TamiangNews.com, BANDA ACEH -- Sejumlah petugas dari Kantor Imigrasi Kelas I TPI Banda Aceh bersama Kanwil Kemenkumham Aceh melaksanakan inspeksi mendadak (sidak) di PT Solusi Bangun Andalas (SBA) yang berada di Lhoknga, Aceh Besar, Rabu (27/2). Hasilnya, sebanyak 16 tenaga kerja asing, yang terdiri atas 15 warga Cina dan seorang dari Australia, memiliki izin keimigrasian lengkap sebagai pekerja di pabrik semen yang sebelumnya bernama Lafarge Cement Indonesia (LCI) itu.


Foto : Serambinews
Informasi itu diungkapkan Kepala Seksi Intelijen dan Penindakan Kantor Imigrasi Kelas I TPI Banda Aceh, Sayid Zulkifli disela pemeriksaan dokumen warga negara asing (WNA), kemarin. Dikatakan, operasi pengawasan keimigrasian itu merupakan perintah Kakanwil Kemenkumham yang dilaksanakan serentak se-Aceh.

“Kami sudah cek dokumen 16 WNA tersebut satu demi satu beserta visa dan izin tinggalnya. Alhamdulillah sejauh ini mereka tidak bermasalah, khususnya terkait dokumen keimigrasiannya,” kata Sayid, didampingi pejabat dari divisi imigrasi Kanwil Kemenkumham Aceh, Wahyu Arianto.

Tak hanya mengecek dokumen dan lokasi WNA bekerja, petugas juga menyusuri tempat tinggal belasan tenaga asing itu. Sebab saat berada di pabrik, sebanyak 9 tenaga kerja China tak mampu menunjukkan paspor. “Kami lalu ikut bersama mereka ke mes di Ajun Jeumpet. Ternyata paspornya memang ada, dan kami juga memastikan tak ada orang asing lainnya di mes selain yang di dokumen tersebut,” jelasnya. Disebutkan, ke-16 warga asing itu bekerja di dua lokasi kerja yakni power plant dan tambang dengan berbagai keahlian.

Sementara Power Plant Manager PT SBA, Firman Septriandi Tarigan mengatakan bahwa pihak perusahaan open minded terhadap sidak yang dilakukan petugas imigrasi Banda Aceh. “Kita sudah cek sama-sama, para pekerja asing ini perizinannya lengkap. Sebenarnya kontrak pekerja asing ini dengan power plant sudah dimulai sejak tahun 2008 saat masa konstruksi, dan terus diperbarui hingga sekarang,” ujarnya.

Dijelaskan, proyek terbaru power plant dimulai sejak Oktober 2018 dengan jumlah TKA saat itu 51 orang dan lokal sekitar 80an. Namun beberapa waklu, sejumlah TKA punya masalah dengan izin kerjanya sehingga harus dievaluasi kembali. “Kami sebagai perusahaan yang patuh terhadap hukum meminta mereka melengkapi dokumen itu. Saat ini kami cuma punya 16 pekerja skill yang dianggap bisa menutup kemampuan 51 orang itu,” demikian Firman. [] SERAMBINEWS

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.