TamiangNews.com, SULSEL -- Sebelum 1990-an, lereng-lereng perbukitan di Angngeraja hingga ke Kaki Pegunungan Latimojong, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, pernah berhampar tanaman kopi. Dalam 20 tahun terakhir, hampir mustahil melihat pohon itu, kini berganti bawang dan kol.

Foto : Mongabay
Bawang jadi hasil utama kawasan ini. Ia membawa angin segar para petani di Enrekang, dengan panen setiap tiga bulan, dapat menghasilkan uang simultan.

Pupuk dan pestisida, dua hal penting buat keperluan menanam bawang ini. Di Enrekang, kalau seorang datang pakai mobil dan mengangkut berkardus-kardus botol racun, dipastikan itu petani bawang. Boks racun tak akan pernah muat hanya diangkut dengan sepeda motor untuk lahan satu hektar.

Awal Oktober 2019, di pematang hamparan kebun bawang, pandangan lepas. Tak ada tanaman penaung, sekadar berlindung dari sengatan matahari. Bahkan, harus mata harus memicing untuk saling memandang. Bawang tak suka terlindungi. Tanaman itu memerlukan paparan matahari sempurna dan angin. Tanaman ini hampir seperti sawit, monokultur.

Di Baroko, di balik tebing Gunung Bambapuang, seorang petani mengenang masa kecil. Mading, namanya. Petani 50 tahun ini bertani kol dengan hamparan sekitar satu hektar, ada 2.000 tanaman.

Setiap kilogram kol Rp1.500. Kalau semua terjual bisa mendapatkan Rp22,500 juta. Dipotong biaya perawatan dan produksi, sampai pasca panen, dia hanya mendapatkan keuntungan bersih Rp8 juta.

“Tidak begitu banyak, tapi itu teratur karena masa panen tiga bulan,” katanya.


Penghasilan itu, rupanya berbanding terbalik dengan keadaan lingkungan. Orang demam tanam sayur ini hingga tanaman jangka panjang ditebang. “Dulu wilayah ini ada banyak coklat dan kopi, harga rendah, diganti,” katanya.

“Kalau tidak diganti kita mau makan apa.”

Kala saya berbincang di bawah pondok rumah kebunnya, ada beberapa botol merek racun bergelatakan. “Mau bagaimana lagi, kalau nda kasi racun, bisa gagal panen,” katanya, ketika saya menunjuk beberapa racun itu.

Pestisida kimia yang tidak ramah lingkungan, menjadi persoalan lain dalam praktik perkebunan di Indonesia. Ia digunakan tanpa kendali dan para pemasok leluasa menjangkau petani.

Di Enrekang, puluhan petani sudah merasakan dampaknya. Ada yang sakit, hingga meninggal. Ada kejadian ketika petani sedang penyemprotan, tiba-tiba terjatuh dan pingsan. Mereka tak pernah menyadari risiko di depan mata.

Kopi tampak naik daun lagi. Minum kopi bak jadi gaya hidup. Kondisi ini, bisa jadi momen bagi warga menanam kopi di antara tanaman jangka panjang atau jangka pendek lain. Selain menghasilkan secara ekonomi, sekaligus konservasi.


Agil, adalah seorang anak muda yang menggandrungi kopi. Dia membuat kedai kecil di jalan poros Enrekang menuju Toraja, dengan nama Majao. Dia menyebut, kedai itu sebagai laboratorium riset. Bagi dia, kopi adalah minuman yang membuat mabuk dan melupakan dunia sekeliling.

Agil bersepeda motor, menelusuri kampung-kampung pedalaman yang masih mempertahankan kopi. Dia menyaksikan pohon-pohon itu bertahan. “Tak ada kopi jelek. Semua enak. Tergantung selera,” katanya.

Bagi Agil, kopi dan seduhan adalah nilai lain dalam penyajian. Nilai utamanya, bagaimana petani kopi mendapatkan manfaat utama, bukan hanya dari sisi ekonomi, juga lingkungan.

Dia menarik napas ketika mendengar petani di Baroko dan Cakke, sudah berubah, dulu ketika kampung masih tumbuh kopi dan sekarang. Dulu, udara sejuk. “Sekarang, rasanya mau gila. Mau jalan ke kebun dan tetangga saja, kayak mau telanjang,” kata Mading.

Di Enrekang, menanam kopi sudah sejak ratusan tahun lalu. Bersamaan dengan para pedagang Arab di wilayah yang mereka sebut Toraja. Ketika Belanda menaklukan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan, kopi kembali ditanam, orang kampung menyebut sebagai “kopi Belanda.” Kemudian 1970-an, menjadi “kopi Jember.” Hamparan kopi rindang. Tanaman penaung bermacam-macam. Petani pun leluasa memanen kopi tanpa harus tersengat matahari.

Jauh sebelum itu, sejak abad 16, para ahli sejarah menyepakati, Toraja merupakan wilayah pertama yang menanam kopi di Sulawesi Selatan. Ia diperkenalkan melalui orang-orang dari Kerajaan Gowa. Salah satu referensi yang menguatkan, Lontaraq Bilang–catatan harian kerajaan Gowa–dalam literatur itu dilukiskan, orang-orang Gowa berlayar membawa kopi menuju Toraja, melalui Pelabuhan Suppa.

Pada masa itu, kerajaan Gowa dan Toraja memiliki hubungan harmonis. Pelantikan raja-raja Gowa, harus memiliki parang Sudanga,’ yakni pusaka peninggalan Lakipadada–seorang yang dianggap To Manurung (manusia pertama) dari Toraja.

Abad 18, kopi menjadi komoditas sangat penting untuk masyarakat Sulawesi Selatan. Ia dikonsumsi berbagai kalangan tanpa membedakan kelas sosial. Kopi juga menyerap masuk dalam mitologi masyarakat. Biji kopi biasa diendapkan di pusar rumah untuk meghalau bala. Bahkan, anak baru lahir, harus diberikan sedikit jilatan kopi pekat agar tak kena mata tinggi.

Pada abad 19, kopi mencapai masa puncak. Dias Paradadimara, sejarawan Universitas Hasanuddin yang pernah meneliti tentang tata niaga kopi di Sulsel, mengatakan, kalau “mutiara hitam” itu adalah penyelamat utama perdagangan Indonesia sepanjang abad itu, jauh sebelum perkebunan gula dikembangkan pemerintah Hindia Belanda. “Suplai terbesar kopi masa itu adalah Jawa, sebagian Sumatera dan Sulawesi,” katanya.

Di Sulawesi Selatan, kata Dias, tren kopi yang meningkat membuat persaingan perdagangan, antara kopi di selatan di sekitaran Wajo, Sidenreng, Camba, dan sebagian Sinjai. Sementara wilayah utara adalah Toraja dan Enrekang.

Di Sulawesi Selatan, Enrekang disebut sebagai kopi Kalosi, adalah salah satu yang terbaik. Produksi melimpah, dalam catatan BPS Enrekang mencapai 7.000 ton per tahun, perkiraan lapangan hanya 4.000 ton.

“Sekarang orang bicara mengenai kopi, terus menerus. Itu mulai menjenuhkan, karena hanya mengenai keuntungan pasar. Kita tak pernah bicara jauh kedepan. Kita tak ingin bersusah sedikit untuk melihat bagaimana kopi sebagai tanaman jangka panjang menjaga alam kita,” kata Agil.

“Jika orang tak membicarakan itu, saya khawatir kopi terus menerus dikalahkan bawang,” katanya.

Pernyataan Agil, beralasan. Dia melihat praktik di lapangan. “Mimpi saya, kopi menjadi tanaman sehat, juga bisa menyelamatkan bumi ini.”

Cerita lain juga datang dari pedagang kopi. Yolan, anak muda dari Enrekang ini seoarang pedagang kopi. Kopi yang dia jual dari Kampung Angin-angin, Karangan, Bone-bone dan beberapa wilayah lain.

Biji-biji itu dia karungkan dengan lapisan plastik khusus. Kemudian di Makassar akan disortir kembali. Perkiraan dia, pada 2019, hanya bisa mengirim kopi sekitar 15 ton. Pada 2018, sekitar 20 ton. Kualitas terus merosot walau produksi sama.

“Coba liat, ini banyak sekali kopi rusak. Gepeng dan tak berisi,” katanya.

Biji kopi begitu banyak quacker–rusak. Biji ketika dipanggang, tetap terlihat mentah, warna tetap coklat. Beberapa orang menganggap sebagai biji muda padahal kekurangan nutrisi. Biji-biji rusak itu kebanyakan dari Karangan. “Saya rasa dalam pengalaman, karena kopi di Karangan, tak memiliki penaung. Kopi dengan penaung biji baik, rusak sangat kurang,” katanya.

Yolan memberi contoh kopi di Malino. Biji padat dan bagus karena ditanam dalam hutan atau kawasan bertutupan, rindang dan kelembaban terjaga.

“Kalau edukasi ke petani terus ditingkatkan, bukan menggenjot mereka hanya untuk kuantitas, mungkin kelak kita bisa mengenalkan soal hutan kopi,” katanya.

Pohon-pohon kopi itu tumbuh dengan perawatan baik. Ketika harga kopi kering jatuh hingga Rp500 perliter pada 1980-an, pohon kopi itu tetap kokoh. Itulah kebun kopi Yusuf. Kebun ini warisan dari sang ayah.

Bagi Yusuf, kopi adalah warisan terbaik. Ia ditanam pada lahan-lahan beragam kemiringan dan menjaga permukaan tanah selalu kuat, menghalau aliran hujan yang bergerak cepat.

“Di Benteng Alla, ada banyak orang menanam kopi. Kopi itu tanaman jangka panjang. Itu kenapa kami hampir tak ada tanah longsor,” kata pria kelahiran 1954 ini.

Yusuf tinggal di Dusun Buntu Dama, Benteng Alla, tempat salah satu citra kopi terbaik di Enrekang, Sulawesi Selatan. Dia mengikuti beberapa kali pertemuan mengenai cara petik, jemur sampai perawatan kopi.

“Dulu, kopi hitam dan kasi gula. Rupanya, kopi memiliki aneka rasa. Tempat-tempat terbaik menghasilkan kopi terbaik pula. Benteng Alla, salah satunya,” katanya.

Yusuf, punya empat kebun kopi, total ada tiga hektar. Usia tanaman bervariasi, mulai 10 tahun, 15 tahun, hingga melebihi usia dia sendiri.

Kopi-kopi itu bernaung di bawah lamtoro dan beberapa kayu keras lain. Petani di Benteng Alla, pakai kayu itu sebagai penaung karena bisa untuk pakan ternak. “Kami menunggu panen kopi, lalu merawat tanaman. Ini yang menghidupi ekonomi saya.”

Di Benteng Alla, bukan tak mungkin tanaman agroindustri seperti sayuran, akan mendesak. Labusiam, hingga beberapa lahan kentang mulai terlihat. Yusuf tak menanam sayuran karena sudah tua. Dia tak mampu lagi bekerja keras di kebun setiap saat.

Warga banyak pilih tanam sayur mayur karena usia pendek. Panen ini memungkinkan petani mengelola ekonomi. “Ada banyak petani dan keluarga yang sekolahkan anak atau kuliah. Kebutuhan uang anak sekolah tak bisa diperkirakan, tanam sayur akan lebih membantu menjaga pengeluaran,” kata Yusuf.

Sedangkan kopi panen raya setahun sekali. Keuangan atau ekonomi keluarga bisa terkelola baik kalau ada penghasilan lain.

Pada 2018, harga biji kopi merah di pasaran Rp11.000 perkilogram. Dengan harga itu, katanya, tetap baik dan memberi keuntungan para petani. Bagi Yusuf, perkembangan kopi akan makin baik.

Di Enrekang, kedai kopi mulai bermunculan. Kedai-kedai itu, katanya, menyuguhkan kopi dengan karakteristik masing-masing wilayah. Bukan hanya soal kopi pahit.

“Kalau itu terus tumbuh, kami petani juga pasti senang.”

Tahun 2019, kemarau panjang. Udara di hampir semua tempat di Sulawesi Selatan, begitu menyengat. Di Enrekang, punggung-punggung bukit memperlihatkan ilalang kuning seperti terpanggang. Di ujung tangkai pohon banyak kering. Kopi dengan penaungan baik memamerkan hal berbeda. Bunga kopi lebih banyak, kemungkinan akan lebih banyak buah.

“Kalau tetap kemarau, mungkin kopi akan baik. Bapak saya, sejak dulu mengajari jika tanam kopi harus ada pelindung. Saya kira inilah buktinya,” kata Yusuf.

Pada Juni 2018, banjir melanda Enrekang. Air meluap dan berlari kencang di jalan Poros Cakke dan Angngeraja. Air keruh membawa lumpur dan batuan. Beberapa warga menyebut, kejadian itu terparah sejak 15 tahun terakhir.

Saat ini, musim sedang kemarau. Wilayah Enrekang hingga Toraja, berada di ketinggian sedang merindukan hujan.

Di Angngeraja, saya melihat tempat air berlari ketika banjir tahun lalu. Lereng-lereng terjal memamerkan lansekap tanah terbuka. Kering dan berdebu. Hanya daun bawang terlihat hijau. Selebihnya, menguning.

Di Sudu, gudang salah satu pengepul kopi terbesar di Enrekang, tak ada kegiatan. Ada ratusan karung biji kopi belum terserap pasar. Beberapa masih tertutup terpal. Kotor. Biji-biji kualitas rendah itu yang melanglang buana ke warung-warung kopi kita. Kalau barista tak telaten memahami cita rasa, saat pemanggangan, biji-biji yang diselimuti debu itu dapat berasa earty – memiliki rasa tanah yang kuat.

Ardhi Ramadhan, mahasiswa arkeologi tingkat akhir di Unversitas Hasanuddin, menerawang di antara tebing karst di Maros. Dia melihat bentangan “sisa-sisa” pohon kopi robusta di hadapan kami. Pohon itu bediri seperti hendak meranggas. Akar muncul menembus cela batuan. “Mungkin kita harus kembali mempertimbangkan ekosistem dan nilai konservasi kopi,” katanya.

Pikiran Ardhi tak berlebihan. Konservasi dan kopi, sangat mungkin. Pada 1893-1896, ketika Paul dan Fritz Sarasin, pengelana dari Swiss, melakukan perjalanan di Sulawesi, mencatat bagaimana perdagangan kopi marak.

Mereka berpapasan dengan rombongan kuda bermuatan kopi di Duri. Awalnya, ada 23 kuda, kemudian 16 kuda, lalu 12 kuda dan orang bersenjata tombak menjadi pengiring. Kopi-kopi akan dibawa menuju Enrekang dan ke Sidenreng.

Pada periode perjalanannya itu juga, ketika duo Sarasin itu menapak Bantaeng, mereka mencatat tentang hutan Gunung Loka dan kebun kopi yang jadi rumah bagi kehidupan berbagai jenis burung. Nyanyian ramai di pagi hari seperti Pachy cephala meridionalis butt dan Zosterops anomala.

Sarasin juga menemukan beberapa jenis ular unik dan hidup di bawah tanah. Adalah Calamaria mulleri, nama Mulleri tersemat sebagai penghormatan untuk ahli reptil Fritz Muller. Ada pula katak pohon unik dan siput tanah yang hadir meski dalam musim kering.

Bersama Ardhi hal ini jugalah yang kami rasakan saat menapaki lereng karst yang terjal itu. Beristirahat di bawah pohon kopi yang sejuk. Kupu-kupu bermain, seperti terjebak dalam pusaran tangkai kopi. Burung kecil jenis pleci bermain. [] MONGABAY

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.