TamiangNews.com, PROBOLINGGO -- Media asing menyoroti pawai TK di Probolinggo yang mengenakan cadar dan membawa replika senjata. Media Singapura, the Straits Times bahkan menyebut-nyebut nama ISIS dalam judul artikelnya.

Foto : Republika.co.id
"Kindergarten in Indonesia dresses children in ISIS style outfits for parade, sparks backlash," tulis Straits Times, Senin (20/8).

Dalam kalimat pembukanya, Straits Times mengungkapkan permintaan maaf dari sekolah TK atas insiden yang memicu kontroversi di publik tersebut. 

Sementara media Inggris, the Guardian, menulis judul "Kindergarten dresses children as jihadis for parade in Indonesia." The Guardian menggambarkan bagaimana aksi parade itu menuai kecaman dari berbagai pihak.

Media Inggris lainnya, Independent, juga membawa ISIS di dalam judul artikelnya. "Kindergarten apologises after children dressed in ISIS-style costumes for Indonesia parade."

Pihak sekolah telah mengklarifikasi dan meminta maaf atas insiden ini. Mereka mengaku tak bermaksud untuk mengajarkan anak-anak terhadap kekerasan. Kostum yang dipakai, kata pihak sekolah, merupakan stok pawai sebelumnya.

Sementara itu Praktisi Pendidikan Najelaa Shihab menyatakan harusnya peserta didik dilibatkan dalam proses pembuatan ide untuk pawai. Karena menurutnya kegiatan pendidikan bukanlah suatu hal yang dapat berdiri sendiri.

"Jadi yang namanya pawai itu (misalnya) kita anggap tujuannya komunikasi hasil belajar," ujar Najelaa.

Maka lanjut dia, sebelum sampai pada tahap komunikasi hasil belajar maka peserta didik harus turut dilibatkan dalam diskusi. Misalnya akan mengangkat permasalahan apa dalam pawai nanti.

"Yuk kita riset dulu sama-sama, diskusi dengan gurunya, nanti pas pawai yang dibawa apa. Jadi bukan sekedar anak-anak itu seperti pajangan, pakai baju yang kebetulan ada dan sebagainya itu bukan proses pendidikan yang ideal," jelasnya.

Sehingga dalam sudut pandangnya, pawai yang baik adalah pawai yang merupakan rangkaian pendidikan pelajar mengajar yang utuh di dalam kelas. Anak-anak pun akan paham dengan kegiatan dan atribut yang digunakannya. "Sehingga tujuannya jelas dan tidak muncul miskomunikasi seperti ini," ucap dia.

Seperti diketahui, telah viral di media sosial anak-anak yang menggunakan pakaian hitam, bercadar, dan membawa replika senjata. Pesan yang ingin disampaikan pihak sekolah justru berbeda dengan pesan yang ditangkap masyarakat. [] REPUBLIKA.CO.ID

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.