“Tuah besi bisa diramal, namun tuah manusia tiada yang tahu.”

TamiangNews.com, MELBOURNE -- Quote di atas menggambarkan bahwa perjalanan nasib manusia tak bisa diprediksi dengan logika. Ia menjadi misteri sang penguasa alam, untuk mengangkat siapa saja yang dikehendakinya, dari kondisi yang paling rendah ke tempat yang tertinggi, atau sebaliknya, sesuai kehendaknya. 


Tujuannya, agar sesama manusia saling menolong, menghormati, dan menyayangi, serta jauh dari sikap takabbur (sombong) dengan kelebihan yang dimiliki. 

Adalah Sophy Ron (SR), seorang gadis cilik dari Kamboja, yang tinggal di dekat ‘gunung sampah’, bersama orangtuanya yang berprofesi sebagai pemulung. 

Setiap hari SR membantu orangtuanya memilah-milah sampah yang masih bisa dimanfaatkan. 

Sebuah masa kecil yang harusnya digunakan untuk belajar dan bermain, ternyata harus dihabiskan di tempat sampah. 

Bahkan urusan makanan pun adalah sisa-sisa makanan yang ditemukan di tempat pembuangan akhir tersebut. 

‘Gunungan Sampah’ bagi SR kecil adalah rumah, sekolah, dan sumber makanannya. Gas beracun dan berbagai bau tak sedap adalah bumbu kehidupannya sehari-hari. 

Hingga suatu hari, nasib baik menghampiri SR. Cambodian Children's Fund (CCF), sejenis lembaga perlindungan anak-anak terlantar, menemukan SR dan memungutnya untuk diberi biaya kehidupan dan pendidikan. 

Tentu SR sangat senang dan tak menyia-nyiakan keberuntungan itu. Tidak ada penjelasan di mana SR dan orangtuanya tinggal setelah itu. Yang jelas, ia bisa sekolah dibiayai oleh pemerintah sampai tamat SMA dengan prestasi yang membanggakan. 

Yang lebih mencengangkan, penampilan masa kecilnya yang dulu terlihat begitu kumuh dan dekil, sekarang terlihat bak sekumtum bunga harum yang sedang mekar. SR telah tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang beranjak dewasa.

Dan yang lebih membanggakan, SR dinobatkan sebagai alumni terbaik dari sekolahnya, sehingga ia berhak mendapat beasiswa untuk melanjutkan studinya ke Universitas Melbourne.

Meski demikian, SR tidak melupakan masa lalunya dan orangtuanya. Sebelum berangkat ke Melbourne, SR tetap menyempatkan diri mengunjungi orangtuanya di Kamboja, memberitahukan prestasinya, dan yang lebih penting minta restu kepada mereka.

Orangtua mana yang tak bangga dan terharu, jika anak yang secara logika tiada jalan untuk bisa mengenyam pendidikan di Universitas bergengsi itu, tiba-tiba langit memperlihatkan mukjizatnya, membalik hal yang mustahil menjadi nyata.

So, jangan berkecil hati dengan keadaan. Teruslah berusaha dan berdoa. Karena jika yang Maha Kuasa sudah membukakan jalannya, maka jarak antara Kamboja dan Melbourne hanyalah sejengkal tangan. [] KASKUS

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.