TamiangNews.com, BALI -- Dalam 50 tahun terakhir, penggunaan plastik meningkat dua puluh kali lipat. Peneliti dari Universitas Georgia, Amerika Serikat, Jenna Jambeck dalam Jurnal Science 2015 melaporkan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua sebagai negara penyumbang sampah plastik terbesar di dunia.

Foto : Viva.co.id
Salah satu upaya di seluruh dunia untuk mengurangi sampah plastik adalah dengan melakukan daur ulang. Meski industri daur ulang meningkat, laporan World Economic Forum (WEF) menyebut hanya 5 persen dari plastik didaur ulang dengan efektif. 

Sementara itu, 40 persen berakhir di Tempat Pembuangan Sampah (TPA), dan sisanya berakhir di ekosistem seperti lautan.

Dengan fakta itu, diprediksi pada 2050, di lautan akan lebih banyak jumlah limbah plastik dibandingkan dengan ikan yang hidup di dalamnya.

Sementara itu, dalam kajian tentang Analisis Arus Limbah Indonesia, Rantai Nilai dan Daur Ulang yang dilaksanakan oleh Suistainable Waste Indonesia (SWI) pada 2017, terlihat bahwa persentase sampah kota di Indonesia sebanyak 60 persen sampah organik, 14 persen sampah plastik, 9 persen sampah kertas, dan 4,3 persen metal serta 12,7 persen sampah lainnya seperti kaca, kayu, dan bahan lain.

"Berdasarkan komposisi tersebut, terlihat sampah plastik menempati posisi kedua terbesar," kata Direktur SWI, Dini Trisyanti di Jakarta, belum lama ini.

Di sisi lain, penelitian oleh ahli sampah Institut Teknologi Bandung, Enri Damanhuri yang memimpin penelitian serupa di Bali mengatakan bahwa plastik berkontribusi sekitar 14 persen sampah di Bali.

"Sampah plastik di Bali 44 persen belum terkelola dan mencemari lingkungan, 28 persen masuk TPA dan 27 persen sudah didaur ulang," kata Enri.

Foto : Viva.co.id
Sementara itu, dari 268 ton sampah plastik di Bali, sebagai salah satu objek wisata populer, sebanyak 26,1 persen didaur ulang. Proses daur ulang dilakukan di Pulau Jawa, terutama Jawa Timur.

Di sisi lain, Dini menyebut sampah plastik yang tidak terkelola akan merusak sistem ekosistem lingkungan dan berdampak pada kesehatan manusia karena sifatnya yang tidak mudah terurai.

Untuk itu, guna melawan sampah plastik bisa dilakukan dengan mengoptimalkan potensi nilai ekonomisnya. Salah satunya melalui model daur ulang.

Dia menyebut, kini industri daur ulang plastik telah berkembang di Indonesia, terutama untuk jenis plastik yang memiliki nilai ekonomis seperti polyethylene terephthalate (PET) dan polypropylene (PP). Tingkat daur ulang keduanya mencapai lebih dari 50 persen. [] VIVA.CO.ID

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.