Kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan penggunaan teknologi yang semakin canggih dan mutakhir pada zaman sekarang, robot di dunia perusahan dan industri yang sering diluncurkan untuk membantu pekerjaan manusia sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah. Sebenarnya, tanpa kita sadari, kecerdasan buatan seperti itu sudah kita gunakan  dalam kehidupan  sehari-hari meskipun dalam skala yang kecil. Seperti komputer, ponsel pintar, google asisten, bahkan aplikasi belajar yang sering digunakan pelajar.

Foto : Ilustrasi
Di masa sekarang, kecerdasan buatan (AI) sudah menjadi wacana umum yang kerap kita jumpai dan berkembang sangat pesat waktu ke waktu. Semakin canggihnya teknologi, membuat industri semakin berpacu mengembangkan robot untuk pasar dengan title mempermudah tugas manusia. 

Lalu, sebelum meniliki lebih dalam lagi seputar AI, sebaiknya kita bahas dulu apa itu kecerdasan buatan atau bahasa canggihnya artificial intelegence (AI). Ketika mendengar istilah AI, hal yang terbesit di pikiran kita pertama kali adalah robot, seperti robot manusia yang digambarkan dalam film terkenal The Terminator , Iron Man atau Captain Amerika yang  memperlihatkan robot bertindak layaknya manusia. 

Kecerdasan adalah kemampuan untuk memahami dan mengerti.  Kecerdasan buatan merupakan sistem perangkat lunak komputer yang mampu mengimput data tugas agar dapat melakukan pekerjaan seperti manusia. Menurut Haag dan Keen (1996), AI adalah bidang studi yang berhubungan dengan penangkapan, pemodelan, dan penyimpanan kecerdasan manusia ke sebuah sistem teknologi informasi sehingga sistem tersebut dapat melakukan tindakan keputusan yang biasa dilakukan oleh manusia (Amrizal dan Aini, 2013). 

Kecerdasan buatan merupakan bagian dari computer science yang mampu menirukan beberapa fungsi otak manusia. Atau  simpelnya AI adalah sistem peragkat lunak computer yang dirancang mampu mensimulasi kecerdasan manusia sehingga mampu berfikir dan bertindak seperti manusia, layaknya manusia dalam bentuk robot. 

Kecerdasan buatan diciptakan agar robot mampu melakukan beragam hal yang dapat mempermudah pekerjaan manusia. Dengan adanya kecerdasan buatan, memungkinkan manusia menjadi otak pemerintah kerja dan robot sebagai pelaksana kerja yang lebih cepat dan efisien. 

Robot AI bekerja degan sistem yang kompleks, kemampuannya menganalisis menggunakan algoritma, AI juga mampu mengolah data dalam jumlah yang besar (big data),  menampilkan respon otomatis di ponsel pintar seperti pada chatbot, mengolah dan menganalisis dokumen dengan akurat serta kemampuan lainnya, sangat membantu manusia dalam meningkatkan kerja yang lebih efektif dan efisien. 

Sistem AL sendiri memiliki dua jenis, yaitu AL lemah dan AL kuat, AL lemah atau yang  dikenal dengan AL sempit dirancang dan dilatih untuk tugas tertentu, google asistent dalam layanan google dan apple siri pada pengguna iphone yang sering kita gunakan merupakan contoh sistem kerja AL lemah. Sedangkan AL kuat dikenal dengan sistem kognitif yang lebih komplek seperti pada manusia, ketika disajikan tugas khusus sistem AL mampu menemukan solusi tanpa bantuan dan campur tangan manusia.

Penerapan AI sudah sangat luas dalam kehidupan modern, tidak hanya industri besar yang semakin berlomba-lomba mengembangkan AI yang paling canggih untuk kebutuhan pasar seperti robot pilot, robot chef, robot pintar lainnya. AI bahkan kita temukan dengan mudah dalam bentuk smartphone. 

Perkembangan ini bahkan menguakkan isu bahwa kemudian hari AI dapat menggeserkan peran sentral manusia dalam kehidupan. AI mengambil alih kekuatan kerja serta menggeser banyak tenaga kerja manusia menjadi pengangguran.

AI di prediksi mampu mengalahkan manusia, bukan dalam artian kecerdasan buatan mampu mengalahkan kecerdasan alami otak manusia, tapi AL diprediksi mampu menguasai dan menggantikan peran manusia karna tenaga AL dianggap lebih efisien dan akurat dibandingkan sumber daya manusia yang banyak memiliki kemungkinan salah.

Namun dilansir dari laman Kominfo.go.id, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara menjelaskan  kelebihan AI untuk penyelesaian tugas yang berulang dan menyimpan dalam bentuk Que Card, meskipun demikian, ada kelemahan AI saat ini. Hal itu ditunjukkannya dengan mengajak robot Sophia, robot tercerdas di dunia dalam perhelatan mengenai perkembangan tekologi AI.

Awalnya, Menteri Rudiantara bertanya soal hubungan asmara antara robot dengan manusia. Sophia menjawab itu memungkinkan dan zaman sekarang sudah ada orang yang menikahi smartphone atau hologram, meski Sophia s endiri tak tertarik pacaran karna masih muda. Kemudian, ketika ditanya soal kencan, Sophia tampak bingung. “Sophia tidak paham karena pertanyaan itu tak di-script dan tak ada di Que-card (kartu pertanyaan),” ungkap menteri kominfo.

Hal itu menjelaskan bahwa robot AI hanya dapat melakukan tugas dalam bentuk data yang telah di input dalam AI. 

Semakin canggih teknologi, maka AI juga semakin di kembangkan baik data maupun tugasnya, lalu benarkah bisa AI mengalahkan manusia di semua aktivitas?, tidak menutup kemungkinan AL dikemudian hari memegang peranan yang lebih penting dan manusia hanya  melakukan tugas yang mudah saja.

Survei yang dilakukan oleh Universitas of Oxford dan Yale University, dan ditanggapi oleh 352 pakar AI, menunjukkan bahwa kemungkinan AI memegang peran manusia dalam rentang waktu 45 tahun ke depan pada 2026. 

Mesin-mesin AI diprediksi akan lebih baik menerjemahkan bahasa menjelang 2024, menciptakan karya tulis tingkat Sekolah menengah menjelang 2026, mengemudi truk menjelang 2027, bekerja di pengecer barang mendekati 2031, menulis buku paling laku sekitar 2048, melakukan pembedahan kira-kira 2053, bahkan semua pekerjaan manusia akan menjadi otomatis dalam kurun waktu 120 tahun kedepan, hasil survei ini telah diterbitkan pada 2015 dalam dua konferensi besar yaitu Conference on Neural Information Processing System dan International Conference on Machine Learning. 

Bahkan baru-baru ini, dikutip dari CNBC Indonesia,  Presiden Joko Widodo dalam pergelaran CEO Forum (28/11), menegaskan rencana adanya penggantian PNS dengan robot, dengan memangkas jumlah eselon  III & IV dan diganti dengan robot.  Keputusan ini seiring dengan terbitnya Surat Edaran (SE) 393/2019 tentang langkah untuk penyederhanaan birokrasi yang lebih dinamis, lincah, dan profesional, sehingga kehadiran AI menurut Jokowi  dalam struktur pemerintahan akan meningkatkan efektifitas dan efisiensi kinerja pemerintah kepada publik. 

Meskipun Jokowi menjamin, pendapatan para PNS yang terkena pemangkasan tidak akan tergaggu, abdi negara akan tetap mendapatkan pendapat yang sama meskipun tak lagi menjabat struktur eselon III dan IV, apakah penggantian peran PNS dengan robot sudah mampu Indonesia terapkan?

Namun terlepas dari pro dan kontra pesatnya perkembangan AI, kita harus menyadari bahwa kemajuan teknologi akan tetap berjalan dan mau tidak mau kita akan melaluinya, peran manusia seharusnya tidak dapat digatikan sebagai pemegang sentral kehidupan. Seperti halnya pada robot AI, kecerdasan alami harus tetap memiliki peran yang penuh dalam mengaturnya.  

AL diibaratkan tidak jauh seperti pisau, tergantung di tangan siapa yang memegangnya, AL di tangan orang yang tepat mampu memanfaatkan kecerdasan buatan  dengan sangat efektif tanpa menghilangkan peran manusia. Sebaliknya AL di tangan orang yang tidak tepat malah dapat menjadi masalah. []

Pengirim : 
Dona Adinda Syafitri
Mahasiswi semester 3 Jurusan Psikologi UIN Imam Bonjol Padang
Email : donaadinda99@gmail.com


Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.