TamiangNews.com, DENPASAR -- Sebuah penelitian menemukan kenapa tiap tahun terjadi kematian massal ikan hasil keramba di Danau Batur, Bali. Tak hanya karena belerang.

Foto : Mongabay.co.id
Nyaris tiap tahun, para pembudidaya ikan nila dan mujair di Danau Batur yang jadi salah satu bahan pangan kuliner terkenal dari Kabupaten Bangli ini menghadapi ancaman. Ikan-ikan mati mengambang memenuhi keramba mereka.

Pada sasih (bulan) lebih dingin, sedikitnya ratusan ribu ikan mati dan mengambang dalam waktu hampir bersamaan. Perubahan massa air membuat belerang dan amonium residu pakan ikan naik ke permukaan. Air danau berubah keputihan. Amonium jadi racun dan belerang ikat oksigen sehingga ikan-ikan sumber pangan ini keracunan dan tidak bisa bernafas. Mati dalam semalam. Tidak serempak, tergantung suhu tiap keramba.

Hal ini disampaikan Gede Raka Angga Kartika dari Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana, salah satu penelitinya saat bersua Mongabay Indonesia. Riset ini berjudul “Kajian Daya Dukung Dan Zonasi Keramba Jaring Apung (KJA) di Danau Batur, Kabupaten Bangli” kerjasama dengan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangli. Dipublikasikan Desember 2017 dengan tim peneliti ketua Prof I Wayan Arthana, beranggotakan Dr. Gde Astawa Karang, Dr Pande Gde sasmita J, Gde Raka Angga K, MP dan Made Ayu Pratiwi, M.Si.

Danau Batur adalah kaldera gunung Batur yang meletus di masa lalu. Karena itu kadar belerang masih ada. Situasi ini jadi ancaman karena risiko penumpukan residu pakan ternak bercampur feses ikan. Residu ini terus tertimbun didasar danau tak terurai, karena tak difilter.

Suka Merta, salah satu warga yang pernah mengalami kematian massal ikannya ini menyebut penyebabnya alami karena letusan belerang dari bawah danau sekitar Agus-September. “Waktu itu ikan saya mati sekitar 7000 ekor atau 85% per lubang keramba,” ujarnya. Ia mengaku belum tahu cara mencegah kematian massal lagi.

“Warga harus mulai mengelola kerambanya untuk kurangi risiko,” kata Raka, peneliti muda ini. Misalnya desain keramba apung ramah lingkungan untuk mengurangi timbunan ammonia, dengan menggunakan filter agar sisa pakan dan kotoran ikan tak jadi sedimentasi dan mudah dibersihkan. Kemudian mengatur letak keramba agar lebih estetis menggunakan materi alami dan sekelilingnya diisi tanaman air yang bisa mengurangi cemaran.

Tentang ikan mati, jika sudah fase membusuk diharapkan tak dimakan walau zat-zat racun itu hanya membunuh ikan. Kondisi tanpa oksigen di perairan danau sudah terjadi pada kedalaman rata-rata 5 meter dari permukaan danau, jadi pertimbangan dalam menentukan ukuran kedalaman jaring KJA adalah kurang dari itu.

Pengamatan parameter kualitas air dilakukan di 4 lokasi pemanfaatan perairan dekat buangan limbah pariwisata, pertanian, pemukiman dan keramba jaring apung (KJA). Variable kualitas air yang diamati yaitu Amonimum, Nitrit, Sulfida, Sulfat, dan Phospat. Hasil pengukuran dibandingan dengan baku mutu standar perairan Kelas II (PP No.82/2001 dan Pergub Bali No. 8/2007). Hasilnya, nilai kandungan Nitrit, Sulfida dan Sulfat sudah melebihi ambang baku batas diperbolehkan, hanya nilai kandungan phospat masih di bawah ambang baku mutu. Hal ini mengindikasikan kandungan phospat di Danau Batur masih berada pada batas aman dan belum memberikan dampak negatif terhadap kualitas air.

Penelitian ini menyimpulkan area KJA ideal seluas 1% atau seluas 16,075 Ha. Jika diperkirakan jumlah maksimal lubang KJA 4×4 meter persegi sebanyak 10.047 lubang. Berdasarkan observasi di lapangan dengan penyuluh perikanan Kabupaten Bangli serta perwakilan pembudidaya KJA di Danau Batur, jumlah KJA yang terdapat di perairan Danau Batur sebanyak 10.265 lubang KJA dengan jumlah KJA aktif sebanyak 8.592 lubang KJA berukuran 4 x 4 meter2 yang tersebar hampir di seluruh sisi kawasan perairan. Jadi memungkinkan adanya penambahan kegiatan budidaya KJA di Danau Batur, terutama memprioritaskan pada KJA yang tidak aktif beroperasi.

Berdasarkan kajian diketahui bahwa beberapa area telah memenuhi kesesuaian untuk penempatan KJA yaitu disekitar area Pesisir Songan, Batur Tengah dan pesisir Abang Songan hingga wilayah pesisir Desa Trunyan, sedangkan wilayah pesisir Kedisan, Buahan, dan Abang Batudinding kurang sesuai menurut parameter kualitas air. Penempatan unit KJA hendaknya tidak dilakukan di dekat 3 lokasi yang menjadi pusat kegiatan ritual keagamaan di Danau Batur yaitu di dekat Pura Jati, Pura Ulun Danu dan dekat kawasan Setra Trunyan.

Laporan penelitian ini menyebutkan Danau Batur merupakan salah satu dari 15 danau prioritas nasional di Indonesia bersama beberapa danau lainnya yaitu Danau Toba, Maninjau, Danau Singkarak, Kerinci, Tondano, Limboto, Poso, Tempe, Matano, Semayang Melintang Jempang, Sentarum, Sentani, Rawadanau, dan Rawapening (KLH, 2011). Hal ini ditetapkan pada saat Konferensi Nasional Danau Indonesia (KNDI) I pada 13 Agustus 2009 di Denpasar.

Kontaminasi bahan pencemar yang berasal dari aktivitas, pertanian, perikanan, maupun kegiatan rumah tangga disebutkan menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air yang signifikan pada danau. Terdapat 7 jenis ikan di Danau Batur yakni Mujair, Nila, Louhan, Gabus, Wader, Lele, dan Tawes. Namun berdasar survei hasil tangkapan pada 22 nelayan di Danau Batur hanya ditemukan 4 jenis ikan hasil tangkapan, yakni Nila, Nila Kuning, Mujair, dan Tawes.

Sejumlah rekomendasi peneliti untuk budidaya yang lebih aman, kedalaman jaring KJA sebaiknya dibuat lebih pendek dari 5 meter yaitu 3,5 meter untuk menghindarkan ikan kekurangan oksigen. Selain itu dilengkapi jaring halus bagian bawahnya untuk menampung sisa pakan, feses ikan maupun ikan mati sehingga bisa meminimalisir tambahan materi organik pada dasar perairan danau.

Selanjutnya untuk mengurangi polutan, pada masing-masing unit KJA dirancang dengan tanaman menggunakan sistem akuaponik. Tanaman yang ditumbuhkan bisa berupa jenis sayuran ataupun tanaman air lainnya yang berbunga. Tanaman diharapkan memanfaatkan nitrat sebagai nutrien, sehingga keadaan tanpa oksigen bisa diperkecil dan pertumbuhan ikan lebih maksimal.

Setiap pemilik KJA diharap melakukan pengukuran rutin suhu permukaan air di KJA terutama pada bulan Februari, Juni, Juli, dan Agustus. Untuk mendapatkan peringatan dini kemungkinan terjadinya pembalikan masa air danau (overturn) terutama ketika suhu permukaan danau sudah mendekati suhu 23 derajat celcius.

Selain itu perlu pengaturan jadwal penebaran ikan antar kelompok untuk menghindari panen bersama dan kebutuhan benih dalam jumlah banyak dan waktu yang bersamaan. Jenis-jenis spesies ikan yang populasinya sudah sedikit tetapi sangat berperan menjaga ekosistem Danau Batur yaitu jenis wader (Rasbora sp) dan gabus (Channa sp) sebaiknya tidak ditangkap karena jumlahnya sedikit dan sulit restocking.

Raka menyebut akan dibuat demplot KJA Taman Surga dengan pola unik sebagai uji coba bahwa budidaya ramah lingkungan juga bisa memberi penghasilan tambahan lain. [] Mongabay.co.id

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.