TamiangNews.com, BANDA ACEH -- Sebuah video dari Aceh, Minggu (19/5/2019) kembali menghebohkan jagat media sosial nasional.

Foto : Serambinews
Kali ini, video yang viral di medsos berisi seruan Bupati Pidie Roni Ahmad alias Abusyik agar masyarakat Pidie tidak ikut gerakan people power atau pengerahan massa dalam rangka menolak hasil Pilpres 2019.

Video berdurasi 1 menit 2 detik itu viral lantaran Abusyik salah ketika membaca ejaan people power.
Terdengar Abusyik membaca kata-kata itu dengan bunyi “peyoples power”.
Bahkan bunyi ejaan serupa berulang sebanyak dua kali.

Selain itu, terdengar juga Abusyik mengucapkan kalimat “agar tidak menterjadi perpecahan ummat”.
Amatan Serambinews.com, video ini mulai beredar di media sosial dan grup-grup Whatsapp sejak Sabtu (18/5/2019) malam.

Dalam waktu singkat, video ini langsung menjadi topik hangat di media sosial, bahkan menjadi bahan berita bagi beberapa stasiun televisi nasional.

Amatan dan informasi dihimpun Serambinews.com, video itu direkam di rumah pribadi Abusyik di Meunasah Puuk, Gampong Aree, Kecamatan Delima Pidie.

Hal ini terlihat dari latar belakang video berupa dinding rumah semi permanen, khas perkampungan di Aceh.

Bagian bawah dinding rumah itu terbuat dari beton dengan cat warna kuning.
Sementara bagian atas terbuat dari papan tak bercat. Beberapa foto dan kertas terlihat tertempel secara acak di dinding rumah dengan jendela kayu itu.


Abusyik yang tampil dengan ciri khas kopiah merah dan baju putih, tampak sangat percaya diri saat membaca teks di hadapannya. Ia seperti tidak sadar bahwa ada yang salah dengan bacaannya pada video itu.

Dari video yang beredar, terkesan rekaman video itu hanya diambil dalam sekali rekam (one take), tanpa pengulangan meski ada kesalahan bacaan.

Anehnya, video itu hanya diedit secara sederhana, tanpa sensor dan langsung dilemparken kepada publik.

Bupati Pidie, Abusyik yang dikonfirmasi Serambinews.com melalui staf khususnya, Ridha Yuadi, menanggapi santai viralnya video itu di media sosial dan media mainstream.

“Yang penting adalah pesannya tersampaikan. Syukur ternyata malah bisa menjadi pembicaraan publik, sehingga pesan yang Abusyik sampaikan bisa beredar luas dan cepat,” ujar Ridha Yuadi kepada Serambinews.com, Minggu (19/5/2019) malam, mengutip penjelasan Abusyik.

Abusyik, kata Ridha Yuadi, tidak mempermasalahkan peredaran video itu.
“Tentunya, kita akan belajar dari setiap kesalahan,” ungkap Abusyik seperti disampaikan oleh Ridha Yuadi.
Menurut dia, video itu direkam, Sabtu (19/5/2019) di rumah pribadi Abusyik, di pedalaman Kabupaten Pidie.
“Video itu direkam seadanya hanya sekali take dan tanpa proses edit. Kemudian dikasih bumper nama Abusyik. Begitu informasinya, karena saya tidak hadir di sana saat itu,” ujar mantan Tenaga Ahli Biro Humas Pemerintah Aceh ini.

Abusyik (bahasa Aceh yang berarti kakek) adalah Bupati Pidie yang berlatar belakang kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Pada masa konflik Aceh bergolak, Abusyik yang pernah menimba ilmu militer di Libya, pernah memangku beberapa jabatan penting, di antaranya Wakil Panglima GAM Wilayah Pidie.

Setelah damai, Abusyik menjabat sebagai Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Pidie.

Pada pilkada 2017, Abusyik yang berdasarkan keputusan pengadilan bernama Roni Ahmad, maju dalam kontestasi Pilkada Pidie bersama Fadhlullah.

Mereka maju dari jalur independen dan sukses menang melawan pasangan yang didukung oleh hampir semua partai politik.

Catatan Serambinews.com, pada dua kali gelaran Pilpres, Abusyik berada di barisan pendukung Joko Widodo.

Pada pilpres kali ini (2019), Abusyik dan beberapa tokoh Aceh lain, menggelar kampanye terbuka di lapangan Beureunuen, untuk memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Namun hasil Pilpres 2019 menunjukkan, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin, hanya meraup 7,8 persen suara di Kabupaten Pidie.

Sisanya, 92 persen suara masyarakat Pidie memilih pasangan 02, Prabowo – Sandiaga Uno.

Melalui stafnya Ridha Yuadi, Abusyik juga kembali mengimbau masyarakat Pidie tidak ikut dalam aksi atau gerakan people power atau pengerahan massa untuk menolak hasil Pilpres dan Pemilu 2019.
Menurutnya, tindakan tersebut tidak sesuai dengan konstitusi.

Imbauan ini disampaikan menyusul banyaknya ajakan kelompok tertentu agar masyarakat berangkat ke Jakarta pada 22 Mei mendatang. 

Abusyik meminta warga menunggu hasil penetapan pemenang Pemilu oleh KPU pada 22 Mei mendatang.

Abusyik beralasan, imbauan tersebut dilakukan karena menurutnya people power merupakan tindakan yang mengancam keutuhan dan kedaulatan bangsa.

“Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh sudah merampungkan hasil pleno rekapitulasi Pemilu 17 April lalu. Prosesnya berlangsung lancar dan aman, tidak ada masalah berarti. Abusyik mengapresiasi KIP yang sukses menyelenggarakan pesta demokrasi lima tahunan ini,” kata Ridha Yuadi. [] SERAMBINEWS

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.