TamiangNews.com, BANDA ACEH -- Aceh memiliki potensi emas yang tersebar di enam kabupaten, namun saat ini belum dieksploitasi secara komersial oleh perusahaan yang mendapat izin resmi dari pemerintah.

Foto : Ilustrasi
Keenam kabupaten yang  memiliki deposit logam mulia itu adalah Aceh Jaya, Aceh Selatan (Kecamatan Sawang dan Manggamat), Pidie (Kecamatan Geumpang dan Tangse), Aceh Barat (Kecamatan Lancong, Tutut, dan Panton Reu), Nagan Raya (Kecamatan Krueng Cut/Beutong dan Krueng Kila/Seunagan Timur), dan Kabupaten Aceh Tengah.

Informasi itu diungkapkan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Ir Mahdinur MM menjawab Serambi per telepon, Kamis  (14/11/2019) siang.

Mahdinur sedang dinas di Jakarta saat dihubungi untuk menanggapi isu yang iangkat Serambi sebagai liputan khusus pada edisi Rabu berjudul ‘Ramai-ramai Berburu Emas di Geumpang’.

Mahdinur mengakui benar bahwa para pendulang di Aceh telah secara turun-temurun mendulang emas, khususnya di daerah Aceh Barat dan Nagan Raya. Tak terkecuali di Geumpang, Pidie, sebagaimana dilaporkan koran hari ini.

Menurut Mahdinur, kegiatan  mendulang emas yang dilakuan oleh masyarakat hanya bersifat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari (subsisten) saja. Namun, lanjut Mahdinur, ada juga kegiatan yang sudah bersifat komersial, yakni menambang dengan menggunakan alat berat maupun media pemisah emas secara ilegal/penambangan tanpa izin (Peti) yang dilakukan oleh oknum tertentu secara ilegal.

Mahdinur menambahkan, Peti memang terjadi di Aceh meskipun dalam skala kecil dan sporadis. "Peti itu merupakan tindakan melanggar hukum atau tindakan pidana sebagaimana diatur pada Pasal 158 hingga Pasal 160 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara," ujarnya.

Mahdinur juga menyebutkan beberapa upaya yang telah dilakukan Pemerintah Aceh untuk pengurangan aktivitas Peti ini, antara lain, dengan mengeluarkan imbauan Forkopimda terkait larangan penambangan tanpa izin dan larangan menggunakan merkuri dalam kegiatan penambangan.

Usaha lainnya, kata Mahdinur, adalah menyebar poster ke kabupaten/kota tentang bahaya Peti. "Juga ada upaya penertiban bersama oleh Forkopimda untuk memberantas illegal mining," katanya.
Selain itu, Pemerintah Aceh proaktif mencari solusi melalui rencana penetapan wilayah pertambangan rakyat (WPR) yang berada di luar kawasan hutan lindung untuk dapat diusulkan oleh pemerintah kabupaten/kota kepada Pemerintah Aceh.

Seterusnya, lanjut Mahdinur, usulan tersebut disampaikan kepada Menteri ESDM untuk dapat ditetapkan dalam rencana Wilayah Pertambangan Pulau Sumatra (WP). "Dan ini sedang kita usulkan ke Kementerian ESDM pada tahun ini," ujar Mahdinur.

Kepala Bidang Mineral dan Batu Bara (Minerba) pada Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Said Faisal MT, menyatakan bahwa daya tarik emas yang bernilai ekonomi tinggi telah mendorong banyak pendulang di Aceh yang secara turun-temurun mendulang emas, khususnya di daerah Aceh Barat, Nagan Raya, dan Pidie.

"Tapi kegiatan mendulang emas itu biasanya dilakukan oleh masyarakat pendulang pada saat tidak turun ke sawah. Ya, katakanlah sebagai mata pencaharian alternatif untuk menambah penghasilan," ungkap Said Faisal yang ditanyai Serambi di Banda Aceh, Kamis (14/11/2019) siang.

Saat ditanya apakah sumber emasnya dari gunung atau sungai, Said Faisal mengutip penjelasan Kadis ESDM Aceh, Ir Mahdinur MM yang mengatakan, secara geologi  dapat dijelaskan bahwa emas tetap bersumber dari emas primer. Yaitu, emas yang  adanya di dalam batuan dalam bentuk ore (istilah geologi).

Secara alami, dengan proses geologi batuan yang mengandung emas  (ore) sebagai source rock pun tererosi. Kemudian, secara gravitasi emas terpisah dari batuan dan tersedimentasi sebagai endapan aluvial dan endapan plaser di sungai-sungai yang lantas kemudian didulang oleh masyarakat pendulang. Termasuk para pendulang emas di Sungai Geumpang, Pidie.

Sebagaimana diberitakan Serambi, Rabu (13/11/2019), setiap hari puluhan warga Pidie menempuh perjalanan 21 km naik sepeda motor dari Sigli. Kemudian dilanjutkan 3 km berjalan kaki dengan kondisi jalan berbatu dan mendaki. Mereka menuju lokasi memburu emas di pinggir Sungai Geumpang dengan lima titik sasaran.

Warga memburu emas dengan sistem mendulang menggunakan alat tradisional. Satu hari seorang pendulang bisa meraup rupiah dari menjual bijih emas Rp 300.000 hingga Rp 600.000. Tapi ada juga warga tidak beruntung dari hasil mendulang emas.

Peluang mendapat plaser (emas yang didulang dari sungai) memang untung-untungan. Terkadang pendulang mendapatkan butiran plaser, tapi ada kalanya nihil. Itu karena ada sungai yang memang mengandung plaser, ada yang sama sekali tidak.

Ditanya tentang ini, Mahdinur selaku Kadis ESDM mengatakan, potensi plaser di Aceh tersebar di beberapa sungai, seperti Krueng Woyla Tutut, Krueng Kila, Kreung Cut,  Krueng Nagan, dan beberapa sungai yang terhubung dengan source rock ore body sebagai endapan primer intrusi batuan induk.

Di sisi lain, selain indah sebagai perhiasan, emas memang dipilih sebagai aset investasi karena bernilai tinggi. Di kalangan investor, emas bahkan dianggap sebagai aset safe haven. Saat kondisi pasar sedang abnormal, emas memang tidak berisiko kehilangan nilainya.

Dengan demikian, tentu tak mengherankan jika perusahaan emas di berbagai negara berusaha mengolah cadangan emas sebanyak mungkin. Nah, dalam skala mikro dan hanya dengan mengandalkan peralatan seadanya, makin banyak pula warga Aceh yang berburu butiran emas dengan cara mendulangnya di sungai-sungai.

Makin lama mereka tidak turun ke sawah, misalnya karena kemarau panjang, maka makin lama keterlibatan mereka mendulang emas. [] SERAMBI

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.