TamiangNews.com, FLORA FOUNA -- Hari Konservasi Ekosistem Mangrove Internasional (International Day for the Conservation of the Mangrove Ecosystem) diperingati setiap tahunnya pada tanggal 26 Juli. Peringatan internasional ini sekaligus menjadi pengingat pentingnyapelestarian dan pemanfaatan mangrove lewat pengelolaan bertanggungjawab dan berkelanjutan.

Foto : Mongabay.co.id
Sejatinya, meski penting bagi kawasan pesisir pantai di belahan tropis dan subtropis, dan tersebar di 123 negara atau teritori, hutan mangrove termasuk langka.

Luasan mangrove secara global, -dimana sekitar setengahnya berada di Asia Tenggara, hanya mewakili kurang dari 1% dari hutan hujan tropis di seluruh dunia. Pun luasannya hanya kurang dari 0,4% dari total hutan global.

Ironisnya, fakta menunjukan laju kehilangan hutan mangrove sebesar 3 sampai 5 kali lebih cepat dari kehilangan hutan global. Hal ini juga terjadi di Indonesia yang memiliki sepertiga mangrove dunia.

Dalam kurun waktu tahun 2000-2014, Indonesia tercatat sebagai negara penyumbang kehilangan hutan mangrove terluas di dunia, yakni 4.364 km2 atau sekitar 311 km2 per tahunnya.

Kehilangan mangrove Indonesia dalam kurun waktu 14 tahun tersebut itu setara dengan kehilangan sekitar 120 lapangan sepakbola per hari, 6 kali luas negara Singapura, atau 6,5 kali Jakarta. Kehilangan yang sangat luas. Namun apakah selama ini kita telah peduli?

Dampak Negatif Hilangnya Mangrove

Kehilangan dan kerusakan hutan mangrove telah menyebabkan berbagai dampak negatif ekologi, ekonomi dan sosial. Mangrove yang baik terbukti melindungi pesisir pantai, termasuk manusia yang menghuninya dari hempasan tsunami dan angin badai.

Kerusakan dan kehilangan hutan mangrove sangat merugikan baik secara ekologis maupun sosial-ekonomi. Hal ini terbukti secara ilmiah pada saat terjadi tsunami dahsyat 26 Desember 2004 di Aceh dan Sumatera bagian utara. Fenomena ini sudah lebih dari cukup menjadi bukti betapa penting kawasan mangrove di pesisir.

Hutan mangrove juga merupakan habitat penting bagi ikan, udang, kepiting, burung air, dan mamalia laut. Mangrove tercatat sebagai ekosistem terproduktif dari ekosistem daratan manapun di dunia. Mangrove merupakan awal dari rantai makanan di pesisir pantai.

Produksi udang sangat tergantung pada jatuhan serasah dari bagian mangrove yang mati, seperti daun tua, ranting dan cabang atau batang mangrove, yang menjadi bagian dalam proses alami siklus hidup.

Di negara bagian Florida, Amerika Serikat, sekitar 80% jenis-jenis biota laut yang komersial sangat tergantung pada hutan mangrove. Demikian pula, perikanan tangkap di pesisir timur Australia tergantung sekitar 67% pada hutan mangrove.

Hampir 100% udang yang ditangkap di perairan negara-negara Asia Tenggara pun sangat tergantung pada keberadaan hutan mangrove. Brander et al mencatat bahwa setiap hektar per tahun ekosistem mangrove di Asia Tenggara memberikan keuntungan sekitar USD 4.200 atau sekitar 61 juta rupiah.

Hasil penelitian yang penulis lakukan bersama dengan kolega atas pendanaan dari Kementerian Ristek Dikti (2018) menunjukan bahwa 38% kawasan mangrove di pesisir timur Sumatera bagian utara telah hilang dalam kurun waktu 30 tahun terakhir.

Apa dampaknya? Hampir 70% jenis-jenis biota pesisir yang sebelum tahun 1980-an mudah ditangkap, kini sudah jarang atau tak pernah lagi tertangkap oleh nelayan.

Selain jenis-jenis biota perairan pesisir yang berkurang, populasi ikan juga menurun sehingga menyebabkan hasil tangkap nelayan berkurang. Hasilnya pendapatan nelayan menurun hampir mencapai 50%. Hal serupa juga terjadi di Sulawesi dimana terdegradasinya mangrove menyebabkan penurunan keragaman hayati dan jasa ekosistem mangrove [8].

Kerusakan dan kehilangan mangrove juga memicu pelepasan gas-gas rumah kaca (GRK), seperti korbon diaksida (CO2) dan metan (CH4). Artinya, kerusakan dan kehilangan mangrove menjadi salah satu faktor pemicu pemanasan global karena meningkatkan konsentrasi GRK dimaksud di atmosfir.

Pentingnya Pelibatan Masyarakat

Meski telah dilakukan upaya restorasi, namun laju kerusakan dan hilangnya mangrove di Indonesia masih jauh lebih tinggi dari laju rehabilitasinya. Kegiatan rehabilitasi yang ada dapat dilihat hanya sekedar proyek yang umumnya gagal.

Hasil kajian banyak peneliti menunjukan bahwa tanpa perbaikan kebijakan dan praktik pembangunan di wilayah pesisir, laju kehilangan hutan mangrove di Asia Tenggara dalam beberapa dekade terjadi akibat konversi menjadi lahan pertanian dan perkebunan kelapa sawit.

Di Sumatera Utara, warga dengan pilu memandang hasil rehabilitasi mangrove yang hanya tersisa ajir tanaman di pesisir Deli Serdang. Di lokasi ini, pada tahun 2015, hampir 350 ribu bibit mangrove ditanam pada lahan hampir 27 hektar melalui proyek pemerintah yang dikontrakan kepada pemenang tender. Setahun dan dua tahun berlalu, hampir seluruh bibit yang ditanam mati.

Salah satu masalah dalam proyek rehabilitasi mangrove, karena indikator keberhasilan proyeknya adalah berapa bibit yang ditanam, bukan berhasilnya lahan tersebut dipulihkan. Hal ini tentu perlu menjadi pekerjaan rumah pemerintah dalam menata program serupa.

Sebaliknya, pelibatan masyarakat lokal dalam rehabilitasi mangrove menjadi penting. Masyarakat bukan lagi menjadi obyek atau pekerja saja, tetapi menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Dari bukti lapangan yang dijumpai, saat masyarakat menjadi garda terdepan program rehabilitasi mangrove, maka tak saja mangrove mengalami kepulihan, beragam produk dan jasa pun hadir bermunculan.

Mengingat pentingnya mangrove, maka masyarakat dunia, dan khususnya Indonesia, perlu menata lebih baik pengelolaan hutan mangrovenya.

Kebijakan yang terpadu dan tidak tumpang tindih antara pemerintah pusat dan daerah harus diwujudkan. Pengembangan kawasan pesisir harus berbasiskan hasil-hasil riset ilmiah yang multidisiplin, mempertimbangan berbagai aspek ekologi, ekonomi, sosial dan budaya.

Hal yang tidak kalah pentingnya adalah mangrove berperan dalam menjaga keutuhan negara kepulauan. Oleh karena itu, mengarusutamakan mangrove dalam pengembangan kawasan pesisir tidak bisa ditunda lagi.

Hutan mangrove hasil rehabilitasi oleh masyarakat di Lubuk Kertang, Sumatera Utara yang kemudian didukung pemerintah dan berbagai lembaga kini telah mampu memulihkan lebih dari 500 ha mangrove di kawasan tersebut yang sebelumnya diokupasi secara ilegal menjadi kebun kelapa sawit. Paluh-paluh telah menghasilkan ikan, udang dan kepiting. Kawasan ini sekarang berkembang sebagai salah satu destinasi unggulan di Sumatera Utara. [] MONGABAY.CO.ID

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.