TamiangNews.com, BANDA ACEH -- Mahkamah Majisstret Langkawi Kedah, Malaysia menjatuhi hukuman penjara selama 2 tahun 6 bulan untuk lima nelayan Aceh asal Gampong Alue Ie Puteh, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang atau masing-masing divonis enam bulan penjara. Dalam sidang pada Rabu (31/10), yang dipimpin Hakim Abidah Husna Binti Zainal itu, kelima nelayan Aceh yakni, Syamsul Bahri (42) tekong, Syahrul Rizal Yahya (38), MN Azis Saputra (20), Sunaryo (40), dan M Sakbani (24) tersebut dinyatakan tidak memiliki dokumen perjalanan dan dokumen pribadi.


Foto : Serambinews
Dr Made Jakfar Abdullah MA selaku Juru Bahasa Asing Mahkamah Persekutuan Malaysia, dalam siaran persnya kepada Serambi, kemarin, menyebutkan, para nelayan Aceh itu disidang karena salah menangkap ikan di perairan Malaysia. “Mereka ditangkap pada 12 Juli 2018 lalu, oleh Pasukan Maritim Malaysia di wilayah perairan pada jarak 1.1 batu nautika dengan jarak daratan, berhampiran dengan Pulau Perak Kedah,” ujar Dr Made Jakfar Abdullah MA yang juga dosen di UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Dijelaskan juga, nelayan Aceh itu dituduh menangkap ikan di perairan Malaysia tanpa kebenaran atau tidak ada izin. Kelima nelayan tersebut menggunakan boat KM Wulandari tanpa nomor pendaftaran dan kelima nelayan itu juga tidak memiliki dokumen perjalanan maupun dokumen pengenalan pribadi.

Oleh sebab itu, kelimanya dituntut dengan seksyen 25 (a) di bawah Akta Perikanan 1985 seksyek 19 dengan hukuman ancaman hukuman denda 1 juta Ringgit bagi tekong dan 100 ribu Ringgit bagi masing-masing anak buah kapal (ABK). Tapi, dalam putusannya, Mahkamah Majistret Langkawi Kedah, Malaysia menjatuhkan hukuman denda 200 ribu Ringgit untuk Samsul Bahri sebagai tekong dan masing-masing 30 ribu Ringgit untuk ABK yaitu, Syahrul Riza Yahya, NM Ajis saputra, Sunaryo, dan M Sakbani. “Bila tak mampu bayar, mereka dihukum penjara selama 6 bulan,” tukasnya.

Lebih lanjut, Juru Bahasa Asing Mahkamah Persekutuan Malaysia, Dr Made Jakfar Abdullah mengungkapkan, setelah vonis dijatuhkan Mahkamah Majistret Langkawi Kedah, Malaysia berupa hukuman denda 200 ribu Ringgit untuk tekong dan masing-masing 30 ribu Ringgit bagi kelima ABK, ternyata para nelayan asal Gampong Alue Ie Puteh, Manyak Payed, Aceh Timur tersebut tak bersedia membayarnya. Mereka malah sepakat untuk menjalani hukuman penjara selama enam bulan.

“Para nelayan itu rupanya tidak sanggup membayar denda yang mencapai ratusan juta Rupiah tersebut. Mereka memilih penjara saja dari pada membayar denda. Karena itu, mulai 31 Oktober 2018, kelima nelayan asal Aceh Tamiang tersebut langsung menjalani hukuman sebagaimana yang diputuskan oleh majelis pengadilan setempat,” pungkas Made Jakfar Abdullah. [] SERAMBINEWS



Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.