TamiangNews.com, LANGSA -- Dosen Prodi Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Unsam Langsa, bekerjasama dengan Dosen Prodi Teknik Mesin Fakultas Teknik Unsyiah, meciptakan kincir angin untuk membantu petani tambak tradisional di Desa Alue Kumba, Kecamatan Rantau Seulamat, Aceh Timur.

Foto : Serambinews
Inovasi kincir angin yang dirancang para dosen kedua Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Provinsi Aceh ini, sebagai upaya untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi petambak tradisonal.

Tujuannya agar petani tambak daerah tersebut mampu atau berhasil meningkatkan produksi perikanan khususnya budidaya udang yang menjadi pendapatan ekonomi mereka.

Inovasi kincir angin ini berupa teknologi penyedia oksigen terlarut (DO) bagi tambak udang untuk meningkatkan produktivitas tambak ini, juga mengikutsertakan mahasiswa dari kedua prodi kampus itu.

Pembuatan inovasi kincir angin tersebut dikemas dalam Program Kemitraan Pengabdian Masyarakat (PKM) yang didanai oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Pendidikan Tinggi (Dikti) tahun 2018.

Tim inovasi kincir angin ini diketuai oleh, Suri Purnama Febri SKel MSi, dan anggota tim, Dr Syarizal Fonna ST MSc, Dr Syifaul Huzni ST MSc, Ir Darwin MT dan Teuku Fadlon Haser SPi MSi.

Ketua Tim, Suri Purnama Sari kepada Serambinews.com, Minggu (21/10/2018) mengatakan, saat ini salah satu permasalahan utama yang dihadapi petani tambak di Desa Alue Kumba, sulitnya menjaga kualitas air selama proses budidaya.

Hal ini dikarenakan kualitas air di tambak menjadi menurun akibat penumpukan kotoran, aktifitas bakteri dan lain-lainnya.

Sementara penggantian air baru juga memiliki risiko yang tinggi, karena kemungkinan masuknya virus berbahaya ke dalam tambak.

Sehingga hasil produksi udang petani tambak lebih rendah, dan juga dengan masa panen yang relatif lama.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menjaga kualitas air tambak, adalah dengan melakukan aerasi yang teratur.

Umumnya aerasi pada tambak dilakukan dengan menggunakan kincir air bertenaga listrik.

Namun, ketersediaan listrik menjadi kendala bagi petambak untuk areal tambak udang di Desa Alue Kumba, akibat belum terkoneksinya jaringan listrik.

Melalui kegiatan PKM ini, para dosen ini telah mampu mengembangkan kincir angin, sebagai solusi dalam usaha meningkatkan produksi petani tambak.

Kincir angin ini sebagai penyedia oksigen terlarut pada tambak tradisional, tanpa membutuhkan listrik, tetapi dengan menggunakan tenaga angin.

"Kami harap dengan inovasi kincir angin ini, akan mampu membantu petani tambak di Desa Alue Kumba, untuk mengembangkan hasil budidaya udang mereka," tutup dosen ini. [] SERAMBINEWS


Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.