TamiangNews.com | BANDAR PUSAKA -- Semoga saja tidak janji palsu yang sering diucapkan para pengejar kedudukan, hal itu dirasakan oleh  seorang pemuda warga Desa Ceumpa, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang. Dia berharap Bupati H. Mursil, SH, M.Kn yang pernah berjanji akan membangun rumah ibunya yang tidak layak huni. 
Kala itu saat acara peresmian Balai Adat, sang pembawa janji melihat rumah tidak layak huni milik ibu Aliyah langsung memerintahkan Camat Banda Pusaka untuk membantu membangun rumah tersebut.   

Hal tersebut disampaikan oleh Wahyu anak ibu Aliyah, seorang warga setempat meminta Bupati dapat menepati bahasa yang telah disampaikanya kepada Tamiangnews.com, Sabtu (7/9).  

Wahyu menceritakan, pada tanggal 6 April 2019, Pemkab Aceh Tamiang sedang menyelenggarakan Peresmian pembangunan Balai Adat desa yang dibangun atas kerjasama pemerintah bersama salah satu Lembaga swadaya Masyarakat (LSM), saat sedang menepung tawari Balai tersebut sepintas orang nomor satu di Aceh Tamiang ini melihat sebuah rumah reot yang dihuni ibu Aliyah beserta anaknya Wahyu yang tepat berada disamping Balai Adat tersebut, spontan karena melihat rumah ibarat dapur berukuran 2 x 3 tersebut, dirinya langsung memerintahkan Camat Bandar Pusaka pada saat itu, untuk segera membantu pembangunan rumah sehat layak huni untuk ibu Aliyah seorang janda Lanjut usia.

Namun sangat disayangkan, hampir berjalan 5 bulan berlalu harapan Wahyu dan ibunya Aliyah untuk memiliki rumah sehat layak huni yang di ucapkan Bupati tersebut belum juga terealisasi hingga saat ini.

Wahyu, kepada awak Media dan Direktur Eksekutif LSM LembAHtari yang sedang beraktifitas di desa Pantai Cempa saat itu mengatakan, dia sudah mengurus segala syarat Administrasi di Desa, dirinya langsung ke kantor Kecamatan seperti yang diarahkan Bupati, namun dari pihak Kecamatan dirinya kembali diarahkan untuk membawa berkas ke Kantor Baitul Mal untuk guna mengantarkan berkas Administrasi tersebut guna mendapatkan rumah bantuan.

" Padahal waktu itu Bupati berpesan agar berkas administrasinya diantar ke kantor camat, biar orang kecamatan yanf membawa berkas ke Baitul Mal,  ini kok sudah beda mengapa saya yang harus mengantarke Baitul Mal.

Karena mengharapkan bantuan rumah tersebut apalagi Buoati yang berjanji diapun pergi mengantarkan berkas tersebut ke Baitul Mal, namun sangat mengecewakan, sesampainya di Baitul Mal saya malah disuruh sabar dulu, karena rumah saya harus di survey dulu, apakah layak dibantu atau tidak, ironisnya hingga saat ini belum orang yang mrlakukan survey kerumahnya, saya hanya otang kampung yang miskin terus terang saya berharap sekali bahasa atau janji Bupati membantu membangun rumah reot kami itu benar benar terwujud bukan hanya janji palsu" ujarnya.

Diwaktu yang sama pula, Direktur Eksekutif LSM LembAHtari Sayed Zainal M, SH, yang mengetahui persoalan dan pernah melihat langsung kondisi rumah itu jyga merasa prihatin atas kekecewaan Wahyu, dia juga menambahkan, melihat dari dekat Balai Adat Desa Pantai Cempa yang hingga saat ini Kelembagaan Adatnya juga tidak diketahui dimana, sehingga Balai Adat Desa terkesan hanya membangun ruang kosong untuk pelaksanaan kenduri atau dipersiapkan untuk mengelola pemanfaatan hutan yang perkebunan sawitnya telah diambil alih untuk dikonservasi. 

"Sementara itu, ada hal yang lebih penting lagi seketika melihat Ibu Aliyah seorang Janda Tua dengan rumah atau gubuk reotnya disamping Balai Adat, ditambah lagi tapak tanahnya terkena cucuran Air bangunan Balai Adat, serta yang dijanjikan akan dibangun atau dapat bantuan rumah, Alhasil hingga saat ini kita lihat tidak ada perubahan, masih tetap berdiri gubuk tuanya yang berukuran 2x3 ini", tambahnya.[] TN-W008.

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.