TamiangNews.com, JAKARTA -- Ekonom senior Rizal Ramli menilai Presiden Jokowi tidak konsisten soal Indonesia daulat pangan bebas dari Impor. Rizal Ramli mengatakan, kondisi impor saat ini bertolak belakang dengan apa yang disampaikan Jokowi pada empat tahun lalu.

Foto : Islampos
Rizal mengatakan hal ini disela acara makan malam dan ngopi bareng Rizal Ramli bersama tokoh-tokoh Jawa Barat di Rumah Makan Ponyo Kota Bandung.

“Pak Jokowi kalau dulu pidato empat tahun lalu kan bagus sekali. Kurangin impor ini, kurangin impor itu, tapi kenyataannya yang terjadi justru sebaliknya karena enggak ada konsistensi antara tujuan dengan strategi policy dan personalnya,” ujar Rizal Ramli di jalan Malabar Kota Bandung, Kamis malam (7/2/2019).

Rizal mengungkapkan, manuver Jokowi di pemerintahan tidak seperti apa yang dijanjikannya dalam mengurangi impor yang diketahui merugikan para petani.

“Istilahnya tujuannya ke kanan supaya berdaulat pangan tapi kebijakannya impor ugal-ugalan yang rugiin petani dan sebagainya sehingga terjadilah impor kita tinggi sekali,” katanya.

Rizal juga mengkritisi slogan Jokowi yang mengedapankan ‘kerja, kerja, kerja’ yang dianggapkanya keliru.

“Selama ini Pak Jokowi selalu pidato kerja, kerja, kerja. Kerja itu pengertiannya itu hanya fisik, padahal selain kerja fisik harus kerja pake otak, kerja cerdas dan kerja pake hati supaya amanah,” ujarnya.

Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman ini juga menambahkan, kepemimpinan Jokowi yang tidak bisa bisa menekan impor, merugikan para petani ketika memasuki panen.

“Bangsa kita disuruh kerja, kerja. Para petani sudah bekerja keras, tapi begitu panen impor gulanya kebanyakan, impor berasnya kebanyakan, impor bawang putihnya kebanyakan, akibatnya petani merugi. Ingat, kalau hanya kerja kerja, bisa-bisa rakyat kita bisa jadi kuli doang,” terang Rizal.

“Karena begitu (panen) untungnya gede, yang diuntungkan itu petani di Vietnam, yang diuntungkan petani Thailand atau beli garam dari petani di Australia. Rakyat disuruh kerja tapi nilai tambahnya enggak dapat banyak karena pemerintahnya doyan impor,” imbuhnya. [] ISLAMPOS

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.