Pandemi covid 19 merupakan virus corona yang berasal dan pertama kali muncul di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Diduga Covid-19 ini berasal dari hewan kelelawar dan setelah ditelusuri, orang-orang yang terinfeksi virus ini merupakan orang yang memiliki riwayat telah mengunjungi pasar basah makanan laut dan hewan lokal di Wuhan, China. 


Pandemi Covid-19 telah menjadi permasalahan serius hampir seluruh Negara didunia, termasuk Indonesia. Kementerian kesehatan Republik Indonesia mengumumkan jumlah kasus terkait virus corona menjadi 12.438 hingga hari Rabu (06/05) waktu setempat. Pemerintah saat ini masih mengkalkulasi dampak penyebaran virus corona bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, termasuk sektor perbankan.

Covid-19 telah menjungkirbalikkan proyeksi ekonomi Negara yang menggunakan sektor pariwisata sebagai leading sektor pertumbuhan ekonominya, tidak terkecuali Indonesia. Dampak adanya Covid-19 terhadap sektor pariwisata bermula ketika pemerintah Tiongkok melarang warganya untuk melakukan kunjungan ke luar Negeri. 

Hal ini berdampak kepada berkurangnya turis asing ke Indonesia pada tahun ini. BPS (Badan Pusat Statistik) mencatat, Tiongkok menempati urutan kedua asal kunjungan wisatawan mancanegara terbanyak selama tahun 2019 di Indonesia, yaitu dengan jumlah 2.072 juta kunjungan atau kurang lebih sekitar 12% dari 16 juta wisman (wisatawan mancanegara) yang berkunjung ke Indonesia. 

Negara kita Indonesia, sangat sensitif dengan pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang memburuk. 
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada awal pandemi di Indonesia mencapai Rp. 17.500, dan berbalik menguat Rp. 15.050 kala pembukaan perdagangan pasar spot. Penyebab melemahnya rupiah karena investor panik sehingga terjadi apa yang disebut pembalikan modal atau capital outflow. Selama periode terjadinya pandemi ini antara Januari dan Maret 2020 telah terjadi capital outflow dalam portofollio investasi Indonesia, yang jumlahnya mencapai Rp. 167,9 triliun.

Lockdown Jakarta salah satu penyebab ekonomi Indonesia melemah ditengah mewabahnya Covid-19 di Indonesia. Tentunya begitu, karena sebagian besar uang berputar di Jakarta, terdapat bursa efek, dan bank sentral disana. Belum lagi pasokan bahan baku pokok bagi masyarakat Jakarta akan terhambat, utamanya pangan. Sejauh ini Jakarta mengandalkan pasokan pangan dari luar daerah, seperti beras pastinya dari luar Jakarta.

Pandemi Covid-19 juga melemahkan sektor perbankan dari penyaluran kredit, kualitas aset dan pengetatan margin bunga bersih. Untuk risiko pertama yaitu penyaluran kredit (pembiayaan) akan mengalami perlambatan. Kedua, penurunan kualitas aset akan sedikit terbantu dengan PJOK No.11/POJK.03/2020 baik bank syariah maupun konvensional terutama dalam pencadangan penyisihan penghapusan aktiva produktif. 

Risiko ketiga yaitu pengetatan margin bunga bersih, bank syariah diprediksi akan memiliki keunggulan dibandingkan dengan bank konvensional. Sebab bank syariah menggunakan sistem bagi hasil maka kondisineraca bank syariah pada masa krisis akibat Covid-19 akan elastis karena besarnya biaya yang diperuntukkan buat pembayaran bagi hasil juga akan menurun dengan penurunan pendapatan yang diperoleh bank syariah.

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan status darurat bencana terhitung mulai tanggal 29 Februari 2020 hingga 29 Mei 2020 terkait pandemi virus ini dengan jumlah waktu 91 hari. Langkah-langkah telah dilakukan pemerintah untuk dapat menyelesaikan kasus luar biasa ini, salah satunya adalah dengan mensosialisasikan gerakan Social Distancing. 

Konsep ini menjelaskan bahwa untuk dapat mengurangi bahkan memutus mata rantai infeksi Covid-19 seseorang harus menjaga jarak aman dengan manusia lainnya minimal 2 meter, dan tidak melakukan kontak langsung dengan orang lain, menghindari pertemuan massal. 

Tetapi banyak masyarakat yang tidak menyikapi hal ini dengan baik, seperti contohnya pemerintah sudah meliburkan para siswa dan mahasiswa untuk tidak berkuliah atau bersekolah ataupun memberlakukan bekerja didalam rumah, namun kondisi malah dimanfaatkan oleh banyak masyarakat untuk berlibur. 

Selain itu, walaupun Indonesia sudah dalam keadaan darurat masih saja dilaksanakan tabligh akbar, dimana akan berkumpul ribuan orang disatu tempat yang jelas dapat menjadi mediator terbaik bagi penyebaran virus corona dalam skala yang jauh lebih besar. Selain itu masih banyak juga masyarakat Indonesia yang menganggap enteng virus ini, dengan tidak mengindahkan himbauan-himbauan pemerintah.

Pengirim :
Nur Aini Julianti 
Prodi/ Smt/ Kls : Perbankan Syariah/6/A
Dosen : Muhammad Iqbal Fasa 


Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.