TamiangNews.com, ISLAMABAD -- Pakistan berhasil menguji coba peluru kendali (rudal) Ghauri yang dapat membawa hulu ledak konvensional dan nuklir dengan jangkauan sekitar 1.300 km, kemarin. Uji coba senjata ini dilakukan setelah India resmi membeli lima unit sistem rudal pertahanan S-400 Rusia dan membatalkan perundingan damai secara sepihak.

Foto : Sindonews.com
Komando Pasukan Strategis Angkatan Darat Pakistan Letnan Jenderal Mian Muhammad Hilal Hussain memuji tes tersebut sebagai demonstrasi yang sukses dari kesiapan operasional dan teknis militer.

"Peluncuran ini mengkonsolidasikan kemampuan nuklir Pakistan yang ditujukan untuk perdamaian dan stabilitas melalui rezim pencegahan yang kredibel," kata militer setempat dalam sebuah pernyataan yang dilansir The Express Tribune.

Presiden Arif Alvi dan Perdana Menteri Imran Khan juga menyamapikan apresiasi mereka atas keberhasilan uji coba sistem rudal Ghauri.

Demonstrasi senjata ini itu terjadi setelah rival regionalnya, India, menandatangani kesepakatan dengan Rusia pada Jumat soal pembelian sistem pertahanan udara S-400 oleh New Delhi dengan total harga sekitar USD5 miliar. 

Pada akhir bulan lalu, New Delhi juga membatalkan pembicaraan damai dengan Islamabad yang dijadwalkan akan berlangsung di sela-sela sidang Majelis Umum PBB di New York.

Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mehmood Qureshi mengkritik India atas pembatalan perundingan damai itu. Alasan New Delhi membatalkannya karena Islamabad dianggap mendukung kelompok bersenjata di Kashmir dalam insiden Juli lalu.

"India enggan, kami tidak akan menutup pintu kami," katanya, seperti dikutip Economic Times. "Bersembunyi jauh dari masalah tidak akan membuat mereka menghilang. Itu tidak akan memperbaiki situasi di Kashmir," ujarnya.

"Keterlibatan, tidak ada keterlibatan. Datang, tidak datang. Kami menginginkan pembicaraan karena kami percaya cara yang masuk akal adalah bertemu dan berbicara. Mereka setuju, dan kemudian tidak setuju," lanjut Qureshi.

Ditanya apakah ada kemungkinan perang lain antara Pakistan dan India, Qureshi menyatarakan opsi itu tidak ada di meja.

"Siapa yang berbicara tentang perang? Bukan kami. Kami menginginkan perdamaian, stabilitas, pekerjaan dan meningkatkan kehidupan. Anda mengidentifikasi keengganannya," katanya. 

"Kami menginginkan perdamaian. Itu tidak berarti kami tidak dapat membela diri dari agresi. Kami dapat, tetapi kami tidak memiliki pola pikir agresif," imbuh dia, yang dikutip Selasa (9/10/2018).

Menteri Informasi Fawad Chaudhry juga bersikeras pada akhir September lalu bahwa Pakistan menginginkan perdamaian dengan India. “Perang tidak akan menjadi pilihan yang layak. Kedua negara harus melakukan negosiasi," katanya. [] SINDONEWS.COM

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.