TamiangNews.com, KUALASIMPANG -- Pemerintah Kabupaten AcehTamiang membangun kampung tanaman buah-buahan, tepatnya di Kampung Bengkelang, Kecamatan Tamiang Hulu. Kawasan ini dinilai cocok untuk pengembangan tanaman buah di area seluas 1.050 hektare. karena berada di dataran tinggi, antara 198sampai 700 meter dari permukaan laut (mdpl).

Foto : Ilustrasi
Lokasi ini dipilih karena dianggap memiliki iklim dan lahan yang memadai untuk mengembangkan komoditas durian, alpukat, kopi hingga bunga krisan. Area satu ini ditabalkan sebagai ‘Negeri di Atas Awan’ karena berada di ketinggian.

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan (Distanbunak) Aceh Tamiang, Yunus, menjelaskan dataran tinggi di Kampung Bengkelang, Kecamatan Tamiang Hulu akan dibangun sebagai pusat tanaman buah-buahan.

Dia menjelaskan lahan yang terhampar di areal ini terbagi dalam beberapa ketinggian, mulai dari 198 meter hingga 700 mdpl. Dia menjelaskan akan mensesuaikan jenis tanaman di  masing-masing ketinggian, misalnya 198 mdpl untuk alpukat, jahe di ketinggian 450 mdpl, bunga krisan hingga kopi di area tertinggi.

“Total luas area yang akan kita gunakan 1.050 hektare dan saat ini sudah ada tanaman durian, pinang dan pohon sengon,” kata Yunus ketika mensurvei areal itu pada Selasa (7/1). Dikatakan, bagi Aceh Tamiang yang merupakan kawasan pesisir, Kampung Bengkelang merupakan dataran yang paling tinggi, sehingga masyarakat menamai kawasan ini sebagai ‘Negeri di Atas Awan.’

Yunus optimis program pemusatan tanaman buah-buahan ini akan berdampak positif bagi kemajuan masyarakat. Dia mengklaim masyarakat antusias dengan program ini yang dibuktikan langsung terbentuknya empat kelompok tani. “Jadi nanti yang mengelola lahan ini masyarakat yang tergabung dalam kelompok tani dan sudah ada kelompok tani yang terbentuk,” lanjutnya. Selain itu, Yunus memastikan produk buah-buahan yang akan dipusatkan di Bengkelang, Kecamatan Tamiang Hulu sudah memiliki pangsa pasar. Dia mengatkan seorang pengusaha di Medan yang memiliki jaringan swalayan memberi komitmennya untuk menampung produk di dataran tersebut.

“Kalau pasar, kita sudah tidak bingung. Karena memang sudah ada kesepakatan untuk dibawa ke Medan, dijual di swalayan,” kata Yunus.  Malahan, Yunus mengaku dipusingkan dengan kebutuhan jeruk bali dalam jumlah besar, berkaitan dengan Imlek yang menjadi tradisi etnis Tionghoa. “Karena kita selama ini berpikir hanya untuk memenuhi kebutuhan warga kita saja., ternyata Medan sudah minta,” jelasnya. [] SERAMBI


Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.