TamiangNews.com, PIDIE -- Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas II B Sigli, Pidie, Senin (3/6) sekitar pukul 12.00 WIB diduga dibakar oleh napi yang mengamuk di dalam rutan yang terletak di Gampong Benteng, Kecamatan Kota Sigli itu. Akibatnya, semua ruang kantor yang digunakan petugas rutan, termasuk satu ruangan Kepala Rutan Sigli, dan sebuah warung kopi di dalam rutan ludes terbakar.


Foto : Serambi
Empat armada pemadam kebakaran (damkar) dan satu mobil penyemprot air milik Polres Pidie dikerahkan ke lokasi untuk memadamkan api. Namun, petugas terkendala memadamkan api karena napi di dalam rutan melempari mereka dengan batu, batu bata, besi, botol kaca, dan benda keras lainnya.

Untuk menghentikan aksi napi yang melemparkan batu itu, petugas menembakkan gas air mata ke dalam rutan. Anggota Polres Pidie bahkan menggunakan alat pelantang suara untuk meminta napi tidak lagi melempar. Tapi, napi tidak mengindahkan imbauan petugas. Personel polisi bersenjata lengkap yang berusaha masuk ke dalam rutan gagal, akibat napi masih menghujani petugas dengan batu. Alhasil, polisi bersenjata laras panjang dan senjata gas air mata hanya melakukan pengamanan dari luar rutan.

Kondisi Rutan Kelas II B Sigli berangsur kondusif setelah Kepala Divisi Pemasyarakatan Kemenkumham Aceh, Drs Merah Budiman SH, tiba di rutan tersebut dari Banda Aceh sekitar pukul 15.12 WIB.

Merah Budiman kemudian melakukan pertemuan tertutup dengan Kepala Rutan (Karutan) Sigli, Pidie, Mathrios Zulhidayat Hutasoit dan penghuni rutan. Pascapertemuan tersebut kondisi rutan mulai kondusif. Penghuni rutan tak lagi menghujani petugas dengan batu.

Gara-gara dispenser
Berdasarkan informasi yang diperoleh Serambi kemarin, amukan para napi Rutan Kelas II B Sigli yang berjumlah 469 orang itu diduga karena persoalan air bersih dan ditariknya dispenser oleh petugas rutan.

Dispenser tersebut yang tak diketahui jumlahnya, semula dibagikan petugas rutan untuk memudahkan napi memanaskan air selama bulan Ramadhan. Tapi kemudian ditarik lagi, sehingga sejumlah napi tak bisa lagi menyeduh kopi atau teh karena ketiadaan air panas. Inilah yang membuat mereka mengamuk lalu membakar rutan.

Api awalnya berasal dari warung kopi di dalam rutan tersebut, lalu dengan cepat menjalar ke bangunan lain, misalnya kantor petugas rutan yang letaknya berdempetan. Dalam hitungan menit api merembet ke tempat lain, apalagi sebagian bangunan rutan itu berbahan baku kayu.

Empat mobil damkar milik BPBD Pidie bersama satu mobil penyemprot air Polres Pidie dikerahkan untuk memadamkan api yang membubung besar di atas Rutan Sigli. Saat petugas memadamkan api, napi justru menghujani mereka dengan batu. Polisi akhirnya menembakkan gas air mata ke dalam rutan guna menghentikan aksi pelemparan batu tersebut.

Tak hanya itu, petugas pun menggunakan alat pelantang suara membujuk napi untuk menghentikan aksinya.

Dalam situasi yang belum terkendali, polisi bersenjatan lengkap berusaha masuk ke dalam rutan, tapi saat petugas membuka pintu utama rutan langsung disambut lemparan batu oleh napi. Petugas bersenjata akhirnya memilih mengamankan rutan dari luar.

Wakapolres Pidie, Kompol Iskandar SE Ak, didampingi Kabag Ops, Kompol Juli Effendi dan Kasat Reskrim, AKP Mahliadi MT, berhasil mengevakuasi satu napi narkoba ke RSU Tgk Chik Ditiro Sigli. Napi yang tak diketahui identitasnya itu terluka tangan kanannya akibat terkena peluru gas air mata.

Namun, pukul 15.12 00 WIB kondisi rutan berangsur kondusif setelah kedatangan Kepala Divisi Pemasyarakatan Kemenkumham Aceh, Merah Budiman. Ia langsung menggelar pertemuan tertutup dengan sejumlah napi dan Karutan Kelas II B Sigli. Salah satu hasil kesepakatan adalah dispenser yang sudah diambil petugas rutan itu dikembalikan untuk memenuhi kebutuhan air panas napi.

Tak ada yang kabur
Sementara itu, Kepala Divisi Pemasyarakatan Kemenkumham Aceh, Merah Budiman, kepada wartawan mengatakan, tidak seorang pun penghuni rutan itu yang kabur kemarin.

Selain itu, sejumlah napi dan tahanan polisi maupun titipan jaksa masih tetap ditempatkan di Rutan Kelas II Sigli sebab ruangan napi dan mushala tidak terbakar. Apalagi ada napi yang ingin tetap shalat Tarawih meskipun kondisi sebagian rutan hangus terbakar.

“Jadi, napi tetap berada di dalam rutan. Semua yang terbakar akan kita benahi, termasuk aliran listrik akan kita normalkan kembali. Yang terbakar hanyalah sejumlah kantor di bagian depan rutan dan satu warung kopi di dalam rutan,” kata Merah Budiman didampingi Kabag Ops Polres Pidie, Kompol Juli Effendi.

Ia tak menampik bahwa pemicu dibakarnya rutan tersebut oleh napi gara-gara ditariknya dispenser yang sebelumnya dibagikan pegawai rutan untuk memudahkan napi mendapatkan air panas selama puasa Ramadhan. Namun, tiba-tiba pegawai rutan menarik dispenser yang diberikan lima bulan lalu itu dari napi. Napi yang tidak senang diperlakukan seperti itu akhirnya membakar rutan.

“Untuk ke depan kita juga minta pihak kepolisian melakukan pengamanan di rutan ini, mengingat bangunan rutan banyak yang rusak sehingga memudahkan napi kabur. Saat ini, kondisi di dalam rutan sudah kondusif dan terkendali,” pungkasnya. [] SERAMBI



Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.