TamiangNews.com, SEKERAK -- Rumah reyot milik Ainun Mardiah (34) warga Dusun Suka Bahagia, Desa Pematang Durian, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, kini sudah direnovasi dan menjadi surga bagi keluarganya. Kisah rumah reyot ini kini hanya tinggal kenangan.
Sebelum direnovasi, dinding rumah berdinding tepas berlantaikan tanah dan beratap daun nipah dihuninya sejak 10 tahun silam. Rumah peninggalan orang tuanya itu masih dihuni bersama dua krang anaknya sementara suaminya yang bekerja sebagai buruh bangunan, kini merasa senang rumahnya sudah di bangun oleh Satgas TMMD Reguler 105 Kodim 0117/Aceh Tamiang. 
Buruh tani upahan untuk menghidupi keluarganya memang jauh dari kata cukup, namun pemberian dari Tuhan Yang Maha Kuasa hingga sekarang selalu disyukurinya. Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) berukuran panjang 8 meter dan lebar 4 meter itu dijadikan tempat teduh ketika hujan. Rintik hujan tidak jarang tembus karena dinding rumahnya berlubang. Atap nipah yang sudah bolong, turut menjadi hidangan kala hujan.
Kini, dirinya patut sujud syukur, rumah renta karena termakan usia bisa bangun dengan ukuran panjang 8 meter lebar 6 meter. Bantuan pembangunan rumah Layak Huni dari salah satu program TMMD Reguler ke- 105 yang dilaksanakan oleh Kodim 0117/Aceh Tamiang bersama prajuritnya merubah rumahnya menjadi istana.
“Saya berterima kasih dengan bapak tentara karena sudah membangun rumah saya. Sebelumnya rumah saya jelek, sekarang dirobohkan untuk dibangun menjadi baik,“ ujar Ainun Mardiah disela-sela kegiatan pengecoran lantai yang akan dipasang keramik, Senin (12/77).
Untuk membangun rumah layak huni saja dirinya tidak mampu. Bukan tanpa sebab, penghasilan dari buruh tani upahan yang dilakoninya hanya cukup untuk membeli makan. Beruntung apabila ada yang mempekerjakannya, dalam sehari bisa mendapat Rp. 50 ribu. Kalau tidak ada, dirinya hanya bisa terdiam dan mencari rumput  hewan ternak untuk dijual.
Apalagi untuk membangun rumah, memasang listrik saja dirinya harus menyalur dari tetangga. Kondisi dibawah garis kemiskinan ini sudah lama Ainun Mardiah rasakan. Uluran tangan dari tetangga selalu diharapkan. Terlebih lagi dengan, adanya pembangunan rumah ini, dirinya terasa terbantu dan berulang mensyukurinya. “Habis ini, akan dipasang aliran listrik sebelumnya hanya memakai lampu pijar dari minyak tanah,“ imbuhnya. [] TN-W007

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.