TamiangNews.com, BAGHUZ -- Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa mereka telah mengevakuasi sekitar 3.000 orang, termasuk sekitar 200 militan Islamic State atau ISIS dari kantong terakhir kelompok itu di Baghuz, Suriah. Ribuan orang yang dievakuasi itu termasuk para warga negara Indonesia (WNI).


Eksodus terjadi hanya tiga hari setelah SDF yang dipimpin pasukan Kurdi melanjutkan operasi militer terhadap para militan ISIS bersembunyi di Baghuz, sebuah desa di Suriah, di tepi Sungai Eufrat yang berdekatan dengan perbatasan Irak.

Dalam beberapa minggu terakhir, ribuan warga sipil meninggalkan kantong terakhir ISIS itu dalam evakuasi terorganisir setelah sebelumnya berhenti akibat pertempuran. SDF mengatakan para pasukannya terkejut dengan jumlah warga sipil, yang termasuk anggota keluarga ISIS. Mereka terkurung di daerah kecil yang terus tersudut serangan militer intermiten.

Para militan, keluarga mereka dan warga sipil lainnya diyakini telah menggunakan terowongan, gua, dan lubang untuk bersembunyi dari serangan udara dan rudal koalisi pimpinan AS dan SDF. SDF mengatakan para militan menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia.

Seorang pejabat media SDF hanya diidentifikasi dengan nama Ciyager mengatakan lebih dari 1.000 orang, termasuk sejumlah militan dievakuasi dari daerah yang dikuasai ISIS pada hari Senin melalui jalan yang aman. Lusinan pria, wanita, dan anak-anak memanjat bukit dengan berjalan kaki dan kemudian terlihat naik ke truk-truk kecil setelah mereka digeledah oleh pasukan SDF yang berjaga di koridor evakuasi.

Sesaat sebelum matahari terbenam, lebih dari 20 truk biasanya digunakan untuk mengangkut hewan muncul dari daerah yang dikuasai ISIS. Truk-truk itu membawa para warga sipil yang terdiri dri pria, wanita dan anak-anak. Para warga sipil yang dilaporkan sebagai pengungsi itu merupakan warga Prancis, Indonesia, Turki, Bosnia dan banyak warga Suriah dan Irak.

Beberapa pria berusia lanjut berada di antara orang-orang yang terluka yang ikut dievakuasi. Mereka yang terluka antara lain menderita luka bakar di wajah dan kaki patah. Mereka dibawa diangkut ke truk dan ditempatkan di atas kasur dengan jarum infus terlihat di lengan.

Sejak 20 Februari, diperkirakan 15.000 orang telah meninggalkan kantong terakhir ISIS yang menghasilkan adegan dramatis, di mana perempuan yang diselimuti pakaian hitam dan banyak anak-anak turun dari truk ke daerah gurun untuk diperiksa. Mereka kemudian dibawa ke sebuah kamp untuk orang-orang telantar di wilayah utara, sementara yang diduga militan dipindahkan ke fasilitas penahanan.

Operasi militer dimulai kembali pada hari Jumat pekan lalu yang diwarnai serangan udara spektakuler yang menerangi langit di desa kecil di Suriah tersebut. Militan ISIS berjuang mati-matian dengan sniper, bom mobil dan senjata lain untuk memperlambat gerak maju SDF.

Lewla Abdullah, seorang pejabat SDF, mengatakan setidaknya tiga bom mobil telah dikerahkan ISIS dalam perlawanannya. Setidaknya empat petempur SDF dan lebih dari 100 militan ISIS tewas sejak Jumat lalu. Dia mengatakan ISIS menahan warga sipil dan pengungsi lainnya sebagai sandera.

Meskipun serangan melambat, para pejabat SDF mengatakan operasi militer itu diharapkan akan segera selesai. Dengan militan ISIS yang dikepung oleh SDF di tiga sisi dan warga sipil terus meninggalkan kantong wilayah itu, maka kekalahan ISIS tidak terhindarkan lagi, meskipun tidak jelas berapa banyak militan kelompok itu yang tersisa di Baghuz.

Seorang pejabat SDF, yang diidentifikasi dengan nama Mervan The Brave, mengatakan banyak pria bersenjata ISIS masih di dalam dan bersiap untuk bertarung. "Ini bukan akhir. Kita mungkin berada di ambang pertempuran baru," katanya.

Mostafa Bali, kepala kantor media SDF, mengatakan kepada Reuters yang dilansir Selasa (5/3/2019), bahwa sekitar 1.000 militan mungkin masih berada di Baghuz. [] SINDONEWS.COM

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.