TamiangNews.com, LANGSA - Wakil Ketua Komisi IV DPR Aceh, Asrizal H Asnawi, meminta pemerintah menutup sementara jembatan penghubung Kecamatan Seruway dan Bendahara Kabupaten Aceh Tamiang, yang telah rampung dibangun beberapa waktu lalu.


"Komisi IV pansus di jembatan idaman warga Seruway-Bendahara itu. Terdapat tanjakan curam dan berbahaya bagi pengendara roda dua," sebut Asrizal H Asnawi kepada awak media di Langsa, Rabu (10/7).

Dikatakan, kondisi tanjakan menuju jembatan rawan sekali. Sebelum jatuh korban dari pengendera sepeda motor. Pihaknya meminta pemerintah Aceh atau Pemkab Aceh Tamiang menutup sementara waktu.

Hal itu, lanjut dia, guna meminimalisir resiko kecelakaan bagi pengendera pengguna jembatan tersebut. "Tanjakan naik ke jembatan disebelah Tangsi Lama Kecamatan Seruway sangat tinggi dan banyak bebatuan. Dikhawatirkan terjadi musibah bagi masyarakat yang melintas," jelasnya.

Selain itu, pembebasan lahan disekitar jalan juga belum dianggarkan oleh pemerintah. Persoalan itu, kata dia, bisa memberi dampak buruk bagi masyarakat pengguna jembatan yang dibangun menggunakan APBA 2017-2018.

"Baik saat naik atau turun dari jembatan dikedua sisi ujungnya sangat terjal. Diperparah dengan pendeknya jarak haluan untuk berbelok mendaki ke jembatan," urai legislator PAN itu.

"Kalau mobil truck roda enam pasti kerepotan untuk berbelok dari jalan Tangsi Lama ke jembatan. Pengendera roda dua beresiko jatuh karna cadasnya bebatuan saat menanjak," tambah Asrizal.

Ia berharap, masyarakat bisa bersabar untuk tidak gunakan jembatan tersebut sementara waktu. Hingga usainya proses pembebasan lahan di sebelah Tangsi Lama Kecamatan Seruway.

Sebelumnya, jembatan yang menghubungkan Kecamatan Seruway dan Bendahara itu, dibangun dalam tiga tahap. Pertama, pembangunan kepala jembatan dengan pagu anggaran Rp4 miliar tahun 2011.

Selanjutnya, pembangunan tersebut terbengkalai. Baru ditahun 2017, Asrizal menggagas dilanjutkan pembangunan dengan alokasi anggaran Rp20 miliar. Setelahnya, tahun 2018 kembali dianggarkan Rp.23 miliar, hingga tuntas pembangunannya.

Usai dibangun, jembatan tersebut langsung dimanfaatkan masyarakat sebagai sarana penyeberangan antar dua kecematan serumpun di wilayah Aceh Tamiang itu. Sebelum dibangun jembatan. Warga mengandalkan rakit penyeberangan atau getek, sejak puluhan tahun silam.[] TN-W007

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.