Namanya ahmad junaidi atau akrab dipanggil dengan bang dedi. Dia adalah sosok lelaki yang berpakaian lalu lintas, ia tampak biasa saya sama seperti layaknya polisi yang mengatur lalu lintas, meskipun dia menyandang disabilitas (keterbatasan diri) tetapi dia tetap setia mengatur lalu lintas.


Sebenarnya pak dedi adalah seorang warga masyarakat biasa bukan seorang polisi atau abdi negara, namun sudah 15 tahun dia berinisiatif menjadi pengatur lalu lintas di tempat tinggalnya. Ahmad junaidi kelahiran tanah abang dengan kondisi fisik yang tidak sempurna, ia tidak mampu berbicara dan berkomunikasi dengan lancar, tetapi semangatnya sangat luar biasa.

Kecacatan fisik bukanlah hambatan bagi seseorang untuk berprestasi, karena cacat mental lah sesungguhnya yang menyebabkan kita menjadi pecundang. Memenangkan diri melawan mental malas, tidak relatif, mempertaruhkan hawa nafsu adalah tugas yang besar dan akan membawa kemuliaan hidup. 

Pak dedi hanya satu dari puluhan juta orang penyandang disabilitas yang melampaui keterbatasannya. Ketika kehilangan kedua bola matanya, abdullah ibnu abbas menyadari bahwa dirinya akan mengabiskan sisa hidupnya dalam keadaan tidak bisa melihat, akan terkungkung dalam kegelapan untuk melihat hidup dan kehidupan ini, namun dia tak meratapi nasibnya dengan malas justru dia menerima dengan penuh keridhoan dan kesabaran hati, dia berkata,

“Jika Allah mengambil cahaya dari kedua mataku, maka di dalam lisan dan pendengaranku masih ada cahaya, hatiku cerdas dan akalku bukanlah akal yang jahat dan penuh tipu daya, di dalam mulutku terdapat ketajaman yang membekas laksana pedang”.

Seorang tuna netra bernama thaha hussein pernah menjadi mentri pendidikan di mesir, mereka terlahir ke dunia dalam keadaan cacat. tetapi kecacatannya itu tidak menghalanginya untuk maju dan berbuat yang terbaik untuk manusia.

Pengirim :
Aminah
Mahasiswi Uin Ar-Raniry Banda Aceh.


Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.