TamiangNews.com, JAKARTA -- Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan membawa bendera kuning kematian membuka rangkaian aksi bertajuk 'Pemakaman KPK' sebagai refleksi terhadap situasi terkini, Selasa (17/9) malam.

Foto :  cnn
Langkah kaki terburu-buru dengan beberapa wajah menundukkan kepala bergegas menuju sisi kiri gedung dwiwarna KPK yang berada di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Ramai elemen masyarakat yang selama ini menolak revisi UU KPK hadir mengikuti aksi 'Pemakaman KPK' malam ini.

Meski ramai yang hadir, suasana malam itu di kompleks Gedung KPK terasa hening pada mulanya. Deru laju kendaraan di sepanjang Jalan HR Rasuna Said tak mengganggu jalannya aksi duka menentang siasat pengambil kebijakan yang dinilai 'membunuh KPK'.

Sementara itu, pegawai KPK yang membawa bendera kuning tak terlihat jelas paras masing-masing karena masker hijau yang mereka kenakan menutup sebagian wajah.

'Mereka dirampas haknya, tergusur dan lapar. Bunda relakan darah juang kami, padamu kami berjanji.'

Lagu 'Darah Juang' karya musisi John Tobing yang kerap jadi simbol perjuangan pergerakan mahasiswa saat menggulingkan rezim Orde Baru pada 1998 silam terdengar mengiringi lewat pengeras suara.

Sejumlah aparat kepolisian berada di sisi kanan gedung mengawasi dengan sisipan obrolan santai di dalam percakapannya.

Ketua YLBHI Asfinawati membuka aksi 'Pemakaman KPK' malam ini. Ia dengan tegas mengungkapkan, apa yang selama ini didukung lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan masyarakat sipil lainnya adalah nilai-nilai perjuangan yang ada di tubuh KPK. Pernyataan Asfinawati itu pun dengan tegas menegasikan tudingan sejumlah pihak yang menyebut mereka berada di barisan pegawai KPK.

"Karena itu Bapak Ibu adalah salah mengatakan kita membela KPK, apalagi membela para pekerja di KPK. Tentu saja kita mendukung mereka, tetapi sesungguhnya yang kita bela bukan lembaga, orang, yang kita bela adalah nilai-nilai yang ada di dalamnya; yang kita bela adalah semangat pemberantasan korupsi," tegas Asfinawati lantang di Lobi Gedung Merah Putih KPK, Selasa (17/9) malam.

"Dan di bawah itu semua yang kita bela adalah bangsa Indonesia, negara Indonesia yang dibentuk tahun 1945, yang salah satu tujuan utamanya adalah untuk menyejahterakan rakyat Indonesia" sambungnya.

Asfinawati mengatakan pengesahan revisi UU KPK menjadi undang-undang yang dilakukan dalam Rapat Paripurna DPR pada siang tadi telah menyerang garda terdepan pemberantasan korupsi di Indonesia. Oleh karena itu, kata dia, malam ini menjadi 'perayaan' duka atas matinya KPK.

"Malam ini kita semua berduka, kita sudah mendengar bahwa gedung di belakang ini [KPK] bukan lagi akan menjadi benteng terakhir pemberantasan korupsi," tuturnya.

Keranda jenazah dengan nisan tertulis 'RIP KPK' dikeluarkan dengan hati-hati dari dalam gedung saat Cholil dari band Efek Rumah Kaca melantunkan puisi Bunga dan Tembok diiringi alunan gitarnya. Masyarakat yang hadir terlihat takzim menyaksikan, mereka pun ikut larut melantunkan apa yang disenandungkan Cholil.

Salah satu fungsional PJKAKI, Sutarno tersentuh di tengah lantunan tersebut. Ia pun mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dan para Anggota DPR. Dia pun berharap, Jokowi maupun para anggota dewan masih bisa tergugah nuraninya untuk membela rakyat.

"Saya yakin Pak Jokowi masih punya hati, saya yakin para wakil rakyat juga punya hati. Cuma mereka takut berbeda dengan kami," katanya.

Penerangan tiba-tiba dimatikan. Suara sirene mengaung keras disusul munculnya tembakan-tembakan laser dengan titik-titik merah mengarah ke logo KPK.

"Sebagai simbol bahwa pemberantasan korupsi menjadi target koruptor kelas kakap," jelas salah satu orator dengan lantang lewat pengeras suara.

Tembakan laser dilakukan untuk beberapa menit lamanya. Pembacaan puisi oleh pegawai KPK kemudian menutup rangkaian duka 'Pemakaman KPK'

'Duka Ibu pertiwi/ Bu, hari ini kami menangis lagi/Meratapi bahwa lembaga harapan negeri ini habis digembosi/ Bicara korupsi memang tidak lagi memandang mana koalisi dan mana oposisi/Karena nyatanya KPK hari ini sudah selesai dihabisi//,' begitu nukilan puisi tersebut.

Namun, aksi itu tak berjalan khidmat karena terjadi keributan yang dipicu dilakukan provokator dari arah luar area KPK. Tidak diketahui jelas apa yang menyebabkan keributan tersebut. Masyarakat yang hadir kompak menyuarakan agar tidak ada yang terprovokasi.

Setelah terjadinya peristiwa itu, aparat kepolisian membubarkan diri dari lokasi semula yang ditempatinya.

Pada siang tadi, lewat Rapat Paripurna DPR dan Pemerintah menyepakati revisi UU KPK disahkan jadi undang-undang. Pengesahan revisi UU KPK itu mengundang 'kemarahan' karena dinilai memberangus lembaga antirasuah tersebut.

Beberapa poin kontroversial dari perubahan UU KPK adalah pembentukan Dewan Pengawas dan tentang izin penyadapan, penggeledahan, serta penyitaan. [] CNN

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.