TamiangNews.com, DENPASAR -- Meski penghitungan suara Pemilu 2019 belum final, namun sudah bisa diperkirakan nama-nama caleg petahana yang gagal memperpanjang masa kerjanya sebagai anggota DPRD Provinsi Bali.

Foto : Ilustrasi
Salah satunya I Wayan Tagel Arjana dari daerah pemilihan (dapil) Gianyar. Selama ini, Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Gianyar dikenal cukup vokal. Tagel bukan politisi kemarin sore. Dia sudah dua periode menjadi anggota dewan.

Tagel sendiri sejauh ini masih menunggu hasil resmi dari KPU. Apapun hasilnya, dia mengaku legawa. Namun, dia menyayangkan, pemilu kali ini yang cenderung brutal. Tagel menyebut, ada intervensi dan tekanan kepada masyarakat dari pihak lawan.

“Secara nyata buktinya terdapat sebuah surat yang menggambarkan intervensi pada salah satu banjar di Payangan. Inilah membuat masyarakat tidak bisa berekspresi secara bebas dalam pemilu tahun 2019 ini,” ujarnya, seperti diberitakan Bali Express (Jawa Pos Group).

Disinggung hasil perolehan suaranya, ia mengakui belum ketahui secara pasti karena menunggu dari hasil pleno. Mengingat hasilnya itu lebih otentik dan resmi dari KPU. Sedangkan dari data C1 yang diperolehnya, diungkapkan banyak yang amburadul. Kemungkinan ada yang salah jumlah hingga jumlahnya yang tidak benar.

“Untuk hasil pleno kita sudah turunkan tim dan menyebar di kecamatan untuk melakukan pengawasan. Kita pun akumulasi jika ada data kurang akurat agar tidak salah dalam memberikan informasi. Sebaiknya kita juga menunggu hasil pleno, supaya kita legawa, dan kepercayaan masyarakat tidak disalahartikan oleh jajaran yang ada,” ungkap dia.

Disinggung peluang, pria asli Ubud ini mengaku belum berani memastikan lantaran data belum ia terima secara pasti. “Belum berani menyatakan peluang, tetap peluang itu pasti ada. Namun kepastian belum berani agar tidak salah karena masih menunggu data. Kita utamakan untuk saling menghormati sesama saja,” paparnya.

Tagel berharap dengan hasil suara yang telah diperolehnya saat ini, ke depan agar lebih saling bahu-membahu di internal partai. “Kembali dengan sistem yang ada. Kita harus bahu membahu, tidak bisa sendiri menonjolkan diri, dan harus ada kerjasama yang baik. Namun untuk di tingkat kabupaten kita bisa rebut tiga kursi,” tandasnya.

Melihat kondisi saat ini, Tagel mengaku tidak bermaksud menyalahkan siapa-siapa. Hanya saja bagi yang diprediksikan lolos dan nantikan akan jadi, ia berharap janji-janji para celeg ditepati kepada masyarakat agar bisa terpenuhi.

“Kalau di lapangan kita kan tidak tahu berapa janji yang diberikan kepada masyarakat. Kemudian untuk Gianyar agar lebih baik ke depannya, masyarakat bisa berekpresi dengan bebas, tanpa tekanan, dan intervensi,” imbuh Tagel.

Dikatakan salah satu partai bisa berpengaruh, ia mengaku tidak lepas dari kekuasaan. Mulai dari kekuasaan sehingga adanya sebuah peluang, kemudian secara struktural dapat dipengaruhi. Mulai dari tingkat paling rendah di banjar hingga pada kecamatan.

“Tidak salah juga, karena siapa yang berkuasa pasti akan menggerakkan itu. Namun jangan sampai menganaktirikan masyarakat yang lainnya saja,” tandasnya.

Nama lainnya dari dapil Gianyar yang diperkirakan tidak lolos ke dewan Renon adalah politisi Golkar, Made Dauh Wijana. Meski demikian, Dauh mengaku akan tetap menghormati keputusan KPU dan hasil akhir akan diterimanya secara ikhlas.

“Kita sebagai caleg sudah berjuang, menghabiskan tenaga, pikiran, dan waktu. Bahkan sejak enam bulan lalu saya juga sudah mulai turun ke masyarakat langsung. Sedangkan hasil pemilu yang masih proses pleno gambarannya sudah tampak. Mungkin kinerja saya belum diyakini dan sesuai keinginan masyarakat, namun tetap saya terima secara legowo,” terangnya.

Ia mengaku selama ini tetap menghormati aturan main apa yang berlaku. Terlebih ia lebih berjalan secara nomatif, berbuat yang sesuai aturan, dan tetap saling menghormati. “Mungkin memang masyarakat belum merasakan kinerja saya. Karena satu tahun sebagai pengganti antar waktu (PAW) Cok Ibah, belum dirasa cukup. Mulai dari mewakili dari kinerja atau apanya yang dinilai,” tukas dia.

Sehingga ia memperkirakan masyarakat lebih condong dalam memberikan dukungan kepada rekan caleg yang lain. Meski demikian, dari hasil perolehan suara yang ia dapatkan saat ini pihaknya akan tetap melakukan evaluasi. Terutama di internal partai.

“Sampai saat ini belum tahu berapa jumlah total suara, karena memang belum ada pastinya dan masih rekap di kecamatan. Yang jelas baru perolehan kursi lima kursi di tingkat kabupaten dan provinsi nampaknya tidak ada wakil,” imbuh Ketua DPD II Partai Golkar Gianyar tersebut

Sementara, caleg DPRD Bali dapil Karangasem, diprediksi dua incumbent tumbang. Yakni caleg Hanura I Gusti Putu Widjera, dan caleg PKPI Kadek Nuartana.

Melihat track recordnya, kedua caleg itu bukan orang baru di panggung politik. Nuartana misalnya. Dia sudah dua kali duduk di kursi DPRD Bali. Sayang untuk kali ini, politikus asal Desa Pertima itu diprediksi gagal. Dari awal pencalegan, secara hitungan, politikus yang satu desa dengan caleg Gerindra I Nyoman Suyasa terlihat berat.

Salah satunya karena PKPI hanya memasang tiga caleg untuk DPRD Bali, dari kuota 7 kursi. Selain itu ia juga tidak punya tandem separtai di kabupaten. Pemilu tahun ini, tidak ada caleg PKPI untuk DPRD Karangasem.

Satu incumbent lain, yakni I Gusti Putu Widjera juga tidak bisa dipandang sebelah mata dalam kancah politik. Widjera dua kali duduk di DPRD Bali melalui Partai Demokrat. Untuk melangkah ke tiga periode, Widjera maju lewat Partai Hanura. Meskipun belum ada hasil resmi, ia diperkirakan tidak lolos.

“Saya kira peluangnya sangat tipis. Tapi tunggu dulu hasil pleno KPU,” ujar Widjera, ramah saat dikonfirmasi Bali Express (Jawa Pos Group kemarin. Widjera mengaku perjuangan kembali ke Dewan Renon sangat sulit.

Ia mencurigai serangan bagi-bagi uang yang begitu masif di dapilnya. “Seperti kentut. Tercium bau, tapi tidak tahu di mana. Serangan seperti itu susah saya lawan,” terang Widjera.

Catatan Bali Express, Widjera bukan politikus pemula. Sebelum dua periode duduk di kursi dewan, politikus asal Rendang, Karangasem itu sempat menjadi wakil bupati Karangasem (periode 2000-2005). “Kami tunggu dulu hasil pleno seperti apa,” tandas Widjera.

Tak hanya di Karangasem. Caleg petahana diperkirakan tidak lolos juga terjadi di Klungkung. Bahkan diprediksi semua kursi (tiga kursi) di DPRD Bali dapil Klungkung disapu new comer (pendatang baru). Tiga petahana yang kemungkinan tidak lolos adalah I Wayan Sutena (PDIP).

Ia merupakan senior PDIP yang bolak-balik jadi anggota dewan. Politikus asal Desa Tegak, Klungkung itu pernah menjabat ketua DPRD Klungkung. Dua kali menjabat anggota DPRD Bali.

Ada juga petahana DPRD Bali dapil Klungkung I Nengah Wijana (Gerindra) yang kemungkinan gagal. Mantan birokrat Pemkab Klungkung itu merupakan ipar Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta.

Satu lagi petahana dapil Klungkung yang bernasib sama dengan dua petahana lainnya adalah Ngakan Made Samudra. Saat dikonfirmasi, Ngakan Samudera mengakui peluangnya kembali duduk di kursi DPRD Bali sangat berat. Meskipun belum penetapan oleh KPU, namun ia merasa sangat sulit mengejar ketertinggalan dari caleg yang diperkirakan lolos.

“Berat, sangat berat. Ini era Demokrat terpuruk,” kata Ngakan Samudra. Ia mengaku sangat berat bersaing dengan caleg lain, khususnya caleg PDIP.

Perhelatan kali ini, PDIP maupun calegnya terlihat lebih solid. Belum lagi dampak calon presiden Joko Widodo yang identik dengan PDIP. Selain itu, Koster selaku Gubernur Bali sekaligus Ketua DPD PDIP Bali sangat berperan menghentikan langkahnya.

“Apalagi Bupati Badung Giri Prasta ke desa-desa membawa bantuan saat masa kampanye. Itu sangat berpengaruh, menaikkan suara PDIP,” terangnya. Ia juga mencium aroma serangan fajar yang dinilai masif, namun sulit dibuktikan.

Sehingga, lanjut politikus asal Desa Batununggul, Kecamatan Nusa Penida itu, jangankan mencari pemilih baru, pendukung militannya yang dibina bertahun-tahun pun dirongrong. Nusa Penida yang menjadi basis massa anggota dewan dua periode itu digempur. Hibah maupun bansos yang ia fasilitasi tak mempan.

“Saya sudah siap tidak terpilih lagi,” ujarnya. Sebelum menjadi anggota dewan dua periode, Ngakan Samudra merupakan mantan birokrat Pemprov Bali yang sempat mengemban beberapa jabatan.

Banyaknya petahana gagal menandakan bahwa hibah tak bisa memberi jaminan incumbent bisa menjabat lagi. Apalagi, pemilu kali ini digelar dengan format pemilihan legislatif yang digandengkan dengan pemilihan presiden. Sehingga Jokowi Effect justru menutupi “keampuhan” hibah.

Efek pilpres yang digandengkan dengan pileg itu tidak dipungkiri Ketua DPD Partai Demokrat Bali, Made Mudarta. Terlebih partai berlambang Mercy ini paling merasakan dampaknya. Sesuai hitung-hitungan sementara, partai ini hanya sanggup memperoleh tiga kursi.

Atau dengan kata lain, kehilangan lima dari delapan kursi yang diperoleh saat Pemilu 2014 lalu. “Memang terjadi penurunan yang cukup besar di Bali. Baik untuk DPR RI, provinsi, maupun kabupaten/kota,” ujar Mudarta

Prediksi Caleg Incumbent DPRD Bali yang Terpental

1. I GB Alit Putra (Demokrat)
2. Nengah Tamba (Demokrat)
3. I GP Widjera (Demokrat/maju lewat Hanura)
4. Utami Dwi Suryadi (Demokrat)
5. Ngakan Made Samudra (Demokrat)
6. Wayan Adnyana (Demokrat) *diklaim masih kejar posisi
7. IB Pada Kesuma (Golkar)
8. Made Dauh Wijana (Golkar)
9. Wayan Tagel Arjana (Gerindra)
10. Nengah Wijana (Gerindra)
11. Nyoman Tirtawan (Nasdem) * direbut sesama kader
12. Made Arini (Hanura) *direbut sesama kader
13. Kadek Nuartana (PKPI) *kehilangan kursi
14. Ketut Jengiskan (PAN) *kehilangan kursi
15. I Wayan Sutena (PDIP). [] JPNN

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.