Sudah terhitung satu bulan lebih sejak negara menerapkan sistem “work from home” untuk mengurangi tali persebaran Covid-19. Menurut laman Covid19 Team Official, hingga Rabu (20/05/2020). Total pasien positif Covid-19 di Indonesia mencapai 19.189 kasus. Sementara total pasien meninggal sebanyak 1.242 orang dan pasien sembuh sebanyak 4.575 orang. 


Kebijakan pemerintah untuk menghimbau warga agar tetap berada di rumah dan melakukan semua aktivitas hanya didalam rumah. Sudah bayak tempat-tempat umum yang tutup. Beberapa perusahaan hingga instansi pendidikan menerapkan sistem bekerja di rumah. Semua pekerjaan dan sekolah pun dilakukan melalui daring. 

Karantina wilayah ini, menyebabkan banyak industri berhenti beroperasi, sehingga berkurangnya limbah ataupun energi kotor hingga tidak menimbulkan pencemaran dan polusi. Dapat dikatakan, saat ini bumi sedang memulihkan dirinya akibat ulah manusia yang telah merusak lingkungan. Meningkatnya keanekaragaman hayati karena jumlah wisatawan menurun drastis membuat sejumlah habitat alami tetap lestari. 

Tidak banyak orang yang keluar rumah menjadikan kondisi bumi dapat dikatakan menjadi lebih baik dan sehat. Pencemaran makin berkurang, cuaca cerah, dan udara terasa bersih. Bahkan menurut laporan Nationalgeographic, emisi karbon dunia mengalami penurunan terbesar sejak Perang Dunia II. Ketidakhadiran manusia menjadi factor utama bagi bumi untuk memulihkan diri. 

Karena aktivitas manusia yang sebagian besar mempunyai dampak dalam kerusakan lingkungan seketika terhenti akibat pandemi ini. Namun, tak dapat dipungkiri, meskipun kita senang karena bumi menjadi lebih baik, tapi banyaknya manusia yang kehilangan nyawa akibat wabah virus corona ini membuat kita harus berpikir lagi.

Apa harus untuk menciptakan kondisi bumi yang normal, perlu adanya wabah virus hingga menimbulkan jutaan korban terinfeksi? Bagaimana jika wabah ini berakhir dan keadaan kembali normal, bukankah sama saja mengembalikan kondisi bumi menjadi lebih buruk kembali. Manusia akan berbondong-bondong melakukan aktivitas diluar rumah yang sempat terpendam saat karantina. Dan tidak menjamin pula jika aktivitas tersebut akan membalikkan keadaaan bumi seperti saat sebelum datangnya wabah virus ini. 

Dukungan pemerintah untuk mengatasi masalah iklim sangat berpengaruh. Perlu adanya sosialisasi agar masyarakat mau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, memulai gaya hidup yang ramah lingkungan, lebih banyak beraktivitas dirumah jika tidak ada keperluan penting yang mengharuskan keluar rumah. Jika dipikir kembali, manusia yang mengklaim dirinya sebagai makhluk terbaik sudah semestinya bertanggung jawab akhibat kerusakan yang telah mereka perbuat pada alam.

Lebih banyak belajar juga perlu. Seperti membuat kompos sendiri, bercocok tanam, memilah sampah yang benar, hingga mencoba menciptakan suatu alat fungsional yang ramah lingkungan. Jika semua masyarakat mempunyai pikiran seperti ini, mungkin saja setelah pandemi ini berakhir, kesadaran untuk menjaga alam yang lebih baik akan muncul pada setiap individu. Anggap saja saat ini bumi sedang melakukan “restart button” atau me-refresh kondisinya. Kita sebagai pelaku sistem, sudah seharusnya bertanggung jawab dalam perbaikan alam pasca corona ini. Walaupun tak dapat dipungkiri juga, setelah wabah corona berakhir, bumi akan kembali seperti dulu. Karena akan ada banyak kegiatan produksi industri yang akan meningkat berkali-kali lipat untuk mengejar ketertinggalan dan pendapatan yang dulu sempat tertahan akibat wabah virus corona. 

Mungkin situasi saat ini menjadi pelajaran, bahwa jika kita tidak terus-menerus mengeruk bumi, dan bisa menjaganya, maka alam pun akan memberikan hasil yang baik pada kita. Jangan serakah, mari kita merefleksikan diri dan memikirkan apa yang dapat kita lakukan untuk bumi setelah wabah ini berakhir. Semoga pemerintah dapat lebih peduli dan mengatur kebijakan baru, agar kegiatan produksi yang berjalan dapat selaras dengan kondisi alam. Dan diharapkan pula, masyarakat agar tetap mematuhi aturan dan tidak berpikiran untuk kembali menjalankan aktivitas yang seperti dulu, yang dapat menyebabkan kerusakan dan pencemaran polusi. 

Pengirim :
MELINIA DITA TURSINA
MATA KULIAH : BAHASA INDONESIA ILMIAH
DOSEN : FIDA PANGESTI, M.Pd


Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.