TamiangNews.com, TUALANG CUT -- Peringatan Hari Ulang Tahun (Milad) Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ke 42 Daerah I bersamaan dilaksanaknnya Maulid Nabi Muhammad SAW yang dipusatkan di Pekanan (pasaran) Kampung Mesjid Kecamatan Manyak Payed Kabupaten  Aceh Tamiang, yang di prakarsai oleh Pang 5 Sumatera Selasa (4/12).



Perayaan Milad itu dimulai dengan pembacaan Tahlilan diikuti oleh 500-an warga masyarakat dan Kombatan GAM, juga turut hadir Perwakilan KPA Aceh Teuming Gure Rahman, Mantan Panglima Wilayah KPA Teming Yusuf Jali, Anggota DPRK dari Partai Aceh Mustaqim, Anggota DPRA dari Partai Aceh Irfansyah, Caleg DPRK Partai Aceh Dapil II Safrina dan para pengurus DPW serta DPC Partai Aceh Kabupaten Aceh Tamiang.

Gure Rahman, Perwakilan KPA Aceh Tamiang dalam sambutannya menyampaikan, bahwa hari ini adalah hari kelahiran GAM 42 tahun yang silam, ini adalah perjuangan para syuhada Aceh Merdeka, yang wajib diperingati, begitupun dengan para anak anak yatim yang ditinggalkan oleh orang tua mereka masa konflik, bagi para pejabat yang telah sukses berkewajiban membantu anak anak yatim tersebut, seperti yang dilakukan oleh Pang Sumatera hari ini. 



Perjuangan belum selesai, karena hari ini rakyat Aceh belum sejahtera, masih ada anak yatim dan parkir miskin belum memiliki rumah yang layak, oleh karenanya KPA memohon kepada Calon Legislatif dari partai Aceh dapat memikirkan kesejahteraan rakyat.

"Perjuangan belum selesai, karena rakyat belum sejahtera," ujar Gure Rahman.

Gure Rahman berharap agar KPA/PA dapat berbuat untuk menampung aspirasi masyarakat, karena Kemerdekaan yang hakiki ialah kemerdekaan dibawah kesatuan Republik Indonesia.

Sementara itu Tgk Alfian Lukman SHI, MA selaku Penceramah menyampaikan bahwa dirinya juga seorang mantan Kombatan GAM yang turut menghadiri perundingan perdamaian Aceh dan RI di Swedia.

Tgk Lukman Alfian yang merupakan Dosen di Unimal Lhokseumawe merupakan tokoh sentral dalam misi MoU Helsingki ini menjelaskan bahwa perayaan milad ini merupakan bentuk perayaan atas Perdamaian Aceh dan RI di Helsinki pada 2004 yang lalu. 

Perjuangan tidak hanya dengan perang atau mengangkat senjata, namun perjuangan yang nyata hari ini ialah mensejahterakan masyarakat di bawah kesatuan NKRI.

Ada beberpaa item yang menjadi perdebatan saat MoU. Pertama GAM tidak boleh bubar karena jika GAM dibubarkan siapa siapa yang mengawal MoU, namun pemerintah RI tidak menyetujui. Kedua GAM meminta para tahanan di lepas tanpa syarat, namun NKRI juga tidak menyetujui mengingat NKRI ada aturan tersendiri.

Ia menambahkan Aceh menjadi contoh bagi Negara-Negara luar tentang bagaimana bisa dilaksanakan sebuah perdamaian hingga menghasilkan Partai Lokal

Diakhir kegiatan disertai dengan santunan terhadap kurang lebih 115 anak yatim di Kecamatan Manyak Payed. [] TN-W007

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.