Oleh : Ichsan Nurdin S


Pada tanggal 21 Juli 1947 laskar pejuang Tamiang menerima masyarakat pengungsian yang datang dari Sumatera Utara. Pengungsian ini terjadi pada saat tentara Kolonial Belanda berhasil menerobos sebagian pertahanan Tentara Rakyat Indonesia (T.R.I.) di wilayah Sumatera Utara. Melihat situasi terdesak ini, maka para laskar pejuang menggiring rakyat yang republiken diungsikan ke dua titik pengungsian di wilayah timur Aceh pedalaman Republik Indonesia, salah satu titik ungsi ditetapkan yaitu Pedalaman Tamiang meliputi wilayah pedalaman Kejuruan Muda dan Tamiang Hulu sedangkan wilayah pedalaman Langsa yang meliputi kawasan pesisir langsa.

Masyarakat yang mengungsi terdiri dari orang tua, wanita dan anak-anak dan turut serta barisan-barisan laskar pejuang yang datang dari beberapa daerah di Sumatera Utara dan sekitarnya. Pengungsian ini untuk menghindari tekanan atau menjadi tawanan tentara kolonial Belanda. Dalam penangan para pengungsi tokoh laskar rakyat Tamiang Sdr. H. Burhan Jamil dan Sdr.  Syamsuddin Siregar ditunjuk sebagai koordinator lapangan aksi penyelematan para pengungsian yang bersifat sementara.

Selama berada di pengusian, kesatuan laskar gabungan yang terdiri dari laskar rakyat Tamiang dan laskar rakyat dari Sumatera Utara  mengatur strategi pertempuran  dengan melibatkan kesatuan-kesatuan Tentara Rakyat Indonesia (T.R.I.) dari Batalion IX yang dipimpin Sdr. Mayor Alamsyah, Batalion XII yang dipimpin Sdr. Mayor Burhanuddin dan Batalion XIII yang dipimpin Sdr. Mayor Wiji. 

Untuk memperkuat kesatuan-kesatuan perjuangan tentara Tentara Rakyat Indonesia (T.R.I.) maka pada tanggal 18 Agustus 1947, Batalion IX yang berkedudukan di Rantau membentuk laskar cadangan yang dipimpin langsung Sdr. Syamsuddin Siregar dan laskar cadangan yang baru dibentuk tersebut diberi tugas merekrut kesatuan laskar rakyat diantaranya kesatuan laskar Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) Tamiang, Laskar Mujahidin Tamiang dan kesatuan laskar Nasional Pelopor Indonesia (Napindo) Tamiang selanjutnya mereka dilatih strategi pertempuran oleh tiga batalion tempur dari kesatuan Tentara Rakyat Indonesia (TRI).

Paska terbentuknya laskar cadangan ini, pengawasan militer sekutu diperketat pada saat memasuki wilayah Tamiang. Pada tanggal 23 Agustus 1947, pukul 00.00 komandan Batalion IX Mayor Alamsyah memberi perintah kepada laskar cadangan pimpinan Syamsuddin Siregar untuk membumi hanguskan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Sei Liput yang menjadi objek vital di wilayah Tamiang. Peristiwa pembumihangusan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Sei. Liput terjadi sepuluh hari pembumihangusan Pangkalan Berandan Sumatera Utara. Motif pembumihangusan ini memiliki alasan  untuk menghambat laju pasukan sekutu memasuki wilayah daerah Tamiang dan memutus mata rantai perekonomian kolonial.

* Ichsan Nurdin S adalah Penulis Buku sejarah  “Laskar Rakyat Tamiang dalam Membela Proklamasi Kemerdekaan RI di Wilayah Tamiang Tahun 1945 s.d. 1950”

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.