TamiangNews.com, PYONGYANG -- Korea Utara (Korut) mengatakan bersedia untuk berdialog dengan Amerika Serikat (AS) mengenai isu-isu yang menjadi perhatian bersama. Meski begitu, Pyongyang tidak akan menerima prasyarat untuk memulai perundingan tersebut.


Pernyataan tersebut disampaikan beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Senin bahwa pemerintahannya dapat mengadakan pembicaraan dengan Korut, namun hanya dalam kondisi yang benar. Itu berarti Korut pertama-tama harus melakukan denuklirisasi, kata pejabat Amerika Serikat.

Korut, bagaimanapun, mengatakan bahwa perundingan harus didasarkan pada pijakan yang sama antara dua negara.

"Dialog yang kami inginkan adalah yang dirancang untuk membahas dan menyelesaikan isu-isu yang menjadi perhatian bersama pada pijakan yang sama antara negara-negara," kata Kantor Berita Pusat Korut yang mengutip juru bicara Kementerian Luar Negeri Korut. 

"Tidak ada kasus sama sekali di mana kami duduk bersama AS mengenai prasyarat apapun, dan ini juga akan terjadi di masa depan," tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri Korut dikutip dari New York Times, Minggu (4/3/2018).

Pernyataan tersebut mencerminkan desakan Korut yang telah berlangsung lama bahwa pihaknya akan melibatkan Washington hanya jika diperlakukan sama setara dengan kekuatan nuklir. Korut mengklaim memiliki kekuatan nuklir setelah melakukan uji coba nuklir keenam dan meluncurkan rudal balistik antar benua tahun lalu.

Pejabat AS mengatakan bahwa Korut telah menggunakan negosiasi masa lalu untuk memenangkan konsesi ekonomi sambil terus meningkatkan program senjata nuklirnya. AS bersikeras bahwa kali ini tidak akan memulai dialog sampai Korut mengambil langkah pertama yang meyakinkan Washington akan kesediaannya untuk menegosiasikan senjata nuklirnya.

Bersumpah untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu, pemerintah Trump mengatakan bahwa bahkan jika perundingan dimulai, ia akan mempertahankan kampanye tekanan dan sanksi "maksimum" sampai Korut melakukan denuklirisasi. Trump juga mengancam akan menggunakan kekuatan militer jika diplomasi gagal mengakhiri krisis nuklir.

Korut mengatakan bahwa pihaknya tidak akan mengakhiri program senjata nuklirnya. Pyongyang beralasan mereka didorong untuk mengembangkan pencegah nuklir karena "permusuhan" Amerika. Mereka menuntut agar Washington pertama-tama menerimanya sebagai negara nuklir sebelum membahas cara-cara pencairan ketegangan di Semenanjung Korea.

Presiden Moon Jae-in dari Korea Selatan (Korsel) telah mendesak baik AS dan Korut untuk melunakkan sikap mereka sehingga perundingan bisa dimulai untuk meredakan krisis, yang tampaknya mendorong Semenanjung Korea ke ambang perang pada tahun lalu. Ia pun berencana untuk mengirim utusan khusus ke Korut segera untuk menemukan cara mempersempit kesenjangan antara AS dan Korut mengenai persyaratan di mana mereka dapat memulai sebuah dialog.

"Kami memiliki niat untuk menyelesaikan masalah dengan cara diplomatik dan damai melalui dialog dan negosiasi, namun kami tidak akan meminta dialog dan menghindari opsi militer yang diklaim oleh AS," kata juru bicara Korut. 

"Kami memiliki kemampuan dan kemauan penuh untuk menghadapi pilihan yang disukai oleh AS," tukasnya. [] Sindonews.com

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.