TamiangNews.com, GARUT -- Rustandi, salah seorang warga Kampung Sukasari, Kecamatan Mekarsari, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, memindahkan makam ayah dan kakaknya yang berada di pemakaman umum dekat rumahnya. Ia dibantu oleh warga sekitar untuk mengangkat jenazah keluarganya yang telah puluhan tahun dikubur itu.

Foto : Ilustrasi
Lelaki berusia 48 tahun itu diperitahkan oleh tokoh agama di lingkungan mereka untuk segera memindahkan makam keluarganya. Bukan hanya makam milik keluarga Rustandi, melainkan makam-makam lainnya yang berada di lokasi itu.

Makam milik keluarga Rustandi berada di tanah berupa tebing. Dalam sepekan terakhir, terjadi pergeseran tanah. Ketika Republika.co.id mendatangi lokasi pemakaman, pergerakan tanah terjadi hampir di sekeliling pemakaman umum tersebut. 

"Kata Pak Haji suruh pindahin saja ke tanah wakaf miliknya. Keluarga saya juga menerima ini dipindah daripada kenapa-napa," kata dia kepada Republika.co.id, Rabu (30/10). 

Menurut dia, ada puluhan makam yang berada di lokasi itu. Pemindahan makam itu sudah dilakukan oleh warga sejak Selasa (29/10). Rencananya semua makam itu akan ditempatkan ke tanah wakaf yang lokasinya berjarak sekitar 1 kilometer dari lokasi saat ini.

Rustandi mengatakan, pergerakan tanah yang terjadi di pemakaman umum itu membuat warga sekitar khawatir. Pasalnya, lokasi terjadinya pergerakan tanah jaraknya tak sampai 100 meter ke pemukiman warga. Sementara, sejak diketahui adanya pergerakan tanah sepekan lalu, rekahan yang terjadi semakin dalam dan melebar.

Meski begitu, menurut dia, hingga saat ini belum ada instruksi dari aparat setempat agar warga mengungsi. Warga hanya diimbau untuk semakin waspada, apalagi sebetar lagi akan memasuki musim hujan.

"Kita semakin waspada kalau turun hujan terus diperhatiin. Saya harap juga pemerintah terus kontrol agar aman semua," kata dia.

Ketua RW 04 Kampung Sukasari, Abdurrahman mengatakan, pergerakan tanah yang terjadi di pemakaman umum itu kali pertama diketahui pada pekan lalu. Awalnya, hanya terlihat retakan tanah selebar 2 sentimeter dengan panjang beberapa meter di satu titik. Namun semakin lama retakan tanah semakin melebar dan meluas. Saat ini, lebar retakan tanah itu mencapai 30 sentimeter, dengan kedalaman 4,5 meter dan meluas hingga ratusan meter.

"Tidak ada tanda, tahu-tahu retak," kata dia.

Akibat retakan itu, warga sekitar berinisiatif untuk memindahkan makam keluarga mereka. Hingga saat ini, setidaknya telah ada 21 makam yang dipindahkan. Namun, pergerakan tanah itu tak hanya mengancam makam, melainkan juga rumah warga.

Ia menyebutkan, terdapat sekitar 50 rumah milik warga yang berdiri di sekitar lokasi pergerakan tanah itu. Sekitar 60 kepala keluarga (KK) atau 240 jiwa terancam longsor. Bahkan, ada enam rumah atau delapan KK berada di bawah tebing yang terancam longsor itu. Namun, hingga saat ini belum ada perintah untuk mengungsikan warga.

"Warga mulai khawatir akan keselamatannya. Takutnya ada longsor besar. Kalau tambah parah, kita ungsikan," kata dia.

Abdurrahman mengatakan, pihaknya telah melaporkan kejadian itu ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut. Pemkab juga telah mengontrol langsung lokasi pergerakan tanah. 

Untuk sementara, warga hanya disarankan untuk meningkatkan kewaspadaan dan mulai mengantisipasi kemungkinan terburuk. Selain itu, aparat desa juga diistruksikan untuk menebang pohon bambu yang berada di lokasi. 

Menurut dia, berdasarkan hasil pantauan pemkab yang juga didampingi ahli geologi, pergerakan tanah itu diperkirakan terjadi akibat angin kencang selama musim kemarau. Akar bambu yang merambat ke bawah tanah menyebabkan tanah ikut bergerak, lantaran angin kuat menggoyang pohon bambu. Selain itu, kata dia, diperkirakan di lokasi itu terdapat patahan lempengan bumi.

Ia mengatakan, di wilayah itu memang pernah terjadi longsor. Namun, longsor hanya terjadi kecil dan tak menimbulkan kerugian berarti untuk warga.

"Tahun kemarin longsor, cuma kecil. Kalau saat ini retakannnya besar," kata dia.

Aparat Desa Mekarsari, Teteng Ahmad Faqih mengatakan, pihaknya telah menyarankan kepada warga yang tinggal di bawah tebing itu untuk mengungsi jika malam hari. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi kejadian yang tak diinginkan.

Ia juga telah meminta aparat setempat untuk terus memantau pergerakan tanah yang terjadi. Jika semakin parah, warga diimbau untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. 

Ia juga mengimbau warga untuk terus waspada. Pasalnya pergerakan tanah itu sangat berpotensi untuk menimbulkan longsoran.

"Dulu pernah longsor, beberapa tahun terakhir. Itu baru sekali. Sekarang potensi lagi," kata dia. [] REPUBLIKA

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.