TamiangNews.com, MEULABOH -- Kawanan gajah liar yang berjumlah puluhan ekor dilaporkan mengamuk di dua kabupaten, yaitu Aceh Barat dan Bener Meriah. Akibatnya, belasan hektare kebun yang berisi berbagai jenis tanaman seperti kelapa sawit, durian, pinang, pisang, dan tanaman palawija dirusak satwa dilindungi tersebut. Ekses lain, warga setempat khawatir pergi ke kebun karena hingga kini kawanan gajah liar itu masih bertahan di kawasan kebun mereka.


Foto : Serambinews
Di Aceh Barat, kawanan gajah liar yang diperkirakan berjumlah tujuh ekor dalam dua hari terakhir kembali muncul di tiga desa dalam wilayah Kecamatan Pante Ceureumen. Informasi yang diperoleh Serambi, Minggu (10/2), kawanan gajah liar yang muncul dari kawasan hutan merusak tanaman kelapa sawit di Desa Seumara, Meunuang Kinco, dan Seumatok. Milik siapa dan berapa total luas kebun yang dirusak oleh hewan berbelalai itu hingga kemarin masih didata oleh pihak terkait.

Untuk mengatasi gangguan gajah tersebut, tim Conservation Rescue Unit (CRU) Resor Alue Kuyuen, Kecamatan Woyla Timur, Aceh Barat, sudah mulai melakukan langkah-langkah pengusiran. Tim baru memantau ke lokasi dan belum mengerahkan gajah jinak. CRU Aceh, kemarin juga ikut turun ke lokasi.

Anggota Tim CRU Aceh, Edison, yang ditanyai Serambi kemarin mengatakan, sesuai laporan dari masyarakat bahwa ada gajah yang masuk ke kebun mereka. Dikatakan, tim CRU Alue Kuyuen sejak dua hari lalu turun ke lokasi untuk memastikan langkah-langkah pengusiran gajah ke habitatnya. “Tim dari CRU dan pawang gajah dari BKSDA juga sudah turun ke Pante Ceureumen,” ujarnya.

Ditambahkan, siapa pemilik lahan dan berapa total luas tanaman yang dirusak oleh Po Meurah--sebutan dalam bahasa Aceh untuk gajah--hingga ini belum diketahui karena masih didata, termasuk berkoordinasi dengan aparatur di tiga desa tersebut.

Masuk negeri antara

Sementara itu di Bener Meriah, sekitar 32 gajah liar sejak sepekan terakhir berkeliaran dan merusak belasan hektare kebun di Gampong Negeri Antara, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah. “Keseluruhan ada 32 ekor gajah liar yang turun dan merusak belasan hektare kebun di Gampong Negeri Antara,” kata Ismail, warga setempat seperti dilansir dari Antara, Minggu (10/2).

Belasan hektare lahan pertanian yang dirusak gajah itu, antara lain, berisi pohon durian, pinang, pisang, dan tanaman palawija. “Konflik gajah dan manusia sangat merugikan petani. Karena itu, kami berharap pemerintah serius menangani masalah ini,” harapnya.

Hingga kemanrin, menurut Ismail, kawanan gajah liar tersebut masih bertahan di lokasi itu. Akibatnya, warga setempat takut pergi ke kebun. “Masalah ini sudah berkali-kali terjadi dan warga takut ke kebun karena gajah juga merusak gubuk yang ada di lahan,” ujar dia.

Anggota Tim Conservation Rescue Unit (CRU) Aceh, Edison mengatakan, jumlah gajah liar yang sering muncul pada tiga kecamatan di Aceh Barat, yaitu Kaway XVI, Pante Ceureumen, dan Kecamatan Meureubo, terus berkurang. Saat ini, sebutnya, Po Meurah--sebutan lain dalam bahasa Aceh untuk gajah--yang sering berkeliaran di sekitar itu hanya tinggal 7-9 ekor lagi.

Selama ini, lanjut Edison, habitat gajah yang dilindungi itu terganggu oleh adanya aksi pembukaan lahan milik perusahaan perkebunan atau pertambangan. “Khusus gangguan pada ketiga kecamatan tersebut, hanya gajah-gajah itu saja,” katanya.

Karena itu, Edison meminta semua pihak untuk berhenti menggerogoti habitat gajah dengan cara membuka perkebunan atau sektor lain sehingga tidak terjadi lagi konflik antara gajah dan manusia. Bahkan, tambahnya, beberapa waktu lalu tim CRU pernah menggiring gajah liar dari kawasan Pante Cereumen ke habitatnya dengan bantuan gajah jinak.

Terpisah, Kepala CRU Peusangan, Syahrul Rizal mengakui sejak sepekan lalu kawanan gajah liar turun ke perkebunan dan kini sudah masuk perkampungan penduduk di Gampong Negeri Antara, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah. “Benar, ada 32 ekor gajah liar yang sedang digiring Tim BKSDA Aceh dari wilayah Pante Ceureumen ke habitatnya,” kata Syahrul Rizal yang akrab disapa Yah Mu ini.

“Kawanan gajah itu masih bertahan di Pintu Rime Gayo dan Tim BKSDA Aceh terus melakukan pengiringan dengan membakar mercon agar gajah mau kembali ke habitatanya,” pungkas Syahrul Rizal. [] SERAMBINEWS


Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.