Manusia adalah makhluk social atau makhluk yang bermasyarakat. Karena manusia itu selalu membutuhkan serta  berinteraksi dengan manusia  lainnya. Untuk menjaga segala kepentingan antar individu dan menciptakan keadilan sehingga terwujudnya kemakmuran, maka masyarakat membutuhkan hukum. 



Dalam kehidupan masyarakat, kita banyak mengenal akannya hukum agama, hukum positif, hukum adat dan sebagainya, semua itu berfungsi untuk memperbaiki moral manusia. Namun realita kehidupan adalah sebaliknya, manusia melegalkan segala cara untuk memuaskan nafsu semata.

Kepuasan nafsu semata yang terus mendorong manusia untuk berbuat semaunya, sesukanya menjadikan manusia adalah makhluk yang kurang berfikir. Ribuan efek negative yang akan timbul dan banyak dari mereka mengetahuinya juga, akan tetapi hal itu diabaikan seakan tidak akan pernah ada, dan juga bukan merupakan masalah besar lagi hanya karna untuk nikmat sementara yang dirasakannya. 

Dan akhirnya penyesalanlah yang akan dialaminya, namun apa daya semua telah tiada waktu tak akan berulang kembali, dan inilah perbuatan yang terus berulang-ulang terjadi dan dilakukan oleh manusia. Dan mereka adalah contoh orang-orang yang disebutkan al-qur’an sebagai orang-orang yang merugi. 

Namun tetap saja, segala hukum memiliki sanksi bagi pelanggarnya, sehingga dalam masyarakat juga dikenal akan adanya sanksi moral bagi pelanggar yang bertindak diluar nilai kemanusiaan. dan sanksi ini dikenal dengan sanksi sangat berat karena bagi sipelanggar akan merasakan hukuman seumur hidupnya. 

Artinya pandangan masyarakat terhadap si pelanggar, akan nilai moral yang buruk dimilikinya tidak akan pernah dapat dihapuskan. Begitulah pentingnya etika dalam hidup dan kejamnya sanksi moral. Maka tak heran, bila banyak dari mereka yang takut dan berusaha menjadi manusia yang baik.

Lalu pertanyaannya masih hidupkah nilai tersebut? ya… faktanya sejalan dengan pekembangan teknologi dan zaman, menjadikan sedikit manusia sebagai makhluk yang kurang peduli akan lingkungan sekitar. Sikap acuh dan malas berurusan dengan manusia lainnya sekilas memberikan peluang besar untuk memuluskan terus terjadinya kejahatan. 

Dan sikap ini dapat melemahkan kekuatan dari sanksi moral tersebut. alhasil perbuatkan jahat dan keji terjadi dimana-mana, tanpa adanya kesadaran dan juga kurangnya rasa malu.

Apakah ini kehidupan manusia sebenarnya, komplotan pengedar narkoba ada diseluruh pelosok dunia, pembunuhan bukan lagi kasus yang menakutkan dan terjadi setiap harinya, belom lagi mereka tikus berdasi yang memakan uang rakyat bahkan yang sangat menjijikkan adalah mereka yang melakukan pelecehan seksual, terlebih lagi rela menyetubuhi anaknya sendiri yang masih dibawah umur sampai hamil, hanya karna untuk mengikuti nafsu iblis. 

Apakah orang seperti ini masih dapat dikatakan sebagai seorang ayah atau manusia umum lainnya, tidak lebih mereka seperti sesosok makhluk yang tidak berakal. peristiwa inipun baru saja terjadi dikalangan masyarakat aceh tamiang khususnya, yang akhir-akhir ini menggegerkan serta  membangkitkan semangat akan pentingkan perlindungan anak. Amat disayangkan bahwa hal ini terjadi alih-alih hak asasi manusia sebagai seorang anak yang mestinya diterima dari seorang ayah tetapi malah kekejaman dan kepahitan yang diberikan. 

Ya…inilah moral social masyarakat sekarang, sangat jauh dapat dikatakan sebagai manusia yang memiliki nilai moral atau etika dalam hidup. Akankah kita kembali menjadi masyarakat jahiliah seperti dulu kala, dengan melakukan segala cara hanya karna kepuasan, kenikmatan dunia, dan kepentingan masing-masing. Tanpa memperdulikan orang lain atau efek yang timbul dari kejahatan yang dilakukannya. Jika hal ini benar-benar terus terjadi dikalangan masyarakat maka tanpa kita sadari bahwa kita sudah berada pada kondisi kehancuran. 

Pengirim :
Siti Nurliza


Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.