TamiangNews.com, LINGKUNGAN -- Masa depan dunia diyakini akan banyak bergantung pada sumber daya alam yang ada di laut. Prediksi itu muncul, karena laut menyimpan potensi sumber daya alam yang sangat besar dan bisa menjadi penopang kehidupan masyarakat dunia. Fakta itu berlaku juga untuk Indonesia, yang luas wilayahnya didominasi lautan.

Foto : Buruh sortir ikan atau ngorek istilah setempat, menggunakan masker kain seiring mewabahnya virus COVID-19 (Mongabay)
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyatakan, potensi besar yang ada di laut diyakini akan menjadi fondasi yang kuat untuk perekonomian secara global. Saat ini, potensi dari laut bisa berhasil menyumbangkan angka minimal senilai USD2,5 triliun setiap tahunnya.

“Sebagai sumber pangan dan sumber penghasilan bagi lebih dari tiga miliar orang di dunia, dan juga (bisa) mengangkut sekitar 90 persen perdagangan dunia,” ungkap dia pekan lalu di Jakarta.

Dengan potensi yang sangat besar, laut juga bisa menjadi sumber energi terbarukan dan sekaligus penyuplai bahan-bahan utama untuk farmasi atau kesehatan. Semua potensi tersebut bisa dimanfaatkan untuk kepentingan dunia, dengan tetap mengacu pada prinsip keberlanjutan.

Dengan prinsip tersebut, Edhy meyakini kalau transaksi ekonomi dunia dengan melibatkan investasi pada laut akan bisa berjalan dengan baik dan terukur. Juga, dengan menerapkan ekonomi biru yang berkelanjutan, potensi yang besar dari laut bisa untuk mengembangkan kehidupan dunia.

“Ekonomi kelautan berkelanjutan merupakan kesepakatan yang sangat baik bagi ekonomi global, keberlanjutan laut, dan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Dengan ekonomi kelautan yang berkelanjutan, dunia juga bisa memulihkan diri setelah diserang pandemi global akibat wabah COVID-19. Melalui ekonomi biru, pemanfaatan setiap potensi yang ada di laut bisa tetap dilakukan, namun tidak mengabaikan prinsip keberlanjutan.

Edhy sendiri mewakili Indonesia ikut berperan dalam kampanye global penguatan peran ekonomi kelautan berkelanjutan setelah berakhirnya pandemi COVID-19. Selain Indonesia, negara lain yang ikut melakukan kampanye adalah Norwegia, Ghana, Meksiko, Chile, dan Jepang.

“Keikutsertaan Indonesia mengukuhkan peran aktif dan kepemimpinan Indonesia sebagai champion isu-isu kelautan dan perikanan di tengah perjuangan negara-negara melawan COVID-19,” ungkapnya.

Nelayan memindahkan ikan hasil tangkapan dari perahu ke Tempat Pelelangan Ikan
Bersama kelima negara tersebut, Indonesia sepakat untuk ikut bersama-sama memajukan nilai-nilai ekonomi kelautan berkelanjutan, perlindungan yang efektif, produksi berkelanjutan, dan mewujudkan kesejahteraan yang adil bagi seluruh rakyat.
“Laut diyakini sebagai solusi menuju dunia yang lebih tangguh dan makmur,” tegas dia.

Pemulihan

Pada kesempatan berbeda, Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Safri Burhanuddin mengatakan bahwa penguatan ekonomi biru yang berkelanjutan menjadi kunci penting untuk proses pemulihan ekonomi setelah pandemi COVID-19.

Menurut dia, ekonomi biru akan berperan sangat penting untuk proses pemulihan ekonomi dunia, karena ada peran laut yang sangat besar di dalamnya. Peran yang dipikul tersebut, menjelaskan bahwa laut memiliki potensi yang sangat besar untuk ikut membangun ekonomi dunia.

“Jadi ada pembahasan dengan negara lain, bagaimana respon dan aksi masing-masing negara, apa yang mereka lakukan terhadap pandemi COVID-19 ini melalui model ekonomi biru,” ungkapnya.

Melalui pembahasan tersebut, Indonesia berharap bisa memetakan kondisi terkini dari sektor kelautan dan kemaritiman yang terkena dampak pandemi COVID-19. Dari situ, kemudian bisa dipetakan kembali apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kondisi melalui model ekonomi biru yang berkelanjutan.

Untuk Indonesia sendiri, Safri menyebutkan bahwa cara terbaik yang bisa dilakukan saat ini, adalah dengan mengubah lebih dulu cara pandang terhadap segala hal. Jika sebelumnya COVID-19 dianggap sebagai musuh yang harus dihindari, maka sekarang saatnya menghadapi virus tersebut dengan lantang.

“Seperti apa yang disampaikan oleh Presiden RI Joko Widodo, yakni hidup berdampingan dengan COVID-19,” tutur dia.

Menurut Safri, setelah memperhatikan dengan seksama, warga dunia akan hidup berdampingan dengan COVID-19 dalam waktu yang cukup lama. Untuk itu, kita semua harus menghadapi kenyataan ini dan dengan menghadapinya secara terbuka.

Dia mengakui, dengan adanya pandemi COVID-19, ekosistem laut menjadi lebih bagus dan memulihkan kerusakan yang ada. Namun, di sisi lain, kondisi tersebut membuat kegiatan ekonomi dunia menjadi terhenti, termasuk untuk kegiatan ekonomi biru yang banyak melibatkan sumber daya laut.

“Maka, baik lingkungan, maupun ekonomi harus tetap berjalan dan memberikan manfaat bagi banyak orang di semua lapisan,” sebutnya.

Kendala

Peneliti dari Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO) Andy Steven pada kesempatan yang sama mengungkapkan, setelah pandemi COVID-19 berlangsung merata di seluruh dunia, Australia juga menghadapi permasalahan untuk bisa memulihkan kembali perekonomian lokal.

Ilustrasi. Penjual ikan eceran di TPI Alok Maumere kabupaten Sikka,NTT yang sedang menanti pembeli yang tampak sepi semenjak merebaknya pandemi COVID-19
Di Australia, ekonomi biru banyak diterapkan pada praktik wisata bahari, perikanan, dan makanan laut. Dengan keadaan sekarang, praktik tersebut cukup terkendala karena ada banyak batasan dan protokol baru yang menjadi standar keselamatan pangan dan kesehatan warga dunia.

“Hingga saat ini tengah berjuang mencoba untuk memperbaiki sistem logistik dan kembali memperkuat pasar,” tutur dia.

“Nah sekarang dengan aktivitas ekonomi saat ini, pasar otomatis terbuka, kegiatan transportasi jalan. Kemudian kalau nanti mal atau restoran mulai buka, maka bahan-bahan baku seperti seafood akan bertambah. Ini akan memajukan pertumbuhan ekonomi,” tambah dia.

Direktur Lingkungan Hidup dan Pengembangan Komisi Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Asia Pasifik (UN-ESCAP) Stefanos Fotiou mengatakan, semua negara di dunia diminta untuk mempersiapkan diri menghadapi pandemi COVID-19 yang masih belum berakhir.

Menurut dia, beradaptasi dengan kondisi sekarang juga berlaku untuk semua kegiatan yang ada dan biasa terjadi. Termasuk, kegiatan konservasi laut dan pengendalian perubahan iklim yang sudah dilaksanakan jauh sebelum pandemi COVID-19 berlangsung di dunia.

“Tetap harus berjalan, walapun pandemi ini sedang terjadi,” tutur dia.

ada akhir 2018, Direktur Lingkungan Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) Rodolfo Lacy berkampanye tentang pentingnya penerapan ekonomi biru dalam pengembangan ekonomi di dunia. Konsep ekonomi biru, disebut dia sebagai jawaban untuk masa depan ekonomi dunia.

Rodolfo yang berbicara dalam Our Ocean Conference (OOC) 2018 di Nusa Dua, Bali itu mengungkapkan bahwa konsep ekonomi biru adalah konsep yang melibatkan prinsip berkelanjutan di dalamnya. Saat ini konsep tersebut banyak diterapkan pada kegiatan ekonomi yang melibatkan sumber daya laut.

Menurut dia, laut sudah memberikan pekerjaan bagi sedikitnya 32 juta orang di seluruh dunia dan enam persen diantaranya adalah berasal dari proyek lepas pantai, 23 persen adalah para pekerja sektor wisata bahari, dan 43 persen berasal dari perikanan, pengolahan, dan perikanan budidaya.

“Ekonomi biru menopang pertumbuhan ekonomi secara global di sektor perikanan dan kelautan,” ucap dia.

Ikan hasil tangkapan nelayan. Perikanan tangkap Indonesia dinilai berada pada momentum sangat strategis, yang secara ekonomi dianggap bisa meningkatkan kesejahteraan nelayan dan pelaku usaha
Akan tetapi menurut Rodolfo, perkembangan yang cepat juga memicu munculnya polusi lautan yang berasal dari sampah plastik. Ancaman tersebut harus bisa diantisipasi, supaya konsep ekonomi biru yang ada pada kegiatan usaha di laut bisa tetap dijalankan dan ikut memajukan perekonomian dunia.

Besarnya pengaruh lautan terhadap ekonomi dunia, diharapkan bisa menjadi perhatian seluruh negara. Mengingat, hingga saat ini negara-negara pulau kecil yang ada di wilayah Pasifik, penghasilan produk domestik bruto (PDB)-nya masih mengandalkan sektor kelautan dan perikanan.

Dia menyebutkan jika PDB dari laut untuk negara di Pasifik rerata mencapai 30-80 persen. Untuk itu, harus ada gerakan kompak dari semua negara untuk melaksanakan penyelamatan laut, salah satunya dengan menerapkan ekonomi biru di laut. [] MONGABAY





Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.