TamiangNews.com, BANDA ACEH -- Sebanyak 10 ribu hingga 15 ribu pelanggan listrik di wilayah PT PLN Persero Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Banda Aceh terancam diputus. Pasalnya, para pelanggan di bawah 3 Unit Layanan Pelanggan (ULP) Merduati Kota, Syiah Kuala, dan Lambaro itu setiap bulannya menunggak satu bulan ke atas dengan estimasi ‘cash in’ mencapai Rp 10 miliar lebih.


Foto : Ilustrasi
Kepada pelanggan yang menunggak dua bulan, Pihak PLN Banda Aceh akan mengambil tindakan pemutusan listrik dengan cara menyegel atau membuka kWh meter yang bersangkutan. Pemutusan arus listrik juga akan diberlakukan kepada pelanggan yang belum membayar rekening bulan berjalan di atas tanggal 20 setiap bulannya.

Demikian disampaikan Manager PLN UP3 Banda Aceh, Wahyu Ahadi Rouzi kepada Serambi, Sabtu (10/11). Bahkan pihaknya akan berlakukan tindakan lebih tegas kepada pelanggan yang menunggak 3 bulan ke atas, yakni pemutusan listrik dengan membongkar keseluruhan aset PLN yang terdiri atas kWh meter, Mini Circuit Breaker (MCB), kabel SR (sambungan rumah), serta penutupan pelanggan.

“Apabila mereka (mantan pelanggan pascabayar) ingin kembali menjadi pelanggan, maka wajib membayar seluruh tunggakannya plus biaya penyambungan dan uang jaminan pelanggan,” ujar Wahyu. Disebutkan, pelanggan yang kWh meternya sudah dibuka akan kembali disambung 1x24 jam pada hari kerja setelah tunggakan dilunasi yang bersangkutan.

Wahyu mengatakan, secara persentase para penunggak listrik didominasi kalangan rumah tangga, disusul pelanggan bisnis, sosial, dan industri. Untuk menyosialisasikan hal itu ke pelanggan, pihaknya aktif menyampaikan pemberitahuan melalui mobil informasi serta bekerja sama dengan sejumlah gerai, sebelum akhirnya mengirim tim pemutusan dan pembongkaran kWh meter.

Meskipun ada ribuan pelanggan yang menunggak, PLN Banda Aceh tetap memberikan apresiasi kepada pelanggan di Unit Pelayanan Pelanggan Keudebieng, Jantho, dan Sabang. “Pelanggan di bawah tiga unit ini memang tipikal masyarakatnya malu berutang dan membayar listrik tepat waktu,” kata Wahyu, dan menyebut kantor kantor di lingkup Pemko Sabang, Pemko Banda Aceh, dan Pemkab Aceh Besar juga rutin membayar tiap bulan.

Manager PT PLN UP3 Banda Aceh, Wahyu Ahadi Rouzi menambahkan, pelanggan yang dibuka kWh meter nya akibat menunggak dua bulan maka secara otomatis diganti dengan sistem listrik prabayar (LPB), meskipun ia sudah melunasi tunggakan itu. Langkah tersebut diberlakukan PLN sebagai konsekuensi kepada penunggak, agar ke depan lebih tertib membayar tagihan.

“Ini bagian dari mencegah pelanggan tersebut kembali menunggak. Namun jika pelanggan itu tetap ingin menggunakan sistem pascabayar, maka kami persilakan untuk mengajukan permohonan,” jelas Wahyu. Dijelaskan, sistem prabayar memiliki banyak keunggulan, di antaranya pemakaian listrik terkendali dan lebih aman. [] SERAMBINEWS


Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.