Sudah seminggu Fenny Steffy Burase berada di Aceh. Perempuan Manado yang dikabarkan dekat dengan Irwandi Yusuf ini ingin menghabiskan waktu di Aceh sebelum dipanggil jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi pada sidang kasus dugaan suap proyek dari Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) 2018 yang melibatkan Gubernur nonaktif Aceh, Irwandi Yusuf.

Foto : Serambinews
Selama di Aceh, mantan pramugari ini mengisi waktu luangnya dengan berziarah ke makam ulama-ulama, di antaranya, makam Syekh Abdurrauf As-Singkily (Syiah Kuala), makam Tgk Chik Di Tiro, dan lainnya. Ia juga sempat menghadiri Festival Panen Kopi Gayo di Rembele, Bener Meriah.

Steffy mengaku mengenal Aceh dari kopi. Bagi dia Aceh juga sebagai tempat berhijrah. Steffy yang kini sudah menjadi mualaf menyatakan banyak belajar tentang Islam di Bumi Serambi Mekkah ini. “Aceh itu hijrah dan kopi buat aku,” katanya saat diwawancarai secara khusus oleh Serambi, Selasa (27/11) di satu tempat di kawasan Aceh Besar.

Berikut petikan wawancara Steffy dengan wartawan Serambi Indonesia, Masrizal bin Zairi dan Fotografer, M Anshar.

Sejak kapan berada di Aceh?

Saya sudah seminggu di Aceh, mutar-mutar, dari Bireuen sampai ke Bener Meriah lihat festival petik kopi. Sekarang sudah beberapa hari di sini, ziarah ke makam-makam ulama, seperti Syiah Kuala, Teungku Chik Di Tiro, kalau bisa sih minimal yang ada di sini saja.

Sekarang aku lagi nggak ada kerjaan, lagi nunggu panggilan sebagai saksi oleh KPK, ya sudah lagi ada waktu, eksplorasi saja Aceh. Kan selama ini bolak-balik (Aceh-Jakarta), boro-boro jalan-jalan, kuliner Aceh aja nggak keburu, meeting terus. Baru sekarang sih bisa eksplor.

Tidak ada agenda khusus? 

Diam-diam sebenarnya pengen cari informasi sih, tapi bukan tujuan utama, sambil jalan-jalan saja. Aku baru banyak tahu ternyata gosip yang beredar tidak enak banget, terlepas dari istri siri, OK itu sudah semua orang ngomong.

Cuma maksudnya, kenapa bisa kayaknya banyak yang teriaki aku makan uang rakyat. Ya, kalau misalnya benar sih alhamdulillah, berarti rekening numpuk. Tapi ini udah nggak ada, tapi beritanya ke mana-mana.

Aceh Marathon ingin dibuat seperti apa sebetulnya?

Sebenarnya anggaran Aceh Marathon Rp 10 miliar, kita pengen banget sekelas dengan Bali Marathon, tidak usah lebihlah, minimal rata-rata atau mendekati. Akhirnya, setelah dihitung-hitung anggarannya 16-17 miliar. Tapi kita juga realistis bahwa anggaran daerah sanggupnya adanya segitu (Rp 10 miliar). Makanya, awal-awal Pak Gubernur bilang sisanya kita cari pinjaman sana-sini, yang penting acara booming dulu. Memang kalau bicara tentang maraton internasional, nggak usah ngomong untung pada tahun pertama, tapi branding.

Karena ketika event itu sukses, pada tahun kedua kita tidak susah lagi cari sponsor dan orang berduit pasti berlomba-lomba menyukseskan acara ini. Kita sudah mempersiapkan itu perfect, sampai akhirnya ada masalah OTT.

Sudah berapa persen persiapan Aceh Marathon saat itu? 

Tinggal hari H. Sayang sekali sebenarnya, jadi kaya semua kerja keras, sia-sia, nggak ada ucapan terima kasih, ketimpa tangga.

Apakah Aceh Marathon masih akan dilanjutkan?

Sampai hari ini yang mengecewakan adalah kami beberapa kali mencoba menghubungi Pak Plt (Gubernur Aceh, Nova Iriansyah), mulai dari surat resmi, telepon, hingga mendatangi rumah beliau. Tapi mungkin beliau sibuk banget sehingga tak bisa ketemu. Dari Dispora juga sudah berkoordinasi berkali-kali, tapi jawaban (Dispora Aceh) sama, masih digantung Pak Plt.

Kita menutut bagaimana sikap pemerintah terkait Aceh Marathon, seolah-olah itu event Pak Gubernur, bukan event Pemerintah Aceh. Jadi, kayak event tunggal Pak Gubernur dan Steffy Burase. Segala anggaran yang dibuat kemarin jadinya ke mana?

Setidaknya bicaralah kalau ada pembatalan, selesaikan secara profesional, toh juga Plt menghadiri meeting lebih dari tiga kali. Makanya saya juga bingung. Saya berharap ada keberlanjutannya.

Bagaimana reaksi Anda ketika ada OTT?

Aku pikir tidak ada Aceh Marathon di situ. Karena kalau korupsi, dana yang mana dikorupsi. Dana aja belum keluar dari Dispora Aceh. Dari 100 persen dana talangan yang sudah keluar yang baru diganti Dispora itu baru 10-15 persen.

Bagaimana persiapan Aceh Marathon dilakukan, sementara dananya belum cair?
Sebelum dana pada Dispora Aceh cair, event ini menggunakan dana talangan semua. Kenapa kita talangi, siapa pun nanti perusahaan yang menang tender, tinggal koordinasi ke peminjamnya. Nanti tinggal bayar saja.

Sejak Irwandi ditangkap, berapa kali Anda menjenguknya?

Kalau jenguk ya nggak boleh, karena saya saksi. Tapi kalau ketemu secara tidak sengaja pas lagi pemeriksaan di KPK itu ada. Bertemu hanya dua kali. Saya sempat tanya, kenapa gini? Beliau hanya jawab: jebakan-jebakan.

Kapan Anda mulai dekat dengan Irwandi?

Gini! Sebenarnya bukan kedekatan dengan Bang Irwandi, kedekatan dengan Aceh. Waktu aku sempat di Finlandia, pertama kali aku kenal Aceh di Finlandia, kebetulan lagi promosi kopi, tapi bukan kopi Aceh tapi kopi Jawa. Di sana saya berkenalan beberapa pengusaha kopi dari Aceh. Kebetulan mereka itu GAM. Setiap hari saya mendengar ceria perperangan dulu dan bagaimana perdamaian Helsinki. Ternyata saya baru tahu, berjuang dulu untuk rakyat. Saya baru tahu itu semua. Di sana saya juga bertemu mantan kombatan dan meminta saya mempromosikan Aceh.

{Kemudian Steffy mengarahkan pembicaraan ke sosok Irwandi...}
Gini, saat kita lihat laki-laki gagah menceritakan tentang Aceh, tentang perperangan, itu something, itu yang ada di beliau (Irwandi). Sejak itu semacam ada panggilan pengen membantu beliau dengan kapasitas aku.

Bagaimana sosok Irwandi di mata Anda?

Sejujurnya, saya minta maaf saya tidak bermaksud buka aib, tapi kita ngomong apa adanya. Saya, alhamdulillah, shalatnya rajin sekali, tapi pengetahuan agama saya sangat kurang. Beliau (Irwandi), pengetahuan agamanya luar biasa, tapi shalatnya bolong-bolong.

Jadi, saya sering banget marahi beliau masalah shalat, setidaknya di depan saya dia shalat. Yang saya lihat tidak seorang pun berani melakukan itu ke beliau, hanya saya. Tapi, saya minta maaf, sebab menurut saya itu kewajiban, bukan karena dia gubernur lalu saya tidak berani. Dia juga sering kali bilang untuk saya, kamu shalat, tapi pakai celana pendek.

Jadi, hal-hal yang kayak gitu, debat-debat-debat. Alhamdulillah, dia (sekarang) shalatnya jadi rajin, alhamdulillah sayanya berhijab. [] SERAMBINEWS



Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.