TamiangNews.com, BRATISLAVA -- Perdana Menteri Slowakia, Peter Pellegrini, pada Rabu (2/5) mencoba menjauhkan pemerintahnya dari laporan media bahwa petugas Vietnam menggunakan pesawat pemerintah Slowakia untuk menyelundupkan pulang mantan pemimpin perminyakan, yang mereka culik di Jerman pada tahun lalu.

Foto : Republika.co.id
Surat kabar Jerman Frankfurter Allgemeine Zeitung pada pekan lalu melaporkan Vietnam diduga menggunakan pesawat Slowakia untuk membawa Trinh Xuan Thanh, yang Jerman katakan diculik di taman Berlin pada Juli. Berita itu dikutip oleh pemberitaan Slowakia.

Thanh, yang mencari suaka politik di Jerman, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada Januari karena melanggar aturan negara dan penggelapan. "Saya menyangkal bahwa Slowakia secara sadar memainkan peran apa pun dalam pengangkutan orang terculik itu," kata Pellegrini kepada wartawan.

"Duta besar Vietnam akan dipanggil ke kementerian luar negeri untuk menjelaskan keadaannya", kata Pellegrini.

Slovakia meminjamkan pesawat pemerintah kepada perutusan Vietnam pada tahun lalu untuk terbang ke Moskow dari Bratislava setelah pertemuan menteri dalam negeri Robert Kalinak dengan menteri keamanan umum Vietnam, To Lama. Rencana perjalanan perutusan itu mendadak berubah.

Kalinak membantah Slowakia berperan dalam penculikan tersebut. "Tidak ada pasien terikat di ranjang atau siapa pun ditahan atau diborgol naik pesawat itu," katanya kepada laman berita Aktuality.sk pada Rabu (2/5).

"Nama orang terculik itu tidak ada di daftar penumpang", ujar Kalinak.

Frankfurter Allgemeine Zeitung melaporkan bahwa mobil yang diduga digunakan untuk penculikan itu diparkir di depan hotel pemerintah, tempat pertemuan Slowakia-Vietnam tersebut diadakan tiga hari sesudah penculikan itu, menurut rekaman GPS.

Thanh, mantan tokoh di Vietnam, yang dituduh melakukan salah urus dan menyebabkan kerugian di PetroVietnam Construction JSC, mendapatkan dua hukuman seumur hidup di Vietnam sejak dibawa pulang.

Perkara Thanh itu adalah bagian dari upaya pemerintah menumpas korupsi, dengan lebih dari 100 orang, kebanyakan dari perusahaan milik negara, dituntut, dipenjarakan dan, dalam beberapa perkara, dijatuhi hukuman mati. [] REPUBLIKA.CO.ID

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.