TamiangNews.com, JAKARTA -- Rignolda Djamaluddin adalah akademisi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan QSam Ratulangi Manado. Pada 2017, bersama Ben Brown, ia menerbitkan buku berjudul “A Site History & Field Guide for Ecological Mangrove Rahabilitation in Tiwoho Village, Bunaken National Marine Park, North Sulawesi, Indonesia”.

Foto : Rignolda Djamaluddin ( Mongabay)
Tahun 2019, Rignolda kembali menerbitkan buku berjudul “Mangrove: Biologi, Ekologi, Rehabilitasi dan Konservasi”. Dia telah terlibat berbagai riset mengenai mangrove yang dipublikasi dalam bentuk jurnal, di dalam maupun di luar negeri.

Pada tahun 2006, Rignolda memperkenalkan teknik hydrological restoration untuk memulihkan ekosistem mangrove di desa Tiwoho. Dulunya, kawasan mangrove di desa ini dialihfungsikan menjadi tambak seluas 20 hektar. Kini, setelah pemulihan, kawasan mangrove di desa Tiwoho memiliki luasan sekitar 65 hektar.

Restorasi hidrologi adalah teknik yang bertujuan mengembalikan sistem hidrologi lahan, setelah melakukan asesmen ketersediaan benih, maka hidrologi lahan diperbaiki. Tiwoho disebut sebagai satu-satunya wilayah di Indonesia yang melakukan restorasi dengan menggunakan teknik hydrological restoration. Di dunia, yang pernah menerapkannya hanya di Florida, Amerika.


Rignolda Djamaluddin, akademisi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi Manado, mengadakan survei mangrove di desa Tiwoho, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, pada hari Jumat-Sabtu (22-23/8/2019).

Kawasan mangrove desa ini pernah mengalami kerusakan akibat penebangan maupun alihfungsi menjadi tambak hingga 20 hektar. Namun, lewat sejumlah pendekatan dan teknik rehabilitasi, kawasan mangrove di desa ini mengalami pemulihan. Kini, luasnya mencapai 65 hektar.

Nama Rignolda sulit diabaikan dalam proses restorasi mangrove di desa itu. Soalnya, dia ikut memberi sumbangsih penting, mulai dari pendampingan masyarakat hingga memperkenalkan teknik Hydrological Restoration.


Perkumpulan Kelola (Kelompok Pengelola Sumberdaya Alam), organisasi yang kini dipimpin Rignolda, sejak tahun 1995 telah terlibat dalam penyusunan strategi pengeloaan mangrove di desa Tiwoho. Dalam kurun 2000 hingga 2006, mereka bekerjasama dengan sejumlah lembaga untuk melakukan pendampingan dan pemulihan ekosistem mangrove di desa tersebut.

Pada 2017, bersama Ben Brown –peneliti Charles Darwin University, sekaligus pendiri Blue Forest– Rignolda terlibat penerbitan buku berjudul “A Site History & Field Guide for Ecological Mangrove Rehabilitation in Tiwoho Village, Bunaken National Marine Park, North Sulawesi, Indonesia”. Buku itu berisi kumpulan foto dan cerita keberhasilan restorasi kawasan Mangrove di desa Tiwoho.

Pada 2019, Rignolda kembali menerbitkan buku berjudul “Mangrove: Biologi, Ekologi, Rehabilitasi dan Konservasi”. Melalui buku itu dia berharap dapat mengubah cara pandang masyarakat, baik umum maupun profesional, agar dapat mengintervensi pemulihan dan pemanfaatan mangrove dengan baik.


Selain kedua buku tadi, Rignolda telah terlibat berbagai riset mengenai mangrove yang dipublikasi dalam bentuk jurnal, di dalam maupun di luar negeri.

Terakhir, dia tergabung dalam kelompok peneliti bernama CoReNat (Comparing Biodiversity and Ecosystem Services of Restored and Natural Mangrove Forest in Wallacea Region), yang terdiri dari sejumlah peneliti dari dalam dan luar negeri. Desa Tiwoho menjadi salah satu lokasi yang diteliti.

Pada Selasa (27/8/2019), Mongabay Indonesia berkesempatan mewawancarai alumnus School of Natural and Rural Systems Management, University of Queensland, Australia ini. Dia dengan bersemangat menceritakan proses restorasi mangrove di desa Tiwoho, juga ide yang mendasari pembuatan bukunya. Berikut petikannya:

Mongabay Indonesia (M) : Bagaimana cerita restorasi mangrove di Desa Tiwoho?

Rignolda Djamaluddin (R) : Tahun 1995 kami bergabung untuk melakukan penyusunan strategi pengelolaan mangrove, yang salah satu wilayahnya adalah Tiwoho. Pada saat itu, masyarakat di sana masih menebang mangrove. Mereka memanfaatkan mangrove sebagai kayu api, dikuliti untuk jadi pengawet jaring, dan lain-lain. Bahkan, kawasan sekitar 15 hektar dikonversi sebagai tambak.

Kemudian, dalam proses dialog dengan warga terungkap bahwa kampung itu sejak pembukaan lahan mangrove, sering dimasuki air pasang. Warga menduga, karena hutan mangrove yang sudah terbuka. Jadi, kalau ingin kampung itu selamat, hutan mangrove harus diperbaiki.

Tahun 2000, Kelola melakukan proses pendampingan langsung, termasuk mengintroduksi konsep Community Based Coastal Resource Management. Pada kurun itu juga proses perbaikan sudah mulai dilakukan. Tidak mudah, tapi yang penting pandangan masyarakat tentang keberlanjutan sudah terbangun.

Pada tahun 2006, proses restorasi didorong menggunakan teknik hydrological restoration. Warga ikut membuka saluran-saluran, anak-anak sekolah ikut menanam dan memantau perkembangan mangrove. Muatan lokal mereka diarahkan ke lapangan, selain di kelas. Ternyata teknik ini mulai menampakkan hasilnya. Terjadi pemulihan secara cepat dan alami.

M : Apa yang terjadi setelah pemulihan?

R : Masyarakat sudah melihat tidak ada lagi air pasang masuk ke kampung. Karena, ketika mangrove melakukan proses pemulihan, pada saat bersamaan mangrove mengangkat dan membuat penahanan pada sedimen. Cukup untuk menghalau gerak air pasang. Kemudian, hubungan kesuburan perairan sumberdaya perikanan dengan mangrove. Dulu, pada dekade 1980-an, orang kalau mau belajar soma (jaring) ikan roa, datang ke Tiwoho. Tapi hilang ketika hutan mangrove rusak. Sekarang mulai kembali lagi. Kemudian, ketika hutan daratan banyak berkurang, ternyata mangrove menjadi pilihan bagi satwa liar, seperti burung dan ular.

M : Dari sisi riset, apa yang membuat Tiwoho menarik?

R : Sudah banyak peneliti datang ke Tiwoho, dari dalam dan luar negeri. Terakhir, ada kelompok peneliti bernama CoReNat (Comparing Biodiversity and Ecosystem Services of Restored and Natural Mangrove Forest in Wallacea Region), saya termasuk di dalamnya. Kami ingin membandingkan restorasi yang bersifat penanaman (plantation) dengan yang alami, fungsi-fungsi ekosistem, carbon trap, tempat mata rantai makanan, dan lain-lain. Hasilnya dilihat nanti.

Tapi dari riset saya, ditemukan bahwa hydrological restoration, secara ekologis sangat menguntungkan, dibanding penanaman yang bersifat monokultur. Karena spesies yang datang banyak dan bersifat alamiah, keanekaragamannya tinggi.

Selain itu, dalam konteks riset, hutan ini (mangrove Tiwoho) memiliki data base yang baik. Record pemulihan dan manajemennya juga jelas.

M : Kenapa Hydrological Restoration?

R : Sekian waktu hingga saya balik (dari Australia), kegiatan merehabilitasi hutan mangrove di Tiwoho adalah by plantation atau penanaman. Kalau bicara penanaman berarti ketersediaan bibit, yang paling tersedia propagul, anakan yang paling siap rata-rata dari rhizophora atau cheriops. Faktanya gagal. Dalam pengetahuan saya, suatu benih akan tumbuh ketika hadir di tempat yang cocok. Jika tidak, dia mati atau tidak mau berkembang.

Karena itu lahannya dievaluasi dan diintroduksi dengan teknik hydrological restoration. Teknik ini belakangan dikenal dengan nama ecological mangrove restoration, pertama kali digunakan oleh Robyn Luis di Florida. Prinsipnya mengembalikan sistem hidrologi lahan, setelah melakukan asesmen bahwa benih bisa tersedia, maka hidrologi lahan diperbaiki.

Dengan teknik ini, tidak ada penanaman, yang diperbaiki hidrologinya. Maka benih yang datang adalah benih diseputaran situ. Harapannya, dia pulih seperti kondisi alami, bukan dengan single spesies tapi beragam spesies. Hingga terakhir survei, diperkirakan ada 24 spesies mangrove di Tiwoho. Desa Tiwoho mungkin satu-satunya lahan di Indonesia yang direstorasi menggunakan teknik hydrological restoration. Di dunia yang pernah menerapkannya adalah Florida.

M : Anda baru saja menerbitkan buku, apa yang ingin disampaikan?

R : Hasil riset di berbagai tempat dan pemahaman yang berkembang secara teknis, mendorong dilahirkannya buku ini. Semangatnya, mengubah cara pandang masyarakat, baik umum maupun profesional, agar intervensinya benar. Contoh, konsep zonasi di hutan mangrove, seolah-olah kalau pergi di mangrove akan ketemu jenis tertentu di bagian depan, tengah, dan lain-lain. Orang tidak paham, konsep yang dilahirkan Watson pada 1928, itu lebih pada zona perendaman.

M : Dari sisi akademik, apa yang harus dilengkapi untuk lebih memahami ekosistem mangrove?

R : Banyak yang harus dikaji, karena banyak penelitian mangrove sangat umum, termasuk soal fungsi-fungsi. Ada negara yang mulai mengembangkan mangrove sebagai bahan tinta. Di Sri Lanka, mangrove telah jadi sumber pangan. Ini yang harus dikembangkan. Agak aneh ketika masyarakat kita punya nipah tapi harus beli gula. Lebih aneh lagi, ahli mangrove berasal dari negara yang tidak punya mangrove.

M : Dari sisi kebijakan apa yang perlu diperkuat untuk melindungi mangrove?

R : Status. Karena kalau ditanya, ‘regulasi apa yang langsung berkaitan dengan mangrove?’, nyaris tidak ada. Kecuali mangrove di taman nasional, hutan lindung, hutan kota. Tapi sebagai hutan pantai, sebagai ekosistem pantai itu enggak clear. Artinya, kedepan Indonesia sebagai pemilik mangrove yang luas, harus membuat regulasi clear, soal statusnya.

Orang darat melihat kawasan mangrove sebagai hutan, orang laut melihatnya sebagai ekosistem pantai. Lalu, siapa yang mau urus? Sekalipun kementerian sudah digabung, Kehutanan dan Lingkungan Hidup, tapi ada juga (kewenangan) KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan). Ketidakpastian inilah yang menyebabkan ekosistem ini mudah dirusak, dikonversi dan lain-lain. [] MONGABAY

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.