Oleh : Mitha Adisty Putri*

Penghujung tahun telah tiba, mahasiswa mulai disibukkan dengan deadline program kerja organisasi, tugas akhir, laporan dan tak lupa juga persiapan Pemira (Pemilihan Raya). Minggu ini, Panitia Khusus (Pansus) yang terdiri dari beberapa anggota Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Unsyiah untuk menjadi perantara dalam mencari Panitia Komisi Pemilihan Raya (KPR) Unsyiah tahun 2018 yang kelak akan menjadi penyelenggara Pemira. Pemira yang memiliki nama lengkap Pemilihan Raya ini menjadi bukti pesta demokrasi di Kampus Jantong Hatee Rakyat Aceh, Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 


Pemira bukan hal tabu dikalangan mahasiswa, Pemira di Unsyiah telah dilakukan sejak beberapa tahun silam. Setiap tahun Pemira memiliki histori yang berbeda-beda. Pada tahun 2017 silam, terdapat lima kandidat dari lima fakultas di Unsyiah dengan jumlah pemilih tetap 22.404 mahasiswa namun yang terlibat aktif dalam pencoblosan hanya 12.409 mahasiswa saja. Mahasiswa Unsyiah pun menjatuhkan pilihannya pada Muhammad Yasir dari Fakultas Teknik sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Syiah Kuala tahun 2018 dan 33 mahasiswa yang mewakili 12 fakultas untuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Syiah Kuala tahun 2018.

Dalam hal ini Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Kedokteran tergerak untuk melakukan Jaring Aspirasi (Asmara) melihat masalah dan kebijakan yang tepat untuk memajukan Pesta Demokrasi di Universitas Syiah Kuala kini. Beberapa mahasiswa yang diwawancarai secara random dari dua program studi Pendidikan Dokter dan Psikologi memberikan berbagai evaluasi Pemira lalu dan harapan untuk Pemira kini. 

Sulthan Yazid (2017) memberikan gagasan mengenai Pemira tahun lalu, Pemira tahun 2017 merupakan Pemira pertama bagi saya, masih banyak kekurangan seperti informasi Pemira yang tidak cukup luas, seperti jadwal debat kandidat calon ketua BEM Universitas, Profit test, dan waktu kampanye yang kurang terasa disudut-sudut kampus. Selain itu, hal-hal yang menodai demokrasi seperti blackcampaign, kerusuhan antar pendukung, dan lainnya cukup terdengar dikalangannya. Ia mengharapkan hal-hal seperti itu tidak terulang lagi dan menjadi bahan perbaikan untuk Pemira kini. 

Lain halnya dengan Ainiyyah Nurfath (2017) juga ikut berbagi pandangannya mengenai Pemira tahun 2017, Ia mengatakan “Pemira tahun lalu sudah bagus, hanya saja teknis pemira yang belum jelas seperti waktu pencoblosan yang tidak tepat, Ia juga sependapat mengenai jadwal Debat Kandidat yang kurang di boomingkan oleh KPR, Ainiyyah berharap agar KPR fokus pada hal-hal kecil seperti waktu dan publikasi yang harus digenjarkan agar semua mahasiswa merasa atmosfer pentas demokrasi (Pemira). 

Perjalanan Pemira memang tak hanya pencoblosan saja, namun ada beberapa tahapannya mulai dari sosialisasi pemilihan raya, pendaftaran & pengumpulan berkas, tes membaca al-quran & wawancara, techical meeting, kampanye, debat kandidat, hari tenang, hingga hari pencoblosan, tak selesai sampai disini masih ada perhitungan suara dan sidang pleno penetapan hasil Pemira. Dari serangkaian tahapan ini, seluruh mahasiswa harus menjadi bagian yang terlibat aktif didalamnya. 

Cut Almira (2017) menegaskan panitia KPR yang kurang dalam mempublikasi kegiatan dan jadwal setiap tahapan Pemira, sehingga ini menjadi salahsatu faktor mahasiswa pasif dan golput dalam pencoblosan. Jadi tugas ialah MPM mencari solusi bagaimana agar melahirkan anggota KPR yang berintegritas dan profesional, alhasil semua mahasiswa Universitas Syiah Kuala merasakan atmosfer pesta demokrasi kampus (Pemira).Inilah sepucuk Harapan kami untuk Pemira Kini. 

Mitha Adisty Putri aktivis mahasiswa Fakultas Kedokteran, Prodi Psikologi, Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.