TamiangNews.com, CHISINAU -- Mantan presiden Rumania Traian Basescu bergabung dengan lebih dari 10 ribu orang untuk melakukan unjuk rasa di ibu kota Chisinau, Moldova, pada Ahad (25/3). Acara ini digelar untuk menggalang dukungan bagi reunifikasi Rumania dan Moldova.

Foto : Republika.co.id
"Kami menyerukan kepada deputi parlemen Moldova dan Rumania untuk melakukan pemungutan suara dalam waktu dekat demi penyatuan kedua negara," kata Basescu dalam unjuk rasa yang bertepatan dengan peringatan 100 tahun Moldova bergabung dengan Rumania Raya itu.

Belum ada reaksi resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah Rumania. Unjuk rasa itu berlangsung damai meski polisi mengatakan mereka telah menahan 21 orang yang ingin membuat kerusuhan, serta menyita masker gas dan pisau.

Persatuan antara Rumania dan negara tetangganya yang lebih kecil itu tampaknya tidak mungkin terjadi. Namun masalah yang ditekankan adalah terpecah belahnya Moldova menjadi faksi pro-Barat dan pro-Rusia, menjelang pemilihan November mendatang.

Moldova adalah bagian dari Tsar Rusia di abad ke-19, yang dikenal dengan nama Bessarabia. Setelah Perang Dunia I, Moldova bergabung dengan Rumania Raya, tetapi dicaplok oleh Uni Soviet pada 1940. Ketika Uni Soviet dibubarkan pada 1991, wilayah ini merdeka di bawah nama Moldova.

Pemerintah Moldova, yang lebih menyukai hubungan dekat dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS), sering bersinggungan dengan presidennya yang pro-Rusia, Igor Dodon. Dodon menginginkan hubungan lebih dekat dengan Moskow dan bergabung dengan serikat pabean yang dipimpin Moskow.

Jika partai sosialisnya memenangkan pemilihan 2018, Dodon akan mengusulkan dikeluarkannya undang-undang yang melarang organisasi serikat buruh. Organisasi ini dianggap merusak integritas negara karena ingin bergabung dengan Rumania.

Dodon telah meminta unjuk rasa penggalangan dukungan reunifikasi tidak digelar di Chisinau. "Saya mendesak semua patriot dan negarawan untuk tidak berbaris mendukung serikat buruh pada 25 Maret. Kita seharusnya tidak memberi mereka alasan tambahan untuk melakukan demonstrasi atau provokasi," kata Dodon. [] REPUBLIKA.CO.ID

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.