TamiangNews.com, MATARAM -- Menjadi perempuan kadang sungguh berat. Mau membela diri malah dicap bersalah, hendak melawan pun begitu susah. Itulah yang dialami Baiq Nuril atas peristiwa yang menimpanya lima tahun lalu. 

Foto : Kumparan
Saat itu, Nuril masih menjadi pegawai honorer pembantu bendahara di SMAN 7 Mataram. Sementara Muslim adalah kepala sekolah di tempat ia bekerja. Nuril tak pernah kuasa menolak permintaan Muslim yang menyuruhnya kerja lembur atau mendengarkan ocehannya baik di telepon maupun tatap muka yang kerap bernada mesum. 

Jika ia tidak menggubris cerita Muslim, atasannya itu akan memarahi Nuril keesokan harinya. “Dia suka marah-marah kalau saya nggak ladenin (pembicaraannya),” ujar Nuril ketika berkunjung ke kantor kumparan di Jakarta Selatan, pada Rabu (22/11).

Hingga timbul kasak-kusuk yang menggosipkan kedekatan Nuril dengan si Kepala Sekolah. Tak hanya itu, suami Nuril pun mulai bertanya-tanya. “Pegawai sekolah kan biasanya pulang jam 2 siang. Saya pulang jam 6 sore bahkan kadang malam. Ya wajar, suami pun mempertanyakan,” tuturnya bercerita. 

Foto : Muslim, Pelapor Baiq Nuril
Satu ketika, Nuril diminta lembur mengerjakan laporan keuangan akhir tahun sekolah bersama 'L', atasan Nuril langsung, dan Muslim di Hotel Saron, Senggigi. Nuril pun berangkat membawa anaknya yang belum genap berusia tiga tahun menggunakan taksi bersama L. Sementara Muslim mengekor dengan kendaraan pribadinya. 

Tiba di kamar, ia segera membuka berkas laporan keuangan sementara L membuka laptop setelah berganti baju. Ketika L pergi ke kamar mandi, Muslim datang dan menyuruh Nuril beserta anaknya untuk pergi dari ruangan.  

Sebelumnya, Muslim sempat menelepon Nuril dan berkata, “Nanti sampai hotel, kamu keluar ya. Ada yang mau saya bicarakan sama L mengenai keberangkatan kita ke Jakarta dalam rangka acara ketua komite sekolah.” 

Nuril tak ambil pusing, ia pergi mengajak putranya bermain di kolam renang. Setelah sekitar satu setengah jam, Nuril kembali ke ruangan. Sementara L masih berada di kamar mandi, Muslim memanggil Nuril agar mendekat ke arah kasur. Tanpa ragu, Muslim menunjukkan bekas spermanya di atas selimut kepada Nuril. 

Ibu tiga anak ini terkejut dan gelagapan. “Orang ini sudah gila,” gumam Nuril dalam hati saat itu. 

Belum reda kebingungannya, peringatan datang sebelum Nuril pulang. “Kamu jangan macem-macem. Kita ke sini kerja. Kalau seandainya ada orang lain ngomong-ngomong soal ini, kamu yang saya cari.” 

Ancaman itu membuat Nuril tak berkutik. Rasa takut hinggap di dada. Ia tak mungkin membiarkan dirinya dipecat dari pekerjaan yang sangat menunjang perekonomian keluarga. Tapi Nuril juga merasa harus berbuat sesuatu untuk melindungi dirinya sendiri. 

Setibanya di rumah, Muslim menelepon Nuril pada sore harinya. Demi menjaga keutuhan perkawinan dan menyangkal segala rumor yang dialamatkan padanya, maka Nuril memilih untuk merekam dan menyimpan percakapan teleponnya dengan Muslim sebagai barang bukti. 

Di situlah Muslim menceritakan hubungan badan yang dia lakukan bersama L. “Selain telepon ya, sering bertatap muka dan cerita hal-hal caranya berhubungan badan itu. Itu yang bikin saya risih sekali,” ucap Nuril. 

Tapi ia tak bisa menghindar, tak juga kuasa menutup telepon itu. “Kalau tidak didengarkan dia akan bentak ‘hei dengar-dengar’. Kalau tidak mengangkat telepon besoknya marah-marah secara langsung.”

Peristiwa tersebut tak hanya sekali terjadi. Di lain waktu, saat kunjungan ke Bogor untuk urusan pekerjaan. Muslim memanggil Nuril ke kamarnya. 

“‘Sini-sini’ kata dia (Muslim), saya jawab 'kenapa?' Dia bilang 'sini!' sambil memaksa gitu,” tutur Nuril. Muslim lalu menggiring Nuril menuju ke kasur dan menyingkap selimut persis seperti kejadian di Hotel Saron. 

“‘Ini tadi subuh’, gitu dia (Muslim) bilang dengan wajah yang...” kata Nuril sambil bergidik  mengingat peristiwa itu.

Nuril tak tahu harus bersikap seperti apa menanggapi perlakuan atasannya itu. “Jijik saya mendengarnya.”

Ia mencoba untuk tak ambil pusing meski rasa takut dan tak nyaman menjangkiti hati. Terlebih setelah Muslim jelas-jelas mencoba mengajaknya berhubungan badan dengan iming-iming akan membelikan motor baru. 

“Walau dibeli dengan apapun, gunung emas sekalipun. Saya tidak mau,” ujar ibu beranak tiga itu tegas. 

Risih dengan perlakuan atasannya itu, Nuril menceritakan rasa takut dan gelisah yang ia pendam kepada salah satu rekan kerjanya, termasuk perihal rekaman telepon yang dimiliki. Tapi lantai dan dinding sekolah seolah bertelinga. 

Informasi itu cepat menyebar. Imam Mudawin, salah satu guru di SMAN 7 Mataram, meminta rekaman tersebut pada Desember 2015. Ia berkata akan melaporkan perbuatan si Kepala Sekolah ke DPRD Mataram sebab tak mau dipimpin oleh orang semacam itu. 

Semula Nuril takut rekaman tersebut akan tersebar. “Otomatis nanti Pak Kepsek kan marahnya ke saya,” ujar Nuril. Setelah seminggu dibujuk, akhirnya Nuril memutuskan memberi rekaman tersebut. 

Ia pun mewanti-wanti Imam. “Hanya Pak Haji saja yang saya kasih rekaman, tidak yang lain.” 

Ketakutan Nuril justru malah mewujud nyata. Sebelum sampai ke DPRD, rekaman itu tersebar di sekolah dan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kota Mataram terlebih dulu. 

Muslim berang. Ia pun memutuskan untuk tidak mencantumkan nama Baiq Nuril dalam Surat Keputusan Sekolah terkait karyawan. 

Sebagai salah satu pegawai yang dikenal ulet dan pekerja keras, Nuril protes atas keputusan Muslim. Ia pun menyampaikan keberatannya dan mempertanyakan alasan ketiadaan namanya dalam SK. 

“Ini mengenai rekaman. Kalau kamu mau ngelaporin saya tentang rekaman ini kamu tidak akan berhasil. Kenapa, karena kamu perempuan,” tutur Nuril menirukan ucapan Muslim saat itu. 

Tak hanya melenyapkan nama Nuril dari SK, Muslim juga melaporkan Nuril ke Polres Mataram. Mulanya dengan tuduhan pencemaran nama baik, namun kemudian pasal yang digunakan adalah pasal 27 ayat (1) Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) terkait penyebaran konten asusila. 

Ramainya kasus ini membuat Nuril dikeluarkan dari sekolah, dicabut dari pekerjaannya. Sementara Muslim, meski sempat dinonaktifkan, kariernya tetap terjaga bahkan melesat hingga mampu menjabat Kepala Bidang Kepemudaan Disdikpora Kota Mataram saat ini. 

Nuril sangat bingung, tidak tahu langkah apa yang harus dilakukan dalam menghadapi kasus seperti ini. Ia tidak pernah menyangka proses hukum yang berlangsung sejak akhir 2015 membuatnya ditahan selama 2 bulan 3 hari pada 27 Maret 2017. Penahanan itu dilakukan di depan anaknya yang baru berusia 4,5 tahun.

"Itu yang kita sayangkan juga, teman-teman penyidik itu tidak berperspektif perlindungan anak," ujar kuasa hukum Nuril, Aziz Fauzi. Putra Nuril terpaksa menunggu selama enam jam di kepolisian tanpa ada yang menemani. "Seharusnya Nuril dibiarkan dulu pulang, menaruh anaknya," imbuh Aziz. 

Tangis sang anak ketika polisi menahannya membuat Nuril semakin terpukul. Apalagi keluarga besar saat itu menganggapnya bersalah. 

“Saya memarahi adik saya habis-habisan, karena prinsipnya kalau ada keluarga saya yang salah, saya sebagai yang tertua ikut bertanggung jawab,” tutur kakak Nuril, Baiq Fitriani, dengan nada penuh penyesalan ketika ditemui kumparan di rumahnya di Mataram, Kamis (22/11).

Keluarga sempat menyambangi Muslim untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Tapi Muslim dengan kepala congkak mengatakan akan mencabut laporannya dengan dua syarat. 

Pertama, ucapan permohonan maaf dengan baliho besar yang dipasang di depan Islamic Center, Mataram. Syarat kedua adalah uang ganti rugi sebesar Rp 500 juta.

“Katanya, dia melaporkan kasus itu kan juga keluar uang banyak. Ya dia mau (uang itu) dikembalikan,” kata bibi Nuril, Baiq Nurjanah, ketika mengunjungi kumparan, Rabu (21/11).

Baiq Nurjanah dan suaminya kemudian mengenalkan Nuril kepada tim kuasa hukum Joko Jumadi. Nuril akhirnya memilih menempuh jalur hukum. 

Bulan Juli 2017, majelis hakim Pengadilan Negeri Kota Mataram memvonis bebas dan menyatakan Nuril tidak bersalah. Tapi rasa lega itu tak berlangsung lama sebab Jaksa Penuntut Umum mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung atas putusan ini. 

Panjangnya proses hukum yang mesti ia jalani sungguh membuat Nuril merasa lelah. Paman Nuril, Lalu Junaedi, melihat perubahan yang cukup drastis pada diri keponakannya itu. 

“Sudah dua tahun lebih Nuril jadi pendiam begitu,” ucap suami Baiq Nurjanah ini. Padahal menurut paman dan bibi Nuril, keponakannya itu semula tipe yang ceria dan terampil. 

“Nuril itu awalnya ceria. Disuruh apa aja bisa, mau masak pinter, bikin jajanan juga jago,” ujar Baiq Nurjanah. 

Titik terdalam keterpurukan Nuril terjadi saat putusan MA malah menganulir vonis bebas putusan PN Mataram. Nuril dihukum enam bulan penjara dan denda Rp 500 juta. Putusan itu membuat harapan Nuril dan keluarga akan keadilan runtuh seketika. 

“Ein (Nuril) itu anak yang paling berbakti sama orang tua, saya sampai iri ingin bisa seperti dia,” ucap Baiq Fitriani. “Tapi kenapa dia justru dia yang dapat cobaan paling berat,” tuturnya sambil tersengguk.

Kini seluruh keluarga bersatu menguatkan Nuril. Tak hanya itu, dukungan dari berbagai pihak berdatangan mulai dari pengumpulan dana untuk membayar denda--yang kemudian ditolak Nuril karena itu artinya ia mengaku bersalah, hingga dorongan untuk mengajukan amnesti. 

Menurut kuasa hukum Baiq Nuril, Joko Jumadi, amnesti di luar upaya hukum yang bisa ia lakukan. “Amnesti itu kan bukan upaya hukum. Tetap kita dorong, tapi upaya hukum kita apa? PK (Peninjauan Kembali),” kata Joko. 

Upaya tersebut dilakukan karena melihat peluang yang terbuka setelah Kejaksaan Agung menunda eksekusi vonis Nuril. "Dengan melihat aspirasi yang berkembang di masyarakat terhadap persepsi keadilan, kami akan menunda eksekusi," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Mukri, Senin, (19/11).

Penundaan eksekusi ini memberikan waktu untuk Nuril dan tim kuasa hukumnya untuk melawan balik. Selain upaya Peninjauan Kembali atas putusan MA, Nuril akhirnya memilih untuk melaporkan balik Muslim ke Polda Nusa Tenggara Barat dengan tuduhan tindakan pencabulan oleh atasan kepada bawahan. 

Pelaporan ini dilakukan agar Nuril memperoleh perlindungan, sebab menurut Joko, “Sewaktu-waktu Nuril ini bisa saja langsung dieksekusi oleh jaksa. Maka saya harus memposisikan Nuril sebagai korban supaya dia dilindungi oleh LPSK.” 

Sebelumnya, Nuril enggan melaporkan apalagi setelah putusan PN Mataram yang sempat memvonisnya bebas. Ia merasa berat untuk kembali memasukkan dirinya dalam proses hukum yang melelahkan dan penuh tekanan. 

Tapi kini karena begitu banyak dukungan dari berbagai pihak terutama keluarga yang solid menyokongnya, Nuril memilih melawan. 

“Begitu besar dukungan dari semua pihak, itu yang bikin saya harus kuat, saya harus berani. Orang sudah memberikan semangat, berarti saya harus lawan. Lawan ketakutan itu,” pungkas Nuril. [] KUMPARAN

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.