TamiangNews.com, LIFESTYLE -- Berbagai info yang beredar terkait penularan HIV/AIDS malah semakin menyudutkan orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Padahal, info tersebut kebanyakan mitos . Inilah yang perlu diluruskan. Selama ini ODHA harus hidup dengan berbagai stigma negatif yang ada di masyarakat. Padahal, banyak informasi yang beredar adalah mitos.

Foto : Okezone.com
Menurut dr Adyana Esti, tenaga medis Klinik Angsamerah Jakarta, ada 10 hoax terkait HIV/AIDS yang masyarakat perlu tangkal dan pahami faktanya. “Hal inilah yang perlu diluruskan,” ujar dr Esti. Selain itu, dia menilai masyarakat masih rancu dalam membedakan HIV dan AIDS. Hal ini menciptakan persepsi bahwa orang dengan HIV sudah pasti terkena AIDS dan orang dengan HIV tinggal menunggu waktu untuk meninggal.

“Ini yang salah kaprah di masyarakat. Orang dengan HIV masih bisa hidup normal, asal mendapat pengobatan yang cepat dan tepat. HIV tidak selalu berakhir dengan AIDS, tetapi orang dengan AIDS sudah pasti terserang HIV,” paparnya. Dia menambahkan, HIV adalah jenis virus (Human Immunodeficiency Virus ) yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Virus ini menyerang T cell yang merupakan salah satu bagian sel darah putih yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh saat ada kuman patogen yang masuk ke tubuh, termasuk virus dan penyakit. Bila T cell rusak, tubuh akan kehilangan kemampuan mengenali virus dan bakteri yang masuk ke tubuh.

Sementara AIDS adalah kondisi yang timbul akibat rusaknya sistem pertahanan tubuh karena HIV. Jadi, orang dengan AIDS adalah orang yang terserang HIV. Rentang waktu HIV berubah menjadi AIDS sangat relatif, tergantung treatment dan kecepatan penanganannya. Harapan hidup orang yang terinfeksi HIV bisa selayaknya orang normal bila ditangani dan mendapat pengobatan yang tepat.

Data yang dilansir Ditjen P2P Kementrian Kesehatan pada Desember 2016, infeksi HIV dominan terjadi pada heteroseksual (4.672 laporan yang didapat), hubungan seksual sesama jenis (3.604 laporan), lain-lain (2.448 laporan), dan penggunaan narkoba dengan jarum suntik (360 laporan).

Sementara terkait AIDS, jumlah kumulatif AIDS yang dilaporkan menurut jenis pekerjaan sampai Juni 2016 menunjukkan ibu rumah tangga paling banyak hidup dengan AIDS (11.655 orang), wiraswasta (10.565 orang), karyawan swasta (10.488 orang), dan pekerja seks justru lebih rendah (2.818 orang). Infeksi HIV paling banyak terjadi pada kelompok usia 25-49 tahun dan kelompok usia 20-24 tahun.

Pengobatan Tingkat kan Kualitas Hidup

Guna menghambat aktivitas HIV agar tubuh ODHA memiliki kesempatan membangun sistem kekebalan, maka digunakan ARV. Bila sistem kekebalan tubuh ODHA baik, mampu melawan infeksi yang datang sehingga mereka memiliki kualitas hidup yang baik dan harapan hidup yang panjang. Dengan pengobatan dan kontrol yang baik dan benar, sangat memungkinkan ODHA memiliki pasangan yang bukan ODHA dan tidak menularkan. Begitu juga ibu dengan ODHA bisa melahirkan anak yang tidak terinfeksi HIV.

Sampai saat ini ARV masih disubsidi pemerintah hingga dapat diperoleh gratis. “Akses ARV pun bisa sampai tingkat puskesmas. Diharapkan ke depan semakin banyak ODHA yang mau mengakses ARV. Pemerintah juga perlu menjaga ketersediaan ARV sampai pelosok,” kata dr Esti. Untuk mempermudah masyarakat mendapatkan informasi terkait kesehatan seksualnya, Institusi Angsamerah menyediakan fasilitas dan konsultasi bagi masyarakat.

Bisa Menular lewat ASI

Sementara itu, karena virus ini bisa menular melalui ASI, Ketua Satgas ASI IDAI dr Elizabeth Yohmi SpA IBCLC menegaskan agar tidak sembarangan mendonor atau menerima donor ASI. Tidak main-main, ini berkaitan dengan penularan HIV. Data terbaru HIV di Indonesia menunjukkan tren kenaikan dan kasus HIV tertinggi ketiga adalah pada kelompok ibu rumah tangga. Umumnya ibu rumah tangga ini tertular dari suami dan belum tentu dia menyadari terinfeksi HIV. Bisa dibayangkan jika mereka menjadi pendonor ASI, tentu akan menularkan pada bayi-bayi lain.

Kasus HIV prenatal juga cukup tinggi, yaitu 2,8% transmisi yang mendapatkan virus dari transmisi ibu ke anak. Hasil penelitian tahun 2010 pada 1.091 donor ASI ditemukan sekitar 3,3% hasil skrining serologi mengandung virus sifilis, hepatitis B, hepatitis C, HTLV, dan HIV. [] OKEZONE.COM

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.