TamiangNews.com, ACEH SINGKIL -- Dua speedboat pembawa rombongan turis asal Ceko, Selasa (29/1) siang, itu beberapa kali berhenti di Sungai Singkil. Sang kapten bahkan harus berputar balik menuruti permintaan tamu asal Eropa, mendekati buaya berjemur di pinggir sungai dan kawanan burung kuntul bersayap putih.

Foto : Serambinews
Rombongan wisatawan Ceko itu rupanya hendak berpetualang ke Rawa Singkil. Tujuannya untuk melihat kawanan orangutan, monyet, burung langka, serta aneka tumbuhan akuatik. Namun, saat masih di perjalanan mengarungi sungai, mereka sudah disuguhi bonus deretan rumah tradisional khas penduduk daerah aliran sungai serta buaya liar dengan panjang di atas tiga meter.

Rawa Singkil memang memiliki daya tarik bagi wisatawan asal Eropa. Apalagi, dalam perjalanan menelusuri sungai sebelum masuk ke kawasan Rawa Singkil, turis sudah disuguhi penampakan buaya dan burung kuntul bersayap putih yang hinggap di punggung kawanan kerbau. “Pernah ada seorang turis datang sendirian khusus untuk melihat Rawa Singkil,” kata Darmawan dari Yayasan Save Aceh Nature (Y’SAN).

Serambi yang menggunakan speedboat berbeda dengan rombongan turis bersama Asisten I Setdakab Aceh Singkil, Mohd Ichsan, Kepala Dinas Kominfo Ahmad Rivai, dan Kadis Pariwisata Faisal, ikut merasakan sensasi petualangan menuju Rawa Singkil. Sensasi selama perjalanan, selain dapat berdekatan dengan hewan liar, para turis juga bisa melihat tingkah polah anak Rantau Gedang dan Teluk Rumbia yang berada di pinggir sungai sebagai hiburan. Karena, begitu mengetahui turis melintas, anak-anak langsung bergaya sambil melambaikan tangan. Bahkan, mereka beratraksi dengan salto ke sungai besar, kemudian gesit berenang tanpa sedikitpun waswas terbawa derasnya arus.

Setelah berpanas-panasan di atas speedboat mengarungi sungai, hawa sejuk segera menerpa wajah ketika sampai di kawasan Rawa Singkil. Mata pun disuguhi pandangan hamparan bakung yang menghijau serta air rawa berwarna hitam namun terlihat bersih. Laju speedboat pun dipelankan agar siulan burung dan jeritan monyet berebut makanan terdengar jelas. Suasana alam liar Rawa Singkil seketika mengusir penat hidup di tengah perkotaan. “Suasana alam yang masih alami inilah yang disukai wisatawan Eropa. Kita harus jaga,” kata Faisal, Kadis Pariwisata Aceh Singkil.

Sayang, petualangan ke pedalaman Rawa Singkil harus tertahan tumpukan eceng gondok dan kayu hanyut. Hadangan pertama bisa dilintasi setelah berjuang keras. Berikutnya, nakhoda speedboat pembawa turis harus menyerah lantaran kayu yang melintang di sungai terlalu besar.

Walau tak sampai ke tengah belantara Rawa Singkil, wisatawan Ceko itu terpuaskan dengan menyaksikan pemandangan di sepanjang sungai. Gelak tawa dan jepretan kamera milik para turis tak henti mengabadikan setiap momen.

Sebelum balik kanan, rombongan terlebih dahulu menikmati pemandangan sambil merasakan udara segar masuk ke paru-paru dengan memarkir speedboat di pinggir sungai. “Goodbye,” kata sang bule sambil lambaikan tangan mengakhiri petulangan bersama ke Rawa Singkil ketika senja mulai mendekat.

Berpetualang ke Rawa Singkil sebenarnya lebih mudah ditempuh dengan naik perahu kayu milik warga setempat. Sebab, makin ke dalam, anak sungai yang dilintasi semakin sempit. Jarak paling dekat menuju Rawa Singkil adalah dari Rantau Gedang, atau bisa juga dari Kecamatan Kuala Baru. [] SERAMBINEWS



Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.