolah swasta ini jarang memberikan pilihan untuk murid agar dapat mempelajari agama yang dianutnya di sekolah dengan demikian, murid-murid sekolah tersebut terpaksa mempelajari agama sesuai sekolahnya terlepas dari agama yang dianut murid itu sendiri.

Sekolah-sekolah swasta membiasakan murid-muridnya untuk melakukan praktek agama sekolah itu dalam aktivitas sehari-hari seperti berdoa sebelum makan, berdoa saat memulai kegiatan belajar-mengajar dan lain-lainnya. Selain itu, sekolah-sekolah ini juga menyelanggarakan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti perayaan agama, ibadah, kunjungan-kunjungan ke tempat beribadah.

Biasanya, kegiatan-kegiatan rohani dikaitkan dengan nilai mata pelajaran agama Sehingga murid-murid juga perlu mengikuti kegiatan-kegiatan agama sekolah. Nilai mata pelajaran agama berkontribusi dalam prestasi dan ranking anak karena mata pelajaran agama merupakan mata pelajaran umum. Tanpa mengikuti pelajaran agama dan kegiatannya, murid akan kesulitan untuk memperoleh nilaii rata-rata yang memuaskan.

Kebiasaan-kebiasaan yang diterapkan kepada murid dari sekolah berpengaruh dengan pembentukan karakter murid itu sendiri. Murid yang sudah terbiasa dengan ajaran agama sekolah akan menerima agama tersebut. Selain itu, pengaruh dari pergaulan di sekolah tersebut juga mempengaruhi perpindahan agama. Ajakan-ajakan teman untuk mengikuti kegiatan keagamaan seringkali diterima dan diikuti. Alhasil, mereka merasa nyaman di lingkungan tersebut. Hal ini umumnya terjadi pada murid sekolah dasar.

Murid sekolah dasar belum dapat berpikir secara dewasa dan mudah terpengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Murid yang dibesarkan di lingkungan ini akan menerima ajaran-ajaran dan menjadikannya sebagai kebiasaan.

Pengaruh dari agama sekolah mulai terlihat saat menjelang remaja dewasa. Banyak murid SMA yang berpindah agama karena ajaran agama sekolahnya.

“Menurut aku, agama itu panggilan. Mungkin karena ajaran agama aku semula emang kurang dalam dan sekolah banyak mengadakan kegiatan dan persekutuan agama, jadinya aku merasa lebih cocok dengan agamaku yang sekarang,” kata seorang siswi SMA yang berpindah agama karena sekolahnya. Saat beranjak remaja dewasa, mereka dapat memilih agama mereka sendiri dan menetap kepada agama yang dibesarkan di sekolahnya.

Cara agar anak tidak terpengaruh dengan agama sekolahnya adalah dengan mengajari dasar-dasar agama asal anak tersebut. Orangtua berperan untuk memperkuat akar agama asal. Banyak cara yang dapat dilakukan.

Membiasakan anak pergi ke tempat ibadah, mengajak anak ke persekutuan agama dimana anak dapat bertemu anak-anak lain yang seagama dan dapat membimbing anak dalam pertumbuhan spiritualitas. Namun, banyak orangtua yang lalai sehingga anak terpengaruh dengan agama sekolah.

Cara lainnya adalah dengan memasuki sekolah sesuai agama anak, namun, tentu susah untuk melakukan ini karena keterbatasan-keterbatasan yang ada seperti jarak, kualitas pendidikan, ataupun biaya. Seharusnya sekolah lebih bersifat terbuka. Tidak memaksa murid yang berbeda agama untuk mengikuti acara dan kegiatan agama. Selain itu, sekolah seharusnya dapat membimbing murid sesuai dengan agamanya.

Menurut penulis, mata pelajaran agama seharusnya tidak dijadikan mata pelajaran wajib jika sekolah hanya bisa memfasilitasi murid dengan agama sekolah. ***

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.