TamiangNews.com, JENEWA -- Sebuah panel hak asasi manusia PBB pada Jumat (10/8) mengaku telah menerima banyak laporan tepercaya bahwa satu juta warga etnis Uighur di Cina telah ditahan di satu tempat pengasingan rahasia yang sangat besar.

Foto : Ilustrasi (kumparan.com)
Anggota Komite Penghapusan Diskriminasi Rasional PBB Gary McDougall, mengutip laporan yang diterima, mengatakan sekitar dua juta warga Uighur dan kelompok minoritas Muslim dipaksa menjalani indoktrinasi di sejumlah penampungan politik di wilayah otonomi Xinjiang.

"Kami sangat prihatin terhadap banyaknya laporan tepercaya yang kami terima. Dengan alasan untuk mencegah ekstrimisme relijius dan menjaga stabilitas sosial, (Cina) telah mengubah wilayah otonom Uighur menjadi sebuah penampungan raksasa yang rahasia, seperti sebuah zona tanpa hak asasi," kata McDougall.

Cina mengatakan Xinjiang kini harus menghadapi ancaman besar dari kelompok bersenjata separatis yang telah merencanakan banyak serangan dan memprovokasi ketegangan antara minoritas Muslim Uighur dan mayoritas etnis Han. Seorang delegasi asal Cina menolak berkomentar terkait pernyataan McDougall di Jenewa.

Sementara itu misi Amerika Serikat di PBB mengatakan di Twitter mereka sangat prihatin terhadap laporan adanya penangkapan para Muslim Uighur dan kelompok Muslim lain di Cina. "Kami mendesak Cina segera menghentikan kebijakan yang tidak produktif dan membebaskan mereka yang telah dengan semena-mena ditahan," kata misi Amerika Serikat untuk PBB.

Pada bulan lalu, lembaga Chinese Human Rights Defenders menyatakan dalam sebuah laporan 21 persen dari semua penangkapan di Cina sepanjang 2017 terjadi di Xinjiang. Sebelumnya, Duta Besar Cina untuk PBB di Jenewa, Yu Jianhua, mengatakan tengah mengupayakan kesetaraan dan solidaritas di antara semua kelompok etnis.

Namun, McDougall mengatakan komunitas Uighur dan kelompok Muslim lainnya diperlakukan sebagai musuh negara hanya karena identitas mereka. Lebih dari 100 mahasiswa Uighur yang kembali ke Cina setelah belajar di luar negeri telah ditahan, dan beberapa di antara mereka tewas di penjara.

Fatima-Binta Dah, anggota panel PBB yang sama, sempat bertanya kepada delegasi Cina, "bagaimana tingkat kebebasan beragama bagi kelompok Uighur di Cina, apakah ada perlindungan hukum bagi mereka untuk menjalankan keyakinannya?". [] Republika/Antara

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.