Dewasa ini Bank syariah semakin pesat berkembang, baik itu dari segi aset,  jumlah kantor, jenis produk yang ditawarkan, dan jumlah karyawan yang mereka miliki. Perkembangan bank syariah yang pesat ini merupakan wujud dari respon positif masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka terhadap produk syariah. Masa depan perbankan syariah dalam menghadapi berbagai perkembangan teknologi dan informasi tentu saja bergantung pada kemampuan manajemen dalam mengelola segala resiko yang timbul.


Bank sebagai lembaga intermediary dan pelayanan jasa keuangan, dalam usahanya kemungkinan akan berhadapan dengan berbagai risiko yang memiliki potensi mendatangkan kerugian. Risiko dalam bidang perbankan ialah suatu kejadian potensial baik itu yang bisa diperkirakan maupun yang tidak bisa diperkirakan yang memiliki dampak negatif pada pendapatan maupun permodalan bank. Risiko-risiko tadi tidak dapat dihindari akan tetapi dapat diminimalisir potensi terjadinya.

 Setiap lembaga keuangan perbankan pasti akan dihadapkan pada risiko, baik itu bank konvensional maupun bank syariah. Resiko yang dihadapi oleh bank syariah sedikit lebih unik dibandingkan dengan risiko yang ada di bank konvensional. 

Nah maka dari itu, manajemen bank syariah juga dituntut untuk mempunyai strategi serta teknik yang lebih mantap dalam mitigasi risiko dan strategi manajemen dalam menghadapi pasar secara langsung.

Manajemen risiko dalam bank syariah mempunyai karakter yang berbeda dengan bank konvensonal, terutama pada jenis-jenis risiko yang khas melekat hanya pada bank syariah. Perbedaan mendasar antara bank syariah dengan bank konvensional bukan terletak pada bagaimana cara mengukur melainkan pada apa yang dinilai. Perbedaan ini akan tampak terlihat pada proses manajemen risiko operasional bank syariah seperti pada :

Identifikasi Risiko

Pada bank syariah, identifikasi risiko dilakukan pada enam hal, yaitu : Proses transaksi pembiayaan, proses manajemen, sumber daya manusia, teknologi, lingkkungan eksternal, kerusakan.

Penilaian Risiko

Penilaian risiko pada bank syariah juga unik, hal itu terlihat pada hubungan antara probability dan impact, atau biasa dikenal dengan sebutan qualitative approuch.

Antisipasi Risiko

Antisipasi risiko dalam bank syariah memiliki beberapa tujuan yaitu :

a. Preventive.  Perbankan syariah dalam hal ini memerlukan adanya persetujuan dari DPS untuk mencegah kekeliruan proses dan transaksi dari aspek syariah. Disamping itu juga, bank syariah juga memerlukan opini dan fatwa DSN bila Bank Indonesia memandang persetujuan DPS belum memadai atau berada diluar kewenangannya.

b. Detective. Dalam perbankan syariah, ada dua aspek dalam pengawasan yaitu aspek perbankan oleh BI dan aspek perbangkan oleh DPS.

c. Recovery. Koreksi atas suatu kesalahan dapat melibatkan Bank Indonesia untuk aspek perbankan dan DPS untuk aspe syariah.

Monitoring Risiko

Kegiatan monitoring dalam perbankan syariah tidak hanya meliputi manajemen bank Islam saja, tetapi juga melibatkan Dewan Pengawas Syariah. 

Risiko Yang Dihadapi Bank Syariah

Risiko yang dihadapi oleh bank syariah secara umum dapat digolongkan menjadi 2 bagian besar, yaitu risiko yang sama dengan yang hadapi oleh bank konvensional dan risiko yang memilki keunikan tersendiri karena harus mengikuti aturan prinsip-prinsip syariah. Jadi risiko kredit, risiko likuiditas, risiko pasar, risiko reputasional dan bentuk risiko lain yang dihadapi bank konvensional juga akan dihadapi oleh bank syariah. Tapi, karena pada bank syariah harus mematuhi aturan syariah maka risiko yang dihadapi oleh bank syariah akan menjadi berbeda.

Bank syariah juga harus menghadapi beberapa risiko yang khas atau unik. Risiko unik ini muncul dikarenakan isi neraca bank syariah yang berbeda dengan bank konvensional. Dalam hal ini pola bagi hasil (profit and loss sharing) yang dilakukan oleh bank syariah menambah kemungkinan munculnya risiko lain seperti whithdrawl risk, fiduciary risk dan displaced commercial risk.

a. Withdrawal Risk (risiko penarikan dana). Risiko ini sebagian besar diahasilkan dari tekanan kompetitif yang dihadapi oleh bank syariah dari bank konvensional sebagai counterpart-nya. Bank syariah dapat terkena withdrawal risk jika deposan menarik dananya karena menganggap return yang diberikan oleh bank syariah lebih rendah dari tingkat return yang diberikan oleh rival kompetitornya.

b. Fiduciary Risk merupakan risiko yang secara hukum bertanggung jawab atas pelanggaran kontrak investasi baik itu dari ketidaksesuaiannya dengan ketentuan syariah ataupun salah kelola terhadap dana investor.

c. Displaced commercial risk merupakan transer risiko yang berhubungan dengan simpanan kepada pemegang ekuitas. Risiko ini bisa saja muncul ketika bank berada di bawah tekanan untuk mendapatkan profit, tetapi bank justru harus memberikan sebagian profitnya kepada deposan akibat rendahnya tingkat return.

d. Manajemen risiko pada bank syariah wajib diterapkan dan disesuaikan dengan tujuan, kebijakan usaha, ukuran dan kompleksitas usaha serta kemampuan suatu bank syariah.

Manajemen risiko perlu diterapkan dengan tepat pada perbankan syariah. Penerapan manajemen risiko dapat meningkatkan shareholder value, membeikan gambaran pada pengelola bank tentang kemungkinan adanya kerugian bank dimasa yang aan datang, seta untuk meningkatkan metode dan proses pemngambilan keputusan yang sistematis didasarkan pada ketersediaan informasi sebagai dasar pengukurann yang lebih akurat mengenai kinerja bank  dan juga menciptakan infrastruktur manajemen risiko yang kokoh dalam rangka meningkatkan daya saing.

Pengirim :
Eva Kurnia
Kelas : Perbankan Syariah (A)
Dosen Pengampu : Muhammad Iqbal Fasa, M.E.I




Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.