TamiangNews.com, BANDA ACEH -- Ulama kharismatik Aceh, Tgk H Mustafa Ahmad atau Abu Paloh Gadeng mengimbau kepada masyarakat Aceh, agar tidak mudah terpengaruh dengan bujuk rayu agen ilegal yang menjanjikan pekerjaan di Malaysia.

Foto : Ilustrasi
Sebab, menurutnya, fakta yang ditemukan, banyak kasus gadis Aceh dijual dan dipekerjakan pada tempat-tempat hiburan dan pelacuran di negeri jiran tersebut.

Banyak juga kasus pemuda Aceh dipaksa menjadi agen atau penyelundup narkoba.

“Saya berharap kepada saudara-saudara saya yang ada di Aceh atau di Malaysia, supaya menjaga generasi muda. Janganlah mengharapkan kerja, tapi malah mendapatkan malapetaka,” ungkap Abu Paloh Gadeng, didampingi Presiden Komuniti Melayu Aceh Malaysia (KMAM), Datuk H Mansyur bin Usman, kepada Serambi, di Kuala Lumpur, Malaysia, pekan lalu.

Abu Paloh Gadeng dan Datuk Mansyur dimintai tanggapannya terhadap liputan eksklusif  “Gadis Aceh Dijual di Malaysia” yang dilansir Serambi Indonesia, edisi Sabtu (5/10/2019).

Abu Paloh Gadeng berada di Malaysia bersama putranya dan beberapa pendamping dalam rangka berobat dan menghadiri pertemuan dengan komunitas Aceh di sana.

Abu Paloh Gadeng mengatakan, informasi yang diperolehnya dari komunitas Aceh di Malaysia, maupun dari laporan media massa tentang gadis-gadis Aceh yang dijual kemudian menjadi budak di tempat pelacuran dan menghadapi penganiayaan.

Abu Paloh Gadeng juga mendapat informasi tentang anak-anak muda Aceh yang dibawa ke Malaysia kemudian menjadi agen dan penyelundup narkoba.

“Dua perkara ini dapat menghancurkan marwah generasi muda Aceh, wanita maupun pria. Makanya, saya berharap kepada saudara-saudara saya yang ada di Aceh, menjaga anak-anaknya agar tidak mudah tergoda dengan janji-janji muluk untuk bekerja di Malaysia,” ungkapnya.

Jika pun ingin pergi ke Malaysia, lanjut Abu, sebaiknya melalui agen TKI yang resmi di Dinas Ketenagakerjaan.

Tentunya dengan mencari informasi secara detil, apa pekerjaannya, di mana tinggal, dan ke mana menyampaikan persoalan.

Ia juga mengingatkan kepada orang-orang yang membawa tenaga kerja dari Aceh ke Malaysia, agar tidak melangkahi aturan agama dalam mencari harta dan kekayaan.

Kita sudah melihat, mendengar, dan membaca di media massa bahwa ada oknum-oknum yang membawa anak-anak muda dengan menjanjikan kerja, padahal hasilnya mereka sudah dijual,” ujarnya.

Anasir jahat

Presiden KMAM, Datuk Mansyur bin Usman, menambahkan, berdasarkan data dan laporan yang diterima pihaknya, dalam beberapa waktu terakhir banyak wanita  muda asal Aceh yang terpengaruh oleh anasir-anasir jahat dan janji-janji muluk yang diembuskan oleh agen liar.

“Mereka dijanjikan dapat pekerjaan di Malaysia. Tapi, apa yang berlaku saat ini, kami lihat banyak hal-hal yang kurang positif, mereka menjadi korban perdagangan manusia,” ungkap Datuk Mansyur.

“Masyarakat Aceh yang ada di sini sangat tersentuh dengan laporan-laporan media di sini, bahwasanya wanita-wanita muda, termasuk asal Aceh, sudah dijadikan sebagai manusia yang sangat hina dalam pandangan agama. Tujuannya bukan seperti yang diharapkan oleh keluarga mereka yaitu mendapat rezeki secara halal, tapi malah sebaliknya,” imbuh pria kelahiran Aceh Utara yang menerima gelar datuk dari Kerajaan Malaysia atas dedikasinya dalam berbagai kegiatan sosial di negara itu. 

Datuk Mansyur juga mengatakan, seiring makin banyaknya warga Aceh di Malaysia, pihaknya mulai kesulitan untuk membantu menangani perkara yang terjadi hampir setiap hari. Hal yang sama, lanjut Datuk Mansyur, juga dialami pihak KBRI yang kewalahan menangani perkara yang menimpa warga Indonesia, termasuk asal Aceh.

“Saat ini, jumlah warga Indonesia di Malaysia sekitar 4,8 juta orang. Jadi, saya pikir KBRI juga terlalu sibuk menangani semua persoalan yang menimpa para tenaga kerja asal Indonesia. Makanya, tiap tiga bulan sekali, KBRI memanggil semua kepala suku (ketua komunitas Indonesia di Malaysia) dan menyampaikan pesan untuk ikut menjaga komunitas masing-masing,” ujarnya.

Karenanya, Datuk Mansyur mengharapkan kepada para orang tua di Aceh agar tidak membiarkan anak-anak gadisnya pergi ke Malaysia melalui agen ilegal, apapun alasannya. “Anak-anak gadis yang ingin ke Malaysia harus didampingi oleh keluarga. Kalau mereka datang ke sini bersama keluarga, Insya Allah mereka akan selamat,” ujarnya.

“Tapi kalau agen yang datang menjumpai keluarga di Aceh, maka keluarga harus menolaknya. Karena ujung-ujungnya akan jadi korban dan menjadi malapetaka sebagaimana yang Abu sebutkan tadi,” pungkas Datuk Mansyur yang didampingi dua anggota Komunitas Aceh di Malaysia, Jafar Insya Reubee dan Boihaki.

Kerja banyak pihak

Sementara itu, tokoh Aceh di Malaysia, Bukhari bin Ibrahim, menyampaikan terima kasih kepada Kerajaan dan pihak Kepolisian Malaysia yang sudah banyak membantu menyelesaikan perkara-perkara yang menimpa tenaga kerja Indonesia, termasuk asal Aceh.

“Malaysia adalah negara yang nyaman dan damai. Tapi, jika mau bekerja ke sini, hendaknya kita patuhi aturan dari kedua negara, Indonesia dan Malaysia, sehingga tidak menjadi mangsa perdagangan manusia dan berbagai kejahatan lain,” ungkap Bukhari yang menghubungi Serambi via WhatsApp (WA), Minggu (6/10)/2019).

Ia menyampaikan, kerja-kerja sosial dan kemanusiaan yang dilakukannya selama ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, terutama komunitas Aceh Peduli di Kelang, Selayang, Pandan Mewah dan berbagai tempat lain di Malaysia.

Termasuk keterlibatan Datuk Mansyur, pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), Anggota DPD RI asal Aceh, H Sudirman (Haji Uma), serta tentunya bantuan dari pihak Kerajaan dan Kepolisian di Malaysia. [] SERAMBI


Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.