TamiangNews.com, KARANG BARU - Berbicara soal kebudayaan, memang tak ada habis-habisnya, sebab kita berbicara soal manusia, C.A.Van Peursen mengungkap dalam “Strategi Kebudayaan”, bahwa kebudayaan adalah endapan dari kegiatan dan karya manusia yang meliputi segala menifestasi dari kehidupan manusia yang berbudi luhur dan bersifat rohani, seperti agama, kesenian, filsafat, ilmu pengetahuan, dan tata negara.

Abdi Pratama, SE
Begitu pula agenda Festival Rentak Melayu Raya yang akan kembali digelar di Kota Langsa, kegiatan bernuansa Kebudayaan Melayu tersebut tampak melenggang dari pembicaraan publik di Aceh Tamiang kali ini dan tentu menjadi mimpi buruk bagi arah kebudayaan melayu di Kabupaten Aceh Tamiang kedepannya. 

"Bagaimana tidak, berbicara mengenai Kebudayaan Melayu, tentu kita perlu merujuk kepada sebuah data tentang Figure Obtained Based on the Percentage of Malays in 2000 census and the total Indonesian Population in 2010 census, data tersebut menerangkan bahwa suku Melayu di Indonesia terdiri atas Melayu Tamiang, Melayu Palembang, Melayu Bangka-Belitung, Melayu Deli, Melayu Asahan, Melayu Riau, Melayu Jambi, Melayu Bengkulu, Melayu Pontianak, dan Melayu Sambas dan tidak ada satu datapun yang mengaitkan kota Langsa menjadi salah satu pemegang saham atas keberadaan Suku Melayu," imbuhnya


Menurut dia, kegagalpahaman soal keberadaan suku melayu di Provinsi Aceh menimbulkan sebuah kegelisahan yang menyentuh akar rumput sosial masyarakat adat Suku Melayu Tamiang.

Penyelenggaraan kegiatan yang bersifat eksebisi aktifitas kesukuan menjadi salah sasaran akibat pemilik program kurang memahami bahwa kegiatan bersifat kebudayaan, tentu menimbang soal populasi penerap kebudayaan tersebut, sebab jika, penyelenggaraan acara hanya menjadi agenda seremonial, bahkan merusak komunikasi antar masyarakat adat yang ada di wilayah Provinsi Aceh.

Abdi Pratama, SE, menambahkan kritikanya tentang Budaya Tamiang yang telah tumbuh didalam dirinya.

"Kita perlu berpikir ulang atas kejadian “salah penempatan program” ini tentang hal apa yang menyebabkan fenomena ini tak mendapat respon apapun dari Pemkab Aceh Tamiang yang memiliki hak panggul aktif atas kebudayaan melayu di Provinsi Aceh. 

Hingga menjelang perhelatan kegiatan Rentak Melayu Raya ke-2 di Kota Langsa, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Lembaga Majelis Adat Aceh Kab.Aceh Tamiang, bahkan Bupati belum juga memberi respon apa-apa terkait kegiatan yang jelas menjadi agenda pencatutan kebudayaan tersebut. 

Apalagi di tahun sebelumnya, kita mengenali wajah-wajah yang menyeringai di atas panggung tersebut nyaris separuh lebih, sepertinya wajah masyarakat Tamiang pula, yang lenggoknya menggoyangkan panggung, sementara hatinya mengiris pedih, budayanya di anak tiri ditanah sendiri, lestari di seberang negeri," tambahnya.

Tentu pengulangan hal ini menjadi bentuk ketidakmampuan Pemkab Aceh Tamiang dalam mengamini 
keresahan masyarakat Adat Melayu soal pencatutan kebudayaan. []TN-W008

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.