TamiangNews.com, TOKYO -- Posisi Perdana Menteri (PM) Shinzo Abe semakin terdesak dan sulit dalam menghadapi skandal penjualan tanah sekolah yang melibatkan istrinya, Akie. Apalagi, kantor PM Shinzo Abe memang menyadari pada awal Maret lalu tentang potensi permasalahan tentang kontroversi penjualan tanah tersebut.


Foto : Sindonews.com
Abe dan Menteri Keuangan Taro Aso menghadapi kritik pedas sejak sejak pengakuan kementerian keuangan pekan ini telah keterlibatan dalam penjualan tanah kepada sekolah. Skandal itu memicu seruan Aso untuk mengundurkan diri. Itu juga memicu dorongan agar Abe ikut bertanggung jawab sehingga kemungkinan kekuasaannya akan terganggu.

Abe berulang kali mengakui kalau dirinya dan istrinya, Akie, membantah terlibat dalam skandal tanah tersebut. Sedangkan Aso juga membantah telah menginstruksikan perubahan catatan dalam laporan penjualan tanah tersebut. Sebelumnya, nama Abe, Akie, dan Aso dihapus dalam catatan penjualan yang dikeluarkan kementerian keuangan.

“Kementerian Pertanahan mengatakan kepada deputinya pada 5 Maret tentang kesenjangan antara dokumen dalam kepemilikan dan materi kementerian keuangan yang sebelumnya diserahkan ke parlemen,” kata Kepala Sekretaris Kabinet Pemerintahan Jepang Yoshihide Suga, dilansir Reuters. “Pada tanggal 6 Maret, apa yang disampaikan deputi itu disampaikan ke Abe,” ujarnya.

Hingga kemudian pada 8 Maret lalu, kementerian keuangan menyerahkan laporan yang beredar luas pada Senin (12/3) lalu. Ketika ditanya kenapa Suga tidak membuat keterangan kementerian tanah itu menjadi perhatian publik, Suga mengungkapkan itu bukan kebijakannya. “Bukan wewenang kita mengonfirmasi dokumen itu,” ungkapnya. 

Dia menjelaskan, dirinya tidak melihat masalah bagaimana kantor PM mengelola kasus ini.

Kubu oposisi Partai Demokratik Konstitusional Jepang mengecam pernyataan Suga. Anggota parlemen dari oposisi Seiji Osaka menyalahkan penjelasan Suga. “Pernyataan itu menyesatkan parlemen,” katanya dilansir kantor berita Kyodo.

Skandal itu melumpuhkan tindakan parelmen. Tapi, beberapa anggota parlemen justru meminta Aso untuk mengundurkan diri. “Melihat situasi terkini, sudah seharusnya dia (Aso) mengundurkan diri sebagai orang yang memegang tanggung jawab tertinggi di kementerian keuangan,” kata mantan anggota parlemen Partai Demokratik Liberal (LDP) Taku Yamazaki kepada harian Nikkei.

Namun demikian, Aso menolak seruan untuk mengundurkan diri. Dia mengatakan kalau pihak yang bertanggungjawab atas penjualan tanah itu adalah Nobuhisa Sagawa, yang telah mengundurkan diri sebagai kepala pajak pada Jumat (9/3) lalu. Sagawa memimpin divisi kementerian keuangan yang mengumpulkan dokumen sebelum dia menjadi kepala badan pajak pada Juli.

Akibat skandal tanah itu, sumber di partai berkuasa menyatakan Aso tidak menghadiri peremuan pemimpin keuangan G20 di Buenos Aires pekan depan. Pasalnya, posisinya menjadi sorotan. Padahal, Jepang berusaha mencari solusi pengenaan tarif impor yang akan diberlakukan Presiden AS Donald Trump.

Mengaku Tak Bersalah

PM Abe tetap mengaku dirinya dan istrinya tak bersalah dalam skandal penjualan tanah. Padahal, oposisi sudah mendesaknya untuk mengundurkan diri.

Ambisinya untuk menjadi PM Jepang yang paling lama menjabat pun sepertinya akan pupus. Padahal, pemilu September lalu mengantarkan LDP mampu memenang pemilu.

Seiring dengan skandal penjualan tanah itu, popularitas Abe pun menukik tajam. Belum ada faktor penentu yang mampu membantu untuk mendongkrak popularitas Abe.

“Jika kamu melihat dokumen, sangat jelas istri saya dan saya tidak terlibat,” ujar Abe kepada komite anggaran majelis atas Jepang, pada Rabu (14/3). Dia kembali menegaskan kalau dirinya siap mengundurkan diri jika ada bukti tentang keterlibatannya.

Berdasarkan dokumen kementerian keuangan, komentar dari sekolah Moritomo Gakuen yang menguti Akie Abe, “ini adalah tanah yang bagus, jadi cepat proses”, telah dihapus. Yasunori Kagoike, mantan kepala sekolah Moritomo Gakuen, dan istrinya masih berada di tahanan setelah ditangkap pada Juli lalu atas skandal tersebut.

Mengenai hal itu, Abe juga berkomentar. “Saya akan mengecek dengan istri saya dan dia tidak mengatakan hal itu. Istri saya tidak memiliki kaitan dengan sekolah atau pun Kagoike. Jadi, dia tidak mengatakan hal tersebut,” ujarnya.

Tetsuro Fukuyama, sekjen Partai Demokratik Konstitusional  mengatakan kalau pihaknya menyerukan pemanggilan mantan ketua Badan Pajak Nasional Nobuhisa Sagawa untuk memberikan kesaksian ke parlemen. Selain itu, anggota parelemen oposisi lainnya, Kiyomi Tsujimoto, juga meminta istri Abe untuk dihadirkan di parlemen untuk memberikan kesaksian.

Catatan Bunuh Diri Terungkap


Seorang pejabat Jepang yang bunuh diri meninggalkan catatan kalau dia dipaksa untuk mengaku bertanggungjawab terkait penjualan tanah yang melibatkan Abe dan istrinya. Catatan itu dilaporkan stasiun televisi NHK. Pejabat itu dikabarkan meninggal dunia pada 7 Maret lalu setelah namanya juga disebut terlibat dalam skandal tersebut.

“Beberapa dokumen terlalu detail. Dan bos saya memaksa saya untuk menulis itu,” demikian catatan bunuh diri tersebut. “Jika ini dilanjutkan, saya akan dipaksa untuk bertanggungjawab sendirian,” lanjut catatan itu. Namun, polisi Jepang menolak berkomentar mengenai hal tersebut. [] SINDONEWS.COM

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.