TamiangNews.com, BANDA ACEH -- Prosesi pernikahan putri Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, dr Latifa Dara Metuah dengan Zakiul Fuady MSc, menjelang pukul 10.00 Kamis (26/4), dengan mahar 20 mayam emas tunai, berlangsung lancar, khidmat, dan mengharukan.

Foto : Serambi
Prosesi penting itu berlangsung di meja serbaputih dan hijaunya taman belakang rumah kediaman pribadi keluarga Irwandi di Jalan Salam Nomor 20 Lampriek, Kuta Alam, Banda Aceh, ditingkahi gemercik air kolan renang, serta disaksikan dua ulama karismatik Aceh, Abu Tumin dan Abu Mudi.

Namun, ada yang patut menjadi catatan, yakni ikhwal jumlah mahar yang diberikan Zaki--panggilan Zaikul Fuady--untuk Dara, panggilan Latifa Dara Metuah.

Seorang perempuan usia 40-an, kerabat dekat dari keluarga Irwandi, kepada Serambi, di sela-sela prosesi akad nikah mengatakan, “Nyan jeunamee dib nan hantom geulakee le bapak. Syit dibi keudroe jih le linto (Mahar sejumlah itu tak pernah diminta oleh bapak. Itu memang diberikan sendiri oleh mempelai pria)”, Bapak yang dimaksud perempuan itu adalah Irwandi Yusuf, ayah mempelai wanita.

Benar, konfirmasi Serambi kepada Darwati A Gani, prinsipnya persis seperti suara kerabat tadi. “Kami nggak pernah menentukan berapa mahar, saat ibunya Zaki nanya sama saya. Saya bilang, semampunya saja. Jangan sampai karena posisi kami sekarang seperti ini (gubernur -red), ibu harus menyiapkan mahar yang tinggi. Zaki juga baru memulai hidup mandiri. Kalau mereka ada rezeki kan untuk Dara juga nantinya” ungkap Darwati seperti dikatakannya kepada Ramlah Hanafiah SPdI (ibunda Zaki).

Seperti kata Darwati pula, Zaki memang belum menjadi pria yang mapan dalam soal keuangan. Putra pertama dari Muzakir SPdI ini belum lama ini tamat dari Universitat Trier Jerman, jurusan environmental sciences. Tapi pria kelahiran Peusangan 18 November 1988 ini sudah menjadi “pegawai” Bappeda. Sebuah harapan bagi rumah tangganya bersama Dara, kelahiran 16 Maret 1993. Paling tidak, seperti harapan kebanyakan orang tua bahwa anak harus lebih tinggi keberhasilannya dari orang tua. Maka satu prestasi pula bagi kedua orang tua Zaki yang guru MIN dan guru SMP di Langsa, tapi berhasil mendidik Zaki hingga layak sekolah ke negeri Hitler.

Memang sangat relatif dan objektif, tapi bisik-bisik beberapa tamu kemarin pagi, Zaki dibilang ganteng dan rasanya baik hati. “Nyan awaknya hana meuceweklah (itu mereka tidak pacaranlah)”, beber salah seorang tamu dari Banda Aceh. Tapi soal ini, lagi-lagi Serambi mendapat konfirmasi dari Darwati. “Mereka ditaarufkan, tapi waktu itu Zaki masih sekolah. Jadi, belum ketemu. Enam bulan kemudian Zaki pulang ke Aceh dan ketemuan dengan Dara. Terus sekitar satu bulan lebih, langsung orang tuanya jumpai saya dan bapak. Awalnya minta tunangan dulu, tapi tunggu selesai sekolah. Alhamdulillah lulus, tak lama tunangan, dan menikah”.

Begitulah, semua berlangsung sederhana. Mulai dari prosesi pranikah dengan properti sederhana, pesta perkawinan yang sederhana dengan pelaminan adat Aceh yang biasa-biasa saja. Hanya resepsi pernikahan yang usai pukul 17.00 WIB itu tamunya yang luar biasa. Ribuan tamu dari masyarakat umum, keluarga, kawan-kawan, anggota partai, relawan, dan ormas-ormas, tumpah ke sepanjang Jalan Salam yang disulap menjadi “ruang” duduk bagi tetamu. Adalah pemandangan tersendiri bila ada tamu yang datang berkelompok dan memilih dress code (kostum seragam) tersendiri. 

Ada putih-putih, warna gading, oranye, ungu, warna bawang, dan gaun-gaun pesta yang semarak. Seru, begitu istilahnya. Minggu (29/4) pukul 20.00 WIB di Gedung AAC Dayan Dawod Darussalam, Banda Aceh, juga dilangsungkan resepsi dengan tamu-tamu luar dari berbagai unsur. Ketentuan tidak menerima papan bunga dan bingkisan apa pun tetaplah berlaku. 

Lalu ada selentingan kabar bahwa pada 11 Mei mendatang, bakal ada pesta perkawinan lagi di kediaman ibunda kandung Dara, Erita Aprianti, di Kabupaten Bireuen. Barakallahu lakum wa baraka alaikum. [] SERAMBI


Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.