Oleh : Ichsan Nur S.Ag*

Pada Agustus 1948 Komandan Batalion IX Mayor Alamsyah meminta kepada Mayor Laksamana. J. Simon untuk segera berangkat menggunakan Speedboat A. 63 menuju Penang Malaya dalam rangka tindak lanjut  diplomasi politik dengan beberapa lembaga aktivis kemerdekaan RI di luar negeri. Misi lain dari keberangkatan tersebut mencari beberapa logistik persenjataan yang menjadi keperluan para perjuang. Tepat pada waktu dini hari Speedboat A. 63 yang dikemudikan langsung oleh Mayor Laksamana. J. Simon berangkat menuju Malaya dan turut bersamanya bersama beberapa orang sebagai awak cargo. 


Setelah berada enam hari di Malaya, Speedboat A.63 bermaksud kembali menuju Tamiang. Namun saat sekembalinya dari Penang Malaya tanggal 22 Agustus 1948 sekitar pukul 01.00 wib. Speedboat A. 63 yang berada di muara Pulau Kampai dikejar oleh korvert Angkatan Laut Kolonial Belanda. Mayor Laksamana. J. Simon dengan sekuat tenaga berusaha melepaskan diri dari kejaran, sehingga terjadi kejar-kejaran diiringi suara tembakan antara Speedboat A. 63  dengan Kapal Angkatan Laut Belanda. 

Pelarian Speedboat A. 63 terpaksa harus berhenti di tengah perairan laut, oleh sebab Speedboat A. 63 menerobos pantai dan terjebak diantara beting dan lumpur pantai Pulau Kampai. Di waktu tengah malam Mayor   Laksamana J. Simon berusaha kembali membebaskan Speedboat A. 63 dari perangkap lumpur, namun tidak berhasil dan akhirnya Mayor Laksamana. J. Simon memerintahkan seluruh awak kapalnya untuk meninggalkan speedboat dan berenang menyelamatkan diri menuju pantai kecil ke arah wilayah timur Pulau Kampai  oleh sebab kapal Korvert milik kolonial Belanda sudah mulai mendatangi tempat terdamparnya Speedboat A.63 serta menembaki secara gencar badan Speedboat A. 63 dari kejauhan dan Korvert kolonial Belanda berhasil mendekati lokasi Speedboat A. 63 yang terdampar dan menyeretnya.

Kabar penyerangan Speedboat A. 63 oleh korvert kolonial Belanda menyebar dan didengar oleh para laskar pejuang Tamiang, maka dengan segera para laskar pejuang memberitahukan berita penyerangan ini kepada Batalion IX sebagai penanggung jawab wilayah. Berita ini langsung ditindaklanjuti Komandan Batalion IX Sdr. Mayor Alamsyah dengan mengirimkan pasukan dan kesatuam laskar terlatih untuk membantu mengimbangi serangan dan tembakan Angkatan Laut Belanda di perairan tersebut. Pasukan yang dikirim ke lokasi kontak senjata dipersanjatai dengan senjata berat diantaranya senjata-senjata otomatis dan meriam parit yang menjadi andalan kesatuan milik Batalion IX yang selama ini biasa digunakan dalam beberapa pertempuran. 

Disaat korvert kolonial Belanda  sedang menyeret  Speedboat A. 63,  pasukan dari Batalion IX pimpinan Sdr. Mayor Alamsyah menembaki korvet kolonial Belanda secara gencar. Pertempuran sengit di tengah laut tidak dapat dihindari dan  kedua belah pihak saling menembaki kapal satu dan lainnya. Pasukan dari Batalion IX sangat menguasai medan pertempuran dan tembakan beberapa kali dari meriam parit  memaksa musuh mundur dan tersudut di antara Pulau Kampai dan Seruway dan korvert Belanda kewalahan dan terpukul mundur. 

Di tengah situasi yang sulit ini pihak korvet kolonial Belanda mengontak bantuan armada Angkatan Udara Belanda. Dalam waktu yang tidak berapa lama sebuah pesawat Militer Angkatan Udara muncul dari kejauhan di tengah perairan dan pertempuranpun menjadi tidak seimbang. Mayor Alamsyah memerintahkan pasukannya untuk mundur menyelamatkan diri ke daratan dan korvet Angkatan Laut Belanda berhasil dengan mudah menyeret Speedboat A. 63 untuk dibawa menuju ke markas besar Angkatan Laut Belanda di Belawan (Sumatera Utara). 

Dalam pertempuran yang berlangsung sengit tidak ada laporkan gugur dari pihak Batalion IX. Paska kejadian tersebut korvet kolonial Belanda mulai meningkatkan kewaspadaan dan memperbanyak patroli rutin di wilayah perairan Tamiang. 

* Penulis Buku Laskar Rakyat Tamiang dalam Membela Proklamasi Kemerdekaan RI di wilayah Tamiang Tahun 1945 s.d 1950

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.